Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Kakak Jangan Cedih Lagi.


__ADS_3

Di suatu siang. Derap langkah kaki kecil, membuyarkan lamunan seorang anak laki-laki yang sedang duduk di bawah pohon rindang. Anak laki-laki itu terlihat menangis dalam diam, bahkan matanya sudah merah dan sembab.


Tak lama langkah kaki kecil itu semakin mendekat ke arahnya. "Uh! Akhilnya aku bisa pelgi juga. Kenapa juga Ayah, Ibu, dan Kakak tidak membialkanku pelgi." Ucap seorang gadis kecil yang berusia sekitar 5 tahun-an.


Sementara anak laki-laki berusia 10 tahun itu hanya melihatnya dari kejauhan.


"Baiklah! Aku akan beli mie yang banyak, bialin kalo Ika dimalahin." Ucapnya lagi.


Lalu berjalan. Tak lama pandangannya menangkap seorang anak laki-laki yang sedang menangis di bawah pohon.


Dia pun menghampirinya. "Kakak? Kenapa disini? Telus kenapa nangis?" Ucapnya dengan jari telunjuknya berada di dagunya. Seolah berpikir apa yang terjadi kepada anak di depannya.


Sementara anak laki-laki itu diam mendengarkan celotehan gadis kecil di depannya itu.


"Kakak tau? Kata kakak sama mama Ika, laki-laki tidak boleh menangis." Tangan mungilnya sudah berada di pipi anak laki-laki itu, menghapus air mata yang masih mengalir. Lalu duduk disampingnya.


Anak laki-laki itu sedikit tersenyum, lalu menghapus air matanya. "Kamu tahu, ada kalanya anak laki-laki menangis, karena pada dasarnya sekuat-kuatnya anak laki-laki menahan tangisnya pasti akan menangis juga ketika kehilangan orang tersayangnya." Ucapnya.


Anak laki-laki itu mengulurkan tangannya. "Aku Abi, siapa namamu?" Tanya anak laki-laki itu. Ya, Abi kecil sedang bertanya kepada gadis kecil yang mengajaknya berbicara.


Gadis kecil yang sedari tadi tidak paham apa yang dibicarakan Abi, menoleh lalu mengulurkan tangannya. Membalas jabatan tangan Abi. "Namaku Antika, kakak bisa memanggilku Ika." Ucap gadis kecil itu yang belum bisa mengucapkan namanya dengan benar.


Thika kecil dengan sejuta keimutannya, kabur dari rumahnya karena ingin membeli mie kesukaannya. Lalu bertemu Abi kecil.


"Kak, katakan sama Ika kalo ada yang bikin kakak nangis. Nanti Ika akan ajal." Ucap Thika kecil.


"Tidak ada, hanya aku baru saja kehilangan papa dan mamiku." Ucap Abi kecil dengan tatapan sendu.


Thika kecil dengan polosnya menepuk pelan punggung Abi kecil. Mungkin bermaksud memberikan semangatnya. "Kakak jangan cedih lagi. Ika gak tau gimana lasanya kehilangan ayah sama ibu. Tapi Ika ngelti kok." Ucapnya sambil mengangguk kecil.


Thika kecil bangkit, lalu mencari ranting kecil. Seolah menjadi seorang peri kecil yang ingin menghilangkan rasa sedih Abi. Lalu mengayunkan tangannya sambil membaca sebuah mantra.

__ADS_1


"Kepada semua kesedihan, kelual dan pelgilah dali hidup kakak. Dan kebahagiaan datanglah." Ucap Thika kecil. Seolah membaca mantra sihir.


Abi kecil yang terhibur dengan aksi Thika kecil hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa ada gadis imut dan polos seperti Thika. Pikir Abi kecil.


Thika yang melihat Abi kecil tertawa pun ikut tertawa. Dia sendiri tidak tahu apa yang Abi tertawakan. Padahal yang ditertawakan adalah dirinya sendiri.


