
Pagi harinya, netra indah Thika mengerjap pelan. Dia menggeliat pelan karena merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya.
"Ugh!" Leguhnya.
Matanya tiba-tiba terbelalak ketika melihat Abi tidur di sampingnya memeluknya dari belakang dengan erat. Selain itu, dia juga hanya tidur mengenakan celana dan tidak menggunakan atasan.
Dengan sekuat tenaga Thika menendangnya hingga terjatuh dari ranjang.
"Sayang, apa yang kamu lakukan. Aduh!" Ucap Abi kesakitan. Sambil mengelus punggungnya yang sakit.
Thika berdecak kesal. "Kau sendiri apa yang kau lakukan?!" Kesalnya.
Abi bangkit lalu mengecup kening Thika. Cup! "Morning kiss sayang." Sementara Thika melongo. "Bukankah aku memelukmu sudah biasa?" Ujarnya lagi.
Ingin sekali Thika menggigit pria yang ada di depannya ini.
Tak lama si kembar tidurnya terusik karena mendengar pertengkaran pagi hari yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
"Mom, dad, good morning." Ucap Aska lalu bangkit mengecup pipi sang mommy dan sang Daddy.
Lalu melenggang pergi ke kamarnya meninggalkan Thika dan Abi berdua. Sementara Agastya setelah menggeliat pelan kembali tidur lagi.
"Lebih baik kamu pergi sekarang. Aku akan pergi membuat sarapan." Usir Thika. Lalu pergi keluar menuju dapur. Sementara Abi pergi ke kamar mandi.
Disaat Thika sedang asik memasak didapur, ada seseorang yang datang memencet bel.
Ting! Tong!
Suara bel bersahutan, dengan cepat Thika menuju pintu utama, meninggalkan pekerjaannya di dapur.
__ADS_1
Thika pun membuka pintu. Lalu terkejut karena melihat penampilan Roy. "Astaga! Asisten Roy, apa yang terjadi padamu?!" Kagetnya. Bagaimana tidak? Rambutnya yang acak-acakan, baju yang berantakan bahkan kantung mata juga menghiasi wajahnya. Menandakan bahwa dia semalam tidak tidur nyenyak.
Roy menyerahkan sebuah paper bag. "Jangan hiraukan penampilan saya nyonya. Tolong berikan saja ini pada bos." Ucapnya lalu undur diri.
Tak lama setelah Roy undur diri, Abi datang dari arah belakang dengan menggunakan jubah mandi. "Apa tadi Roy membawakan bajuku?" Tanya Abi.
Sontak itu, membuat Thika terkejut sekaligus terpesona karena Abi tiba-tiba datang dan hanya menggunakan jubah mandi yang memperlihatkan dada kekarnya.
"I-Ini pakai, jangan berkeliaran seperti ini lagi." Ujar Thika sedikit terbata karena malu.
Abi yang melihat Thika merona, mendekatinya. "Kenapa? Bukankah kamu menyukainya juga?" Ucap Abi menuntun tangan Thika mengelus dadanya.
Dengan cepat Thika menarik tangannya lalu pergi ke dapur. Bila dia masih disana makan Abi akan terus menggodanya.
*
Selang beberapa menit, Abi, Aska dan Agastya sudah selesai bersiap-siap. Masakan pun sudah matang, mereka pun makan dengan lahapnya. Jika dilihat-lihat mereka sudah seperti sebuah keluarga bahagia.
Sebelum itu, Thika menghubungi Nisha bahwa dia akan pergi. Dan menghubungi Ranveer juga karena dia tidak akan pergi ke kantor.
Saat ini mereka sedang berada di mobil Abi menuju tujuan. Karena tadi Abi mendesak dirinya agar menaiki mobilnya. Jika saja waktu tidak mendesak dia akan pergi sendiri menggunakan taxi.
*
Mereka pun sudah sampai di sebuah tempat pertandingan, dimana banyak orang yang sudah datang disana. Baik sebagai penonton atau sebagai bagian dari pertandingan ini.
Pertandingan ini sendiri berskala nasional dan diikuti oleh semua kalangan dari seluruh negeri.
Agastya sudah menuju ruang ganti dan bertemu pelatihnya. Sementara Aska, Thika dan Abi pergi ke tempat duduk penonton.
__ADS_1
"Aska kenapa tidak ikut pertandingan?" Tanya Abi.
Aska melirik daddy-nya. "Aska memang bisa bela diri tapi tidak sebaik dan semahir Agastya. Aska lebih suka pemrograman." Ujarnya. Abi terpaku, karena kedua anaknya mewarisi semua keahliannya.
Pertandingan pun dimulai, babak demi babak sudah Agastya lewati bahkan dia sudah menumbangkan lawan-lawannya dengan sangat mudahnya.
Tiba saatnya dimana pertandingan menuju final. Agastya pun sudah mengambil ancang-ancang. Karena lawannya yang agak kuat membuat Agastya sedikit kesulitan mengimbanginya. Beberapa menit sudah lewat namun, belum ada tanda-tanda pertandingan selesai.
Agastya sendiri sudah terlihat kelelahan. Namun, semangatnya bangkit disaat dia melihat Aska dan kedua orang tuanya menyemangatinya.
"Come on, Agastya, you can do it. (Ayo, Agastya, kamu bisa melakukannya)." Seru Aska.
Dengan cepat Agastya sudah membuat lawan kewalahan. Dan pada akhirnya kemenangan berada di tangan Agastya. Semua orang pun bersorak. Tak lupa juga Aska, Thika da Abi yang bersorak karena kemenangan Agastya.
*
Pertandingan telah selesai, saat ini mereka berempat sedang dalam perjalanan pulang. "Kamu hebat boy." Ucap Abi, mengelus lembut surai kehitaman putranya.
Agastya hanya terkekeh sambil memegang medali yang dia dapatkan.
"Apakah kamu mau sesuatu sebagai hadiah? Daddy akan belikan." Ujar Abi.
Mata Agastya berbinar-binar. "Benarkah itu dad?" Tanyanya antusias.
"Correct. Whatever you want dad will fulfill. (Apapun yang kamu inginkan Daddy akan penuhi)." Sahutnya.
"Akhir Minggu ini bisa tidak kita pergi ke taman hiburan bersama? Aku ingin sekali pergi dengan mommy dan Daddy juga Aska." Ucapnya.
Thika terhenyak mendengarnya. Sementara Abi langsung mengiyakannya. "Ok! Kita berempat akan pergi ke taman hiburan akhir pekan." Ucap Abi.
__ADS_1
Agastya pun senang bukan main, lalu menoleh ke arah sang mommy. Mengerti akan itu Thika mengangguk memberi persetujuannya. Sementara Aska hanya tersenyum melihat adiknya yang bahagia.
Bersambung……