
Sementara di markas Golden Eagle.
"Lepaskan kami! Apa yang ingin kalian lakukan padaku!" Teriak Fani dan ibunya.
Abi sedang mengintrogasi Fani beserta ibunya. Dan tuan Tirto ayah dari Vira dan Fani dibawa ke ruangan lain karena kondisinya dan diserahkan kepada anak buahnya yang lain.
Abi duduk di sebuah kursi lalu meminta anak buahnya membuka penutup mata Fani dan ibunya. Mereka pun mengerjap ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan sinar yang masuk ke matanya.
"Kalian sudah selesai? Sekarang kita ke intinya. Apa yang kalian lakukan pada Vira dulu?" Tanya Abi dengan nada dinginnya. Masih menahan emosi ketika menghadapi ibu dan anak ini.
"Kak? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa salahku? Apakah kakak tidak sayang padaku?" Tanya Fani dengan suara mendayu seperti orang yang menggoda.
Ibu Fani pun ikut nimbrung. "Itu benar nak, lepaskan ibu dan Fani." Ucapnya memohon.
"Tch! Melepaskan? Setelah apa yang kalian lakukan? Menjual Vira kepada pamanku lalu membuatnya mat* mengenaskan?" Tanya Abi dengan tatapan tajamnya.
"Sekarang katakan yang sebenarnya! Apa yang telah kalian lakukan selama ini?!" Ucapnya lagi.
Mendengar itu mereka berdua jelas sedikit ketakutan. "Kami tidak melakukan apa-apa." Elak Ibu Fani.
"Benarkah?" Seringai Abi. Lalu menyuruh bawahannya membawakan beberapa ular besar yang mereka pelihara.
Seketika Fani dan ibunya memekik ketakutan. Karena melihat hewan melata tersebut meliuk-liuk menuju ke arah tubuhnya. Mereka jelas tidak bisa berkutik, pasalnya tangan dan kakinya sudah diikat dengan borgol.
"Ahhhh!!!! Mama! Usir ular ini dariku!" Teriak Fani ketika ular besar sudah naik ke atas tubuhnya.
"Nak Abi tolong lepaskan kami, ka-kami akan menuruti semua keinginanmu." Ucapnya dengan gelagapan.
Abi menyeringai. "Benarkah? Katakanlah apa yang terjadi lima tahun lalu." Ucapnya.
__ADS_1
Sementara ibu Fani terlihat bingung. Menjawab pertanyaan Abi atau membiarkan dia mat* digigit ular besar itu.
"Baiklah aku akan mengatakannya. Kami menjebak Vira beberapa hari sebelum kematiannya. Kami berencana menjualnya dan melakukan transaksi di sebuah gudang tua lima tahun lalu. Itu karena dia sudah berkhianat terhadap pamanmu. Dia ingin melaporkan semua kejahatan yang diperbuat olehnya sehingga pamanmu berencana membunu*nya."
"Kami pun menyembunyikannya. Daripada membunu*nya lebih baik memanfaatkan dirinya. Kami dan akan melakukan transaksi dan membawanya ke sebuah gudang. Tapi sialnya pamanmu juga ada disana beserta Jenderal Sanjaya. Karena keadaan yang begitu riuh karena kedatangan Jenderal Sanjaya, beberapa orang berencana menembakkannya namun, sayang Vira mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Jendral Sanjaya."
"Jenderal Sanjaya berniat menolong Vira yang sudah terkena tembakan peluru. Namun, karena identitasnya sehingga dia harus pergi untuk membuat laporan dan menyuruh anak buahnya mengantarkannya ke rumah sakit. Namun, kami membuat anak buah itu pingsan dan berencana membawanya yang masih sadarkan diri ke suatu tempat. Sayangnya kamu dan pasukanmu datang sehingga kami ketakutan." Ucapnya dengan satu tarikan nafas. Menceritakan segala kejadian yang terjadi lima tahun lalu.