"Akhilnya kakak senyum juga hehehehe." Ucapnya sambil tertawa. Lalu melihat langit. "Aduh! Ika lupa mau beli mie." Sambil memukul pelan dahinya.


Thika kecil pun hendak pergi namun, ditahan oleh Abi kecil. "Tunggu! Aku akan mengantarmu, bahaya berkeliaran sendiri." Ucap Abi kecil.


Dia pun meraih tangan Thika kecil menggandengnya agar tidak bebas keluyuran. "Kenapa kamu beli mie? Kamu suka makan mie?" Tanya Abi diperjalanan.


"Ika suka banget! Tanpa mie hidup Ika gak ada altinya." Ucap Thika kecil yang belum bisa mengucapkan huruf 'R'.


Mereka pun sudah selesai membeli mie kemasan instan. Abi kecil pun mengajak Thika kecil pulang kerumahnya setelah bertanya padanya. Rumah mereka hanya berbeda komplek dengannya.


*


*


Hari-hari mereka lalui dengan bermain permainan yang disukai Thika. Atau memakan makanan yang disukai olehnya. Terkadang Abi kecil akan menyuruh asisten rumah tangga untuk menyiapkan kotak bekal yang berisi mie untuk mereka makan disela-sela mereka bermain.


Bahkan keluarga Thika kecil maupun Abi kecil tidak tahu bahwa mereka saling bertemu. Mungkin dari pihak Thika sendiri ada Vira yang tahu bahwa dia sering keluar, karena Thika hanya menceritakannya padanya. Sedangkan Abi tanpa bercerita ada Pak Prayoga yang sudah tahu, bahwa tuan mudanya punya seorang teman seorang gadis kecil. Mungkin dengan kehadiran gadis kecil itu bisa meringankan kesedihan Abi yang kehilangan orang tuanya.


Tanpa terasa mereka sudah bermain bersama selama 2 Minggu dengan diam-diam. Tapi tidak seperti biasanya Thika terlambat datang ke taman tersebut. Abi kecil pun menunggunya, sampai Thika datang dari arah kejauhan.


"Kakak! Maafin Ika ya." Ucapnya tersengal karena berlari. "Ika kesini mau mengucapkan selamat tinggal, Ika mau pelgi dari sini. Kalena ayah halus pelgi." Ucapnya lagi.


Abi kecil menatapnya sendu. "Kenapa pergi?" Tanyanya.


"Ika gak tau, pokoknya pelgi gitu." Ucap Thika kecil. Dia tidak tahu alasan dia pergi karena ayahnya yang dipindah tugaskan.

__ADS_1


Dengan cepat Abi kecil melepas kalung yang berada lehernya, lalu memasangkannya di leher Thika kecil. "Ini, ambil ini anggap sebagai pemberianku. Ingat! Bila kamu sudah dewasa dan memerlukan bantuanku datanglah dan perlihatkan kalung ini." Ucap Abi kecil.


Thika kecil hanya mengangguk. Lalu berlari pergi karena sudah ditunggu oleh seorang pengawal.


"Dah… kakak…." Ucap Thika kecil melambaikan tangannya.


Sementara Abi diam lalu….


"Tidakkkkk!!! Jangan tinggalkan aku!!!!" Teriaknya.


Abi pun bangkit, dengan keringat yang bercucuran di wajahnya. Dia pun menangkup sebelah wajahnya. "Hahh…. Mimpi itu…." Gumamnya.


Dia pun mencari ponselnya, menekan ikon galeri mencari foto Thika yang diam-diam dia ambil selagi memakan mie.


"Maafkan aku, tolong kembalilah…." Ucapnya. Tak terasa bulir bening menerobos keluar dikala dia menatap foto Istrinya.


*************


Detak jantungmu berdetak dihatiku.


Saat mataku terbangun hanya ada keinginanmu.


Setiap menit dalam pikiranku hanya ada dirimu.


Saat-saat perpisahan ini sangatlah sulit.


~Me~


**************


Bersambung……

__ADS_1


__ADS_2