
Tok tok tok!
"Iya..! sahutan terdengar dari dalam.
Ceklek...
Pintu terbuka.
"Andre..! Ckk, ngapain kamu kesini lagi?" seru Yesi dengan gusar. Namun orang dihadapannya yang membuatnya kesal malah senyum senyum gak jelas. Dengan kedua tangannya ada dibelakang punggung.
"Iih, aku datang bukannya disambut dengan mesra, malah kesel gimana sih!" Yesi memutar bola matanya.
Disambut mesra. Emang siapa elu?
Andre lalu menarik tangan kanannya, ternyata ia sedang membawa setangkai bunga mawar merah yang merekah dan wangi.
Sepersekian detik Yesi ternganga, takjub dengan perlakuan Andre. Namun sejurus kemudian ia memasang wajah biasa. Berusaha menguasai diri.
"Ini buat kamu! Special for you! Only you!" ucap Andre tersenyum lebar. Yesi masih diam tak bergeming diambang pintu. Seakan tak terkesan dengan apa yang dilakukan Andre. Padahal dalam hati ia sudah klepek klepek. Ia hanya ingin tahu sejauh mana Andre memperjuangkan dirinya, atau memang benar hanya untuk pelarian.
"Kenapa? Ambillah, ini aku bawa memang khusus buat kamu!" masih berusaha tersenyum manis walau Yesi tak juga menerimanya.
"Please! Terimalah Yesi! Aku yakin kamu suka bunga. Iya, kan! Perempuan kan suka bunga. Please diterima!" Dengan ogah ogahan Yesi menerima bunga itu.
"Makasih!"
"Untung elu temen, jangan geer dulu sebab aku terima bunga dari kamu!" ucapnya menutupi rasa senang.
"Dicium, dong!"
"Haah, apanya. Gak usah macam macam ya!" ancam Yesi yang betah mendelikkan mata. Jika bertemu Andre entah mengapa ia menjadi singa betina.
"Aku gak macam macam kok, karena aku cuma satu macam. Maksud aku tuh itu dicium bunganya!"
"Bunganya, ya!"
Yesi tersenyum tipis lalu mencium bunga itu.
Harum.
Namun ia berekspresi biasa saja.
"Gimana?"
"Gimana apanya? Ya biasa ajalah! Bunga rose ya emang baunya seperti ini, kan?" Kini gantian Andre yang memutar bola mata.
"Ya nyiumnya pake perasaan lah! Dihayati gitu! Tapi ya, udahlah! Kamu memang gak bisa diromantisin ternyata."
__ADS_1
" Perempuan tuh biasanya kalau dikasih bunga seneng, langsung diterima terus bilang makasih sambil mencium bunganya. Lah ini, kamu malah ngajak debat didepan pintu.
Suruh masuk dulu, apa kek!"
Yesi nyengir mempelihatkan gigi kelincinya, ia lalu menyingkir dari depan pintu untuk memberi ruang Andre masuk rumah.
"Ya udah deh, masuk dulu!"
"Naah, gitu dong!"
"Padahal mah, gue mo usir elu tadi!" ucapnya tanpa rasa bersalah.
"Gak usah banyak komen, atau gak jadi gue kasih masuk rumah, nih." Yesi meradang lagi. Yang ditanggapi cengiran dari Andre.
"Seperti kataku kemarin waktu kesini, aku mau ngajak jalan!"
Hhhh!
Yesi mendesah panjang.
"Pergi aja, Yesi! Kamu juga butuh refreshing!" ucap seseorang tiba tiba dari balik pintu.
"Mama..!" protes Yesi saat menoleh karena ternyata yang datang mamanya.
"Hehehe, Mama baru naik, terus gak sengaja denger nak Andre ngajak kamu keluar. Turutin aja, malam minggu waktunya bersantai. Iya, kan nak Andre!" cerocos Mama Yesi sambil berdiri tersenyum, kedua tangan menekan pada sofa tunggal didepannya.
Andre tersenyum menang mendapat dukungan dari Mama Yesi.
"Ya udah gih! Malah bengong. Ganti baju sana, dandan yang cantik. Walaupun anak Mama ini selalu cantik meski gak dandan sekalipun!" puji sang ibu membuat Yesi merengut.
Ia pun berdiri lalu bergegas ke kamar ya.
"Makasih, Tante!"
"Iya, sama sama nak Andre. Yesi memang begitu. Judes anaknya. Mangkanya gak pernah punya pacar, pada takut kali, gak ada cowok yang betah deket dia. hehehe!"
"Tapi kalau udah bisa akrab sih, ia bisa berubah dengan sendirinya. Yang sabar!"
Butuh waktu lima belas menit untuk Yesi ganti baju dan menyapukan make up ke wajahnya. Make up natural yang membuatnya tambah cantik di mata Andre.
"Yuk! jalan sekarang!" Yesi hanya diam saja mengikuti langkah Andre.
"Mamaa! Yesi pergi dulu!" pamit Yesi pada Mamanya setengah berteriak.
Sang ibu dikamar pun menjawab setengah teriak pula. Di malam Minggu sebelumnya, biasanya ayah dan ibunya akan naik, lalu makan bertiga, dan setelahnya melakukan quality time setiap malam Minggu dengan Yesi, anaknya. Namun berempat untuk malam minggu sebelumnya, seperti saat ini Andre datang.