Abi seketika memikirkan satu hal. "Jadi, Vira menyelamatkan Jenderal Sanjaya. Apa hubungan mereka berdua?" Tanya Abi.
"Itu karena, si jal*ng Vira saat masih kecil pernah diadopsi olehnya. Dan karena balas dendam ayah, Vira direbut paksa sehingga dia berada di sisi ayah." Jawab Fani.
Seketika Abi terkejut. Jika Vira pernah diadopsi oleh Jenderal Sanjaya bukannya dia merupakan kakak angkat Thika istrinya? Lalu kalung yang ada pada Thika bisa ada pada Vira, apa yang terjadi sebenarnya? Pikirnya. Otaknya seketika berpikir keras. Menggabungkan kepingan puzzle atas kejadian yang terjadi di masa lalu.
Abi bangkit lalu memerintahkan sesuatu kepada bawahannya. "Bawa ibu Fani ke ruang bawah tanah. Dan Fani bawa dia ke rumah sakit jiwa." Ucapnya.
"Kak! Aku tidak gila! Tolong lepaskan aku!" Teriak Fani.
*
Sedangkan Abi keluar dari ruangan itu menuju ruangannya menunggu Roy menyelesaikan tugasnya. Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah menunjukkan pukul dua siang, seharusnya Thika sudah bangun.
Tak lama Roy pun masuk setelah mengetuk pintu. "Apakah penyelidikan pak Tirto berjalan lancar?" Tanya Abi. Sementara Roy hanya menggeleng.
Bagaimana dia bisa menanyakan sesuatu kepada orang yang tidak bisa bicara karena efek kelumpuhannya. Batinnya menggerutu.
"Lalu bagaimana dengan kalung itu?" Tanya Abi lagi.
Roy menyerahkan beberapa kertas. "Anda bisa melihatnya disini. Bisa dilihat kalung itu memang asli dan didesain oleh ibu anda sendiri." Ucap Roy.
__ADS_1
Seketika Abi bangkit dari duduknya. Segera melesat menuju mobil pulang ke mansionnya. Sementara Roy yang terkejut mengikuti bosnya dari belakang.
Diperjalanan dia merutuki dirinya. "Jadi selama ini firasat yang aku rasakan benar. Kamu adalah gadis manis yang menghiburku dulu disaat terpuruk karena kematian orang tuaku." Ucapnya dengan suara lirih.
"Aku berjanji akan selalu membantumu ketika dalam masalah. Tapi apa yang aku lakukan. Si*l! Maafkan aku." Ucapnya lagi. Dia merasa menjadi laki-laki yang sangat bodoh.
Tak lama Abi sampai di mansionnya. Lalu bergegas menuju kamarnya mencari keberadaan Thika guna meminta maaf.
Disaat Abi memasuki kamar, bisa dilihat lampu yang masih menyala.
"Sayang?"
Matanya mencari sosok Istrinya di seluruh ruangan. Namun, tidak ditemukan. Lalu dia keluar mencari pelayan.
"Dimana Thika?" Tanya Abi kepada Pak Man.
"Nyonya sedari tadi ada di dalam tuan." Jawab pak man.
Abi terkejut lalu menyuruh semua orang mencari Thika di setiap sudut mansionnya. Namun, nihil. Thika sama sekali tidak ada di mansionnya.
Abi kembali ke kamarnya mencoba menelepon Thika namun yang dia dapatkan istrinya meninggalkan teleponnya di atas tempat tidur.
Pikirannya seketika tertuju pada suatu tempat. Ya, pemakaman. Saat ini mungkin Thika ada disana. Batinnya.
Lalu secepat kilat pergi ke pemakaman. Setelah sampai, bisa dia lihat tidak ada satu orang pun disana, hanya ada beberapa orang yang sedang membersihkan pemakaman.
Namun, dia tidak patah semangat, dia berpikir mungkin Thika saat ini bersama kakaknya. Lalu dengan segera pergi ke kediaman Sanjaya.
Bersambung….
__ADS_1