
✨✨✨
6 bulan kemudian.
Tengah malam tampak Thika dan Abi sedang tidur di kamarnya, saling memeluk karena itu keinginan sang bumil. Semenjak hamil Thika sangat suka berada di dekat suaminya, bahkan dia ingin berpelukan saat tidur.
Seperti saat ini, Abi sedang mengusap-usap punggung ibu hamil tersebut karena Thika yang merasa punggungnya sedikit sakit.
Tiba-tiba saja, rasa sakit mendera perutnya yang sudah membuncit. Thika mengabaikannya karena menganggap itu hanya kontraksi palsu. Namun, setiap beberapa menit rasa sakit itu mulai terasa bahkan lebih sakit.
"Hubby, bangun!" Ucap Thika dengan suara lirih, bahkan dia sudah menggoyang-goyangkan lengan Abi agar terbangun.
Tak beberapa lama Abi terbangun karena mendengar suara rintihan. "Sayang ada apa?" Tanyanya.
Tiba-tiba matanya melebar tatkala melihat sang istri yang sudah duduk di lantai sembari menahan rasa sakit di perutnya.
"Hub-by aku a-akan melahirkan, ayo ke rumah sakit seka-rang." Ucap Thika terbata menahan rasa sakit.
"Ya, tentu saja." Abi mulai panik, dia pun mengambil tas yang sudah disiapkan jauh-jauh hari lalu turun ke bawah memanggil Pak Man untuk menyiapkan mobil.
"Pak man, siapkan mobil, istriku mau melahirkan." Ucapnya lalu tergesa-gesa menuju mobilnya.
"Tuan, lalu nona Thika dimana?" Tanya Pak Man.
Deg!
Dengan cepat Abi menyerahkan tas tersebut kepada Pak Man lalu menuju ke kamarnya untuk menemui istrinya.
Jujur saja ini adalah kali pertama dia merasakan perasaan dimana menemani istrinya dikala hamil.
"Sayang! Maafkan aku, karena melupakanmu. Aku terlalu gugup." Ucapnya Abi yang melihat Thika sudah berjalan tertatih dengan memegang meja dan dinding.
Thika hanya diam melihat tingkah suaminya itu, karena rasa sakit yang sudah mendera.
*
Tak berselang lama, mereka pun sampai di rumah sakit, "Dokter!" Teriak Abi menggema di seluruh lobi rumah sakit. Melihat orang berpengaruh di rumah sakit datang, dengan cepat para suster pun membawa Thika ke brankar untuk mendapatkan penanganan.
Di ruang bersalin tampak Thika yang sudah menahan sakitnya dengan membuang dan menarik nafas secara teratur. Sesekali mencengkeram lengan atau menjambak rambut suaminya. Dengan Abi disisinya yang selalu mengatakan kata-kata cinta dan semangat.
*
__ADS_1
30 menit kemudian terdengar suara tangisan bayi bergema di seluruh ruangan. Abi hanya bisa menangis haru karena