Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Mimpi


__ADS_3

BAB 1 - Mimpi


Di malam yang gelap.


Di Sebuah gudang terbengkalai.


"Tolong... Tolong...." Teriak lirih seorang gadis.


Tak lama setelah itu, terdengar suara kaki  beberapa orang yang berlari. Dengan tergesa-gesa beberapa orang itu menghampiri sumber suara.


"Vira!!!" Teriak seorang lelaki berjas hitam dan diikuti oleh beberapa bawahannya.


"Vira... Apa yang terjadi padamu?" Ucap pria itu dengan khawatir.


"Abi... Tolong... Aku..." Gumam Vira dengan suara terbata-bata. Abi pria yang menolong Vira pun hanya menatapnya tanpa berkata-kata.


"Aku... S-sudah tidak punya...waktu yang banyak..." Lanjut Vira lagi.


"Vira, apa yang kau katakan?! Kau akan selamat! Katakan padaku siapa yang membuatmu sampai seperti ini?!" Tanya Abi serius dengan mata yang sudah dipenuhi api kemarahan.


"Aku... Jendral Sanjaya..." 


"Vira, kau akan selamat! Aku akan segera membawamu ke rumah sakit sekarang, jadi tolong tetaplah sadar" sela Abi yang langsung mengangkat Vira dengan nafas terengah-engah.


"Abi... Aku sudah..." Ucap Vira lirih, tanpa disadari kedua matanya mulai menutup.


Karena luka tembakan yang diterima Vira cukup dalam, dia tidak dapat bertahan lama, dan akhirnya Vira meninggal. Melihat keadaan Vira, Abi pun syok dan langsung ambruk ke lantai bersama Vira dalam pelukannya.


"Vira! Bangun! Kau tidak boleh meninggalkanku!" Teriak Abi.


"VIRA!!!!!" Teriak Abi yang menggema ke seluruh bangunan.


Tanpa disadari Abi pun terbangun dengan perasaan yang bercampur aduk. "Hosh…hosh…hosh…" deru nafasnya tak beraturan. Ia pun duduk lalu meraup kasar wajahnya dengan tangan kanannya. Setelah nafasnya kembali normal ia pun menyibakkan rambutnya ke belakang. Bisa dilihat keringat bercucuran membasahi badannya yang tidak memakai baju.


Abi pun duduk di sisi tempat tidur. "Itu... Hanya mimpi" ucapnya dengan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Abi pun tidak bisa tidur lagi karena mimpinya itu. Ia pun bangun dari ranjangnya dan berjalan menuju rak tempatnya menyimpan wine. Abi pun mengambil satu botol wine lalu menuangnya di sebuah gelas. 

__ADS_1


Abi pun berdiri di dekat jendela menikmati suasana pagi hari dengan langit yang masih gelap gulita, sambil meminum wine tersebut sedikit demi sedikit. Setelah habis meminum segelas wine, ia pun menuang wine lagi lalu duduk di sofa. Diminumnya wine tersebut dalam satu kali teguk. Lalu ia pun memejamkan matanya.


Sekelebat ingatan tentang peristiwa 5 tahun lalu kembali menghantui pikirannya.


Flashback on


5 tahun lalu. Tak jauh dari gudang terbengkalai


"Tuan, sepertinya didepan ada sebuah gudang terbengkalai, apa kita akan kesana?" Ucap seorang pria yang berseragam serba hitam.


"Ya! Cari di semua tempat, jangan sampai ada yang terlewat!" Perintah Abimanyu.


"Tapi... Tuan, disana gudangnya agak luas" Ucap pria lain yang memakai seragam hitam lainnya 


"Kalau begitu semuanya berpencar! Aku mau agar Vira secepatnya ditemukan!" Teriak Abi kepada para bawahannya.


Abimanyu pun bersama beberapa orang kepercayaannya pergi ke arah utara gudang terbengkalai tersebut.


Alangkah terkejutnya Abi beserta bawahannya melihat beberapa m*yat manusia tergeletak di sepanjang ia berjalan.


"Roy, jelaskan apa yang terjadi disini sebelumnya?!" Tanya Abi dengan serius kepada sahabat sekaligus sekretarisnya.


"Aku mengerti, tetap perhatikan sekitar!" Titah Abi.


