
Hari yang tadinya terang sudah berganti gelap, yang berarti malam hari sudah datang. Langit yang sedari tadi cerah karena sinar matahari berganti dengan cerahnya bulan serta bintang-bintang yang menghiasi langit gelap.
Abi saat ini sedang diperjalanan menuju mansion nya. Entahlah dia yang biasanya pulang malam saat ini sudah jarang pulang malam lagi. Perasaannya yang tidak ingin berjauhan dari Thika yang membuatnya seperti ini. Apa ini yang disebut dengan rindu? Bahkan saat bersama Vira di masa lalu jelas dia tidak merasakan perasaan seperti ini.
Saat ini dia sendiri sudah sampai di mansion. Dia pun saat ini sudah berada di depan pintu masuk, Abi pun ingin membukanya namun, dia urungkan karena sudah dibuka oleh Thika. Abi tersenyum karena disaat lelahnya dia bekerja pada saat pulang disambut oleh Thika orang yang mungkin saat ini sudah mencuri perhatiannya.
"Kamu sudah datang, apakah kamu sudah makan?" Tanya Thika ketika Abi memasuki mansion.
Abi hanya diam. Dengan santai Abi memajukan tubuhnya lalu mengecup singkat kening Thika. Lalu berjalan santai masuk ke rumah meninggalkan Thika yang masih mematung karena malu.
"Aku akan mandi dulu lalu makan hmm." Ucap Abi lalu berlalu menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Thika pun menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
Tak lama Abi datang menghampirinya di meja makan. Lalu mereka duduk di kursinya masing-masing. Dentingan sendok saling bersahutan di atas piring.
"Bolehkah aku bertanya? Ini mengenai masa lalumu." Tanya Thika hati-hati disela makannya agar tidak membuat Abi kesal ataupun marah.
Abi menghentikan sejenak acara makannya. "Katakanlah." Ucap Abi yang menatap Thika. Lalu mengusap bibir mungil Thika yang sedikit belepotan. Bisa dilihat Thika sudah sedikit merona karena perlakuan Abi.
"Bagaimana hubunganmu dulu dengan Vira?" Tanya Thika sembari menunduk.
Abi mengerutkan dahinya. Mengapa Thika bertanya mengenai masa lalunya bersama Vira? Siapa yang memberitahukannya? Apakah Fani? Batin Abi bertanya-tanya.
"Untuk apa kamu tahu, itu hanya masa laluku. Lupakanlah!" Ucap Abi. Karena dia merasa tidak ingin mengungkit masa lalu. Abi pun melanjutkan makan malamnya.
Sementara Thika sudah selesai makan malam. "Aku duluan." Ucap Thika, berlalu meninggalkan meja makan. Abi pun melihat makanan di piring Thika yang masih tersisa.
Abi heran melihat perubahan thika. Batinnya bertanya-tanya. Bukankah saat aku pulang dia masih ceria? Kenapa sekarang murung?
*
__ADS_1
Abi pun menuju kamarnya setelah selesai makan malam. Dibukanya benda persegi panjang tersebut dengan hati-hati. Abi pun tersenyum karena melihat Thika yang sedang meringkuk tertidur di sofa.
Abi pun menuju kamar mandi untuk menggosok giginya setelah makan dan mengganti bajunya.
Dia pun melangkah menuju sofa, mengangkat badan Thika membawanya ke ranjang yang nyaman. Abi merebahkannya dengan pelan seperti sebelum-sebelumnya agar Thika tidak terbangun dari tidurnya.
Lalu Abi berbaring di sebelahnya. Dilihatnya wajah cantik itu tidak tenang dalam tidurnya. Alisnya mengkerut, mungkin karena mimpi buruk atau kelelahan. Abi mengusap pelan dahi Thika yang mengkerut, lalu mengecupnya. Entahlah kebiasaannya saat ini bertambah lagi yaitu mengecup kening Thika sebelum tidur.
Tak lama Abi tertidur. Tangan kirinya sudah memeluk pinggang Thika dengan erat. Dia melupakan apa yang membuat Thika murung sedari tadi.
*
*
*
Pagi harinya, Thika bangun dari tidurnya lebih awal, seperti biasa dia tidak lagi banyak bicara mengenai dirinya yang tiba-tiba tidur diranjang. Dengan langkah santai Thika membersihkan dirinya lalu memakai pakaiannya. Hari ini dia ingin pergi ke perusahaan lebih pagi agar terhindar dari Abi.
Seperti biasa setelah bersiap-siap, Thika akan menyiapkan baju untuk dipakai suaminya.
Thika pun keluar dari rumah tanpa sarapan terlebih dahulu. Lalu memesan taxi untuk mengantarnya walau Pak Jak sudah menawarinya menaiki mobil.
*
Abi pun terbangun dari tidurnya, meraba-raba samping ranjangnya mencari keberadaan Thika. Mungkin dia sudah didapur. Batinnya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Abi pun turun menuju meja makan. Tapi, aneh karena dia tidak mendapati istrinya yang biasanya menyajikan makanan di atas meja. Hanya ada Roy yang duduk menyantap roti isi.
"Morning bos!" Sapa Roy ketika melihat Abi turun. Abi hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Thika dimana Bi?" Tanya Abi.
__ADS_1
"Nyonya sudah pergi pagi-pagi sekali tuan. Bahkan nyonya belum sarapan." Jawab Bi Sri.
Mendengar itu, Abi pun hanya menyeruput kopinya. Menyuruh Roy cepat bersiap, lalu bergegas menuju mobil untuk pergi ke perusahaan.
*
*
*
Di perusahaan, Thika dengan cekatan menyiapkan dokumen yang akan diperiksa oleh Abi. Dia tidak sanggup bila berhadapan dengan Abi saat ini. Setelah selesai Thika pun kembali ke ruangannya.
*
Disinilah Abi perusahaannya. Dengan berjalan sedikit cepat Abi menuju ruangannya. Dilihatnya kosong, biasanya Thika akan berada di ruangannya untuk menyiapkan dokumen. Abi merasa sepertinya Thika menghindarinya.
Di ruangannya Abi duduk di kursi kebesarannya. Lalu Abi menyuruh Roy untuk memanggil Maya dari bagian pemasaran. Tak lama Roy pun datang dengan Maya yang berada di belakangnya.
"Ada apa ya pak?" Tanya Maya tersenyum sumringah. Karena senang dipanggil oleh bos yang sudah lama disukainya untuk pertama kalinya.
Dengan angkuh Abi menyodorkan amplop berwarna coklat. " Kamu dipecat! Karena terbukti mengubah dokumen perusahaan dan memfitnah Thika!" Ketus Abi. Memberhentikan Maya dengan tidak hormat.
Maya pun ketar-ketir. "Kenapa bapak tidak adil kepada saya? Dia hanya jala*g yang sukanya merayu pria. Bahkan dia juga merayu Vino dari bagian IT." Sahut Maya tak mau kalah.
Abi geram, bagaimana bisa perusahaannya merekrut orang seperti ini. Bahkan dia berani sekali mengatakan hal yang tidak pantas kepada Thika.
"Tutup mulutmu! Keluarlah! Aku tidak suka mengulang perkataan ku dua kali!" Ucap Abi dengan nada emosi.
Melihat itu, Maya pun keluar dari ruangan Abi. Tapi di dalam hatinya dia mengutuk Thika. 'Ini semua gara-gara Thika si jala*g! Tunggu saja pembalasanku!'
Bersambung…
__ADS_1