"Mobilku ada diseberang jalan, karena tadi tempat parkirnya penuh." tanpa diminta Andre mengatakannya, lalu menangkap tangan Yesi untuk dia genggam sambil menyeberang.
__ADS_1
"Ih, aku bukan anak kecil, Ndre! Aku bisa nyebrang sendiri!" ucapnya ketus. Namun Andre tak menggubris.
"Ish, aku cuman pegang tangan kamu juga! Gak ada yang bilang kamu anak kecil. Ayo, kita nyebrang sama sama." Yesi yang tadi berusaha melepas tangannya pun akhirnya hanya bisa pasrah.
Begini ya, rasanya punya orang yang dikasihi. Jalan jalan sambil gandengan tangan, ok juga! Namun hanya dalam batin Yesi. Begitu juga Andre. Senyumnya mengembang sambil menengok kiri kanan, memastikan tak ada motor atau mobil yang tiba tiba nyelonong saat mereka menyeberang.
####
Romi memperhatikan istrinya uang sedang menyusui baby Kia. Mulut mungilnya dengan rakus menyedot pu ting bagian kiri ibunya. Rasanya, semua ibu pasti pernah mengalami bagaimana rasanya. Geli pastinya ya, hihihi...
Hhuh, ini rasanya kayak yang enak banget. Kia sampai lahap gitu! Romi.
" Kenapa, mas?" Yulia melihat suaminya berkali kali menelan ludah menatap anaknya yang menyusu. Romi hanya tersenyum lebar ketahuan istrinya menatap sumber nutrisi milik bayinya yang dulu hanya ia yang melahapnya, dan kini harus berbagi dengan sang bayi.
"Mmm, sayang! kenapa gak disadur susu formula sih, biar kamu gak payah nyusuin kalau malam malam. Tinggal dibuatin su for, Nutrisinya juga gak kalah kan, sama ASI? Dulu Shila juga full Susu formula!" usul Romi yang sering melihat istrinya kesusahan, buru buru bangun karena baby Kia terbangun dan menangis kencang karena merasa haus. Padahal ia baru saja terlelap dan terlihat sangat letih.
Dan juga, biar jatahnya tak semua diambil baby.
Romi sudah ingin membuatkan susu formula tadi, biar istrinya istirahat saja, bergantian merawat si kecil. Ia sudah terbiasa dulu saat Shila masih bayi, ia merawatnya sendiri bersama sang ibu, terkadang ibunya Dina alias mertuanya juga suka membantu merawat Shila.
Namun karena sebuah penyakit yang beliau derita telah menggerogoti raga, ibunya Dina meninggal saat usia Shila menginjak umur lima tahun. Selang beberapa bulan sebelum bertemu Yulia dan Romi menikahinya.
Yulia mendecak
Ya iyalah, Shila full susu formula. Kan ibunya meninggal setelah melahirkan dia! Memang mau nyusu sama siapa?
"Mas, aku tahu nutrisi su for memang bagus. Tapi, akan lebih bagus lagi kalau aku ngasih ASI full sama ajak kita. Lagian, aku juga gak kemana mana, lebih baik di kasih ASi saja."
"Mau bagaimanapun baiknya susu formula, masih tetap ASI yang terbaik!"
"Ini juga udah tumpah ruah. Liat mas, yang sebelah kanan ini sampai basah dan tembus baju. Lagian gratis lagi. Kenapa harus su for?"
"Iya, aku juga tahu, kok! Aku cuman usul, kalau malam disadur susu formula, biar kamu lebih tenang tidurnya. Gak bolak balik kebangun malam ngasih ASI. Kan kualitas tidur kamu juga harus baik, biar kamu tetap fresh di siang hari, biar tetep sehat. Kalau kamu sampai sakit karena kurang tidur, bukan cuman kamu yang susah, kita semua juga susah karena aku maunya kamu sehat terus. Belum lagi kalau aku kepingin ganggu tidur kamu, aku kan juga butuh di servis!"
"Ya ampun, mas! Semua perempuan juga pernah ngalaminya. Atau jangan jangan kalimat kamu yang terakhir itu yang jadi prioritas utama.
Biar aku lebih fresh kalau ngelayanin kamu, Kan! Ayo ngaku!" tuding Yulia sambil menunjuk muka suaminya yang nyengir kuda.
"Hahaha, jelas itu sayang! Kalau itu sih kebutuhan primer aku, gak bisa diganggu gugat. Bisa pusing seharian aku, kalau sampai gak dapat jatah. Semua habis buat baby." katanya membuat alasan.
"Tuh, kan, ketahuan modusnya. heelehh, Gini gini juga baby kamu, mas!" Yulia tersenyum meledek suaminya.
Baby Kia telah tertidur, nyenyak dipangkuan Yulia. Perdebatan kedua orang tuanya seperti nyanyian Nina Bobo baginya.
"Biar aku yang menidurkan, kamu bersih bersih dulu, giliran aku yang kamu rawat dan minta disusui!" ucap Romi membawa anaknya ke box tempatnya tidur.
"Apaan sih, mas!"
__ADS_1
"Tenang ya, baby sayang. Sekarang giliran Ayah. Kamu tidur yang nyenyak sampai pagi!" Romi tersenyum lebar menertawakan ucapan lirihnya setelah baby Kia di baringkan dengan nyaman.
*****