Setelah menyusuri gudang tersebut selama 15 menit, Abi mendengar suara lirih seorang perempuan. Abi pun mendekat ke arah asal suara.


Abi pun sampai ke sumber suara, dengan langkah cepat Abi langsung berlari begitu melihat seorang gadis tergeletak dilantai dengan luka tembak di bagian dada. Ya, gadis itu adalah Vira. Abi pun berusaha sekuat tenaganya untuk menyelamatkannya namun, naas Vira sudah tak dapat terselamatkan.


Flashback off


Abi pun membuka matanya secara perlahan. "Jendral Sanjaya, kau harus merasakan apa yang aku rasakan. Dendam ini harus terbalaskan" ucapnya sambil tersenyum yang tak dapat diartikan.


*


Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Abi pun beranjak sofa dan berjalan menuju ke kamar mandi.


'Sial! Mengapa aku terus memimpikan dan mengingat hal yang sudah terjadi 5 tahun lalu, jika terus seperti ini aku akan menjadi gila' Batin Abi kesal.

__ADS_1


20 menit berlalu, Abi pun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya, lalu menuju walk in closet dan langsung memakai kemeja beserta jas yang sudah disiapkan oleh pelayannya. Tak lupa ia memakai jam tangannya dan menyemprotkan parfum di seluruh badannya.


Dengan santai Abi keluar dari walk in closet sambil merapikan rambutnya dengan tangannya. Setelah selesai ia pun langsung disambut oleh sekretarisnya.


"Selamat pagi Abi." Sapa Roy sang sahabat yang merangkap sebagai sekretaris.


"Roy, apa jadwalku hari ini?" Ucap Abi dengan dingin.


"Abi santailah sedikit, ini masih pagi dan kau sudah memikirkan pekerjaan" Ucap Roy dengan santainya dan duduk di sofa tanpa rasa bersalah.


"Hmmm… Aku rasa akan ada tugas tambahan untukmu Roy" Senyum Abi dingin dan sedikit dipaksakan.


"Eh… Abi jangan lembur dong, gitu doang baperan. Ini kan masih jam 7 pagi, posisiku sekarang bukan sekertaris pribadi mu" Ucap Roy ketakutan.


Bisa dibilang Abi dan Roy sudah lama  berteman bahkan sedari kecil. Itu karena ayah Roy dulunya merupakan tangan kanan ayah Abi.


"Maka dari itu, katakan padaku apa jadwalku, jangan buat aku kesal!" Ketus Abi dengan wajah dinginnya.


Dengan cepat Roy kembali ke mode sekretaris profesional dan menjelaskan susunan jadwal kepada bosnya.


"Aisss… Hari ini anda ada rapat dengan para pemimpin perusahaan cabang pukul 9 pagi, setelah itu makan siang bersama kolega dari Adijaya Group dan pukul 3 sore anda ada rapat dengan tim pemasaran"


"Roy, gantikan aku makan siang dengan Adijaya Group dan kosongkan jadwalku sore ini!" Titah Abi kepada sekretarisnya.


"Tapi kenapa bos?" Tanya Roy.


"Memangnya kenapa? Roy akhir-akhir ini kau sering sekali membantah. Aku tanya disini siapa yang bos, kau atau aku?!" Tanya Abi dengan penuh penekanan dan raut wajah kesal.


Alih-alih menjawab perkataan bosnya, Roy hanya menundukkan kepalanya. Roy tidak dapat membantah dan menuruti saja apapun keinginan bos dinginnya itu.


"Cih, mentang-mentang jadi bos marahin sekretaris sembarangan" batin Roy, memaki Abi.


"Sudah, cepat ke perusahaan sekarang!" Titah Abi.


Abi pun berjalan keluar dari kamarnya terlebih dahulu dengan Roy yang mengikutinya di belakang. Tampak para pelayan sudah berjejer memberi hormat kepada sang majikan. Abi pun menuju meja makan dan sarapan dengan cepat.


Setelah sarapan Abi pun berjalan keluar rumah, dengan cepat sang supir membukakan pintu belakang mobil kepada Abi, diikuti oleh Roy yang duduk di samping jok kemudi. Setelah itu, mereka pun berangkat ke perusahaan.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2