Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 43


__ADS_3

****


Romi menepati kata katanya, untuk mendatangkan kembali Om dan ibunya, Bu Alvi. Ditambah lagi Fani, Sandi, suami Fani, dan Christian, suaminya Yemima pun ikut juga. Safa, anak mbak Fani, Shila dan Rima, sedang bermain boneka di teras rumah dengan riang.


"Sesuai kesepakatan, pernikahan akan berlangsung dua bulan lagi, di halaman rumah ini!" ucap Om Gun, Omnya Romi. Dan semua mengangguk setuju. Halaman rumah Bu Kanti cukup luas untuk membangun tenda pernikahan, karena Kedua orang calon pengantin sepakat untuk tak mengundang banyak orang. Yang penting sah, baik menurut agama maupun negara.


"Nah, sekarang saat nya memasang cincin pertunangan." ucap Om Gun lagi, membuat Yuli mengerutkan kening dan menatap Romi, yang ditatap hanya senyum senyum saja. Romi terlihat gagah menggunakan baju batik couple dengan yang di kenakan Yulia dan Shila. Beda dengan yang di pakainya tempo hari.


Selama acara di laksanakan, tatapan mata Romi tak lepas dari sang pujaan hati yang sebentar lagi resmi menjadi tunangannya. Bibirnya tak henti tersenyum, hingga saat Om Gun meminta untuk mendekati Yulia untuk acara tukar cincin, Romi gelagapan. Semua orang mengulum senyum melihat tingkah Romi, tak terkecuali Yulia. Ia ingin tertawa sekaligus malu malu saat Romi di tegur oleh om Gun.


"Waah ini calon pengantinnya kayak yang udah gak sabar aja. Ayo Rom, waktunya tukar cincin!" goda Om Gun. Dan semua orang menjadi tertawa. Agak malu Romi pun mendekati Yulia dan duduk di kursi kosong di sebelahnya.


"Mas, yang kemarin sudah, kenapa di pakein cincin lagi?" bisik Yulia saat Romi mendekat dengannya.


"Yang kemarin cincin biasa sayang, kalau yang ini cincin tunangan. Yang pake bukan hanya kamu, tapi aku juga!" jawab Romi berbisik juga. Walau masih bisa di dengar oleh orang di sekitarnya.


"Mana jari manis tangan kananmu!" Yulia menurut, menyodorkan tangan kanannya. Dan Fani, menjadi juru kamera dadakan, berkali kali membidikkan kameranya, memotret momen pertunangan mereka.


Setelah acara tukar cincin, acara pun di tutup oleh doa dari seorang ustadz yang bertempat tinggal tak jauh dari rumah Bu Kanti.


"Akhirnya bang Romi bakal nikah juga. Selamat ya, Bang! Semoga lancar sampai hari H nanti!" ucap Chris agak berbisik pada Abang iparnya.


"Terima kasih Chris, ya namanya juga belum ketemu jodohnya. Di paksa pun juga gak bakalan bisa, hehehe!" Romi nyengir sambil garuk kepala. Satu persatu tamu di persilakan untuk mengambil makanan yang telah disediakan.


"Ayo, Yul! Ambilkan makan buat calon suami kamu!" mbak Dila berbisik tepat ditelinga Yulia, yang membuat Yulia langsung mengusap kuping dan agak menjauhkan kepalanya.


"Ih, mbak Dila! geli ah. Jangan bisikin kayak gini, merinding tahu!" omel Yulia. Mbak Dila hanya tertawa lirih sambil menyerahkan piring di tangannya.


"Makasih, ya sayang!" ucap Romi menerima piring dari Yulia.

__ADS_1


"Apaan sih mas, sayang sayang! Geli juga dengernya!"


"Aku gak tahu makanan kesukaan mas Romi, maaf! Jadinya aku ambilin yang mas Romi pernah aku lihat makan aja!" Yulia mengambilkan Romi nasi dan ayam sambal kecap serta semur daging dan kentang.


"Ini sudah cukup. Apapun makanan yang kamu berikan padaku akan ku makan. Apalagi yang masak kamu! saya yakin tambah sedap karena di tambah bumbu cinta!" ea ea...


"Apaan sih, mas Romi dari tadi ngegombal mulu." Yulia tersipu, apalagi sepertinya beberapa orang mendengar gombalan romi. Bahkan Sandi, suaminya Fani berdehem dengan keras.


"Ehemmm, jadi gerah nih! denger ada yang ngegombal dari tadi. Ada calon bucin nih kayaknya ya Chris?" Sandi meminta persetujuan Chris yang ada di sampingnya. Mereka berdua pun tertawa bersama.


"Kalian berdua ya, sirik aja!" ketus Romi, membuat keduanya orang itu malah tambah kencang tawanya.


"Eehh, jadi pengen cepet pulang nih aku, mana jauh lagi, istri juga baru melahirkan juga!" Chris berkomentar. Masih dengan tawa berderai.


"Ihh, udah ah! Aku mau nyuapin Shila sama Rima!" Yulia berlalu pergi mengambil nasi dan lauk untuk makan Shila.


"Kalian ini, jadi di tinggalkan aku!" Romi mengomel pada ipar dan sepupunya itu.


"Nanti aku kasih nomer aku mbak Dila. Mbak Dila kasih aku sampel gamis yang bagus, dari bahan kain yang enak di pakai." mereka terlihat serius dengan pembicaraannya dan sama sama melihat hapenya. Tak lama wajah mbak Fani berbinar.


"Mbak Dila, di Story WA kamu gamisnya bagus bagus. Yang ini kelihatan keren, bahan kainnya juga menyerap keringat nih, pesen dong mbak Dila, yang warna mustard apa yang lilac ya ini? Duhh! jadi bingung..Aku suka kedua warna itu." ucap mbak Fani antusias.


"Kenapa gak dua duanya mbak! Kan bisa buat ganti, harga jauh lebih miring kok mbak, dari yang di jual di butik, kualitas kainnya juga gak kalah kok!" terdengar dari telinga Yulia, ternyata ada yang memanfaatkan momen ini untuk bisnis.


Sementara di tempat lain.


"Wahyu, anak kamu nangis terus tuh, diemin lah, di kasih susu kek, di kasih apa kek buat dia gak nangis. Pusing kepala ibu, Yu!" cela ibu saat mendengar cucunya terus menangis saat ia menjaganya. Saat ini Wahyu baru saja pulang kerja lalu mandi. Namun wajahnya terlihat kusut. Ia kurang tidur karena semalam anaknya juga rewel.


"Bu, aku tuh laki laki, mana bisa aku diemin dia, dari kemarin juga udah di gendong, di kasih susu. Bahkan semalaman Wahyu cuma tidur beberapa jam. Tolong dong Bu! Ibu 'kan pernah punya bayi, pasti lebih bisa bikin bayi diam." Wahyu tak mau kalah dengan ibunya. Ia merasa sudah bekerja di siang hari, masa malam hari dia juga harus begadang terus, karena bayinya sering rewel?

__ADS_1


"Tapi 'kan, itu dulu Wahyu, waktu kamu masih bayi. Ya udah kagok, lama gak megang bayi, suruh ngemong cucu!" sang ibu tak kalah keras suaranya. Dan bayi Wahyu pun semakin kencang tangisnya di samping sang nenek.


"Ini bagaimana bayi gak rewel, orang kalian momongnya juga gak ikhlas, sambil ngedumel, ngomel ngomel nggak jelas." Ayahnya Wahyu tiba tiba datang ke kamar dan menggendong cucunya yang menangis.


"Cup cup sayang! Maafin Nenek sama Ayahmu ya sayang! Mereka belum sadar rupanya! Atas apa yang mereka perbuat selama ini." Ayahnya Wahyu menimang cucunya, sambil menggoyang goyang badannya hingga bayi itu merasa nyaman di gendongannya dan mulai diam, sepertinya bayi itu mengantuk.


"Apa? apa maksud ayah bicara seperti itu?" ibu meradang, merasa suaminya sedang menyindirnya.


" Hhhh, Bu! ibu sadar gak sih, bukannya ibu yang ngejar ngejar Wahyu supaya dia menikah lagi karena ibu ingin segera punya cucu? Bahkan ibu pengaruhi Wahyu untuk menceraikan Yulia tanpa alasan yang jelas, ibu membenci Yulia tanpa alasan. Sekarang, setelah cucu ibu lahir, kenapa ibu cuek gini sama cucu sendiri? Mana dia sudah gak ada ibunya lagi!"


"Ingat Bu! Ibu berdosa pada Yulia, menantu kita dulu sangat baik. Dia tak pernah mengeluh dengan perlakuan ibu padanya. Bahkan saat diceraikan sama anak kita, dia juga tak mendapatkan haknya setelah dicerai, nafkah mut'ah dan nafkah saat masa Iddah adalah hak Yulia. Tapi apa yang dia dapat? Sepeserpun Wahyu tak memberikan haknya, buka mata kalian, Bu! Dan kamu juga Wahyu!" Ayah meletakkan bayi itu. Wahyu hanya diam saja, matanya menerawang jauh.


"Ayah selama ini diam saja, karena ayah tak ingin bertengkar dengan kalian. Ayah lebih memilih mengalah karena apapun yang ibumu inginkan, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya. Ayah tahu, ayah lemah. Ayah berdosa juga. Harusnya Ayah bisa membimbing kalian, menjaga kalian agar tak terjerumus ke dalam api neraka. Astaghfirullahaladzim...!" Ayah terisak.


" Ayahmu ini, ngomong apa coba, hhhh tambah pusing ibu. Ngelantur gak jelas. Sudahlah.... ibu mau tidur. Bisa darah tinggi ibu lama lama!" Sang ibu meninggalkan Wahyu, suami beserta cucunya yang sedang tidur di boks bayi. Wahyu masih tetap diam. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.


"Bahkan jika kamu tahu Wahyu, dulu saat kamu masih bayi. ayahlah yang sering begadang menunggumu jika kamu rewel dan menangis di malam hari. Bahkan tak jarang, ayah harus memastikan kamu sudah mandi dan sarapan, sebelum Ayah berangkat ke kantor."


"Sepulang kantor pun begitu. Kalau ibumu tahu ayah pulang lebih awal, maka kamu dengan sengaja belum di mandikan oleh ibumu. Hingga Ayah juga yang memandikanmu di sore hari."


"Jadi, lebih baik kamu jangan berharap ibumu akan turut andil banyak. Sebaiknya kau mencari seorang Babysitter!" Wahyu menoleh pada Ayahnya.


"Selamat ya, selamat untuk seumur hidupmu yang akan cuma jadi Babysitter anak orang!"


Wahyu mengingat kata kata itu pernah ia lontarkan dengan begitu jahatnya.


\=\=\=\=\=\=\=


Author minta maaf, akhir akhir ini sering telat up. Real life sedang tak bisa ditinggalkan.

__ADS_1


I Love You All


\=\=\={{{{\=\=\=\=\=}}}}}\=\=\=\=\=\={}


__ADS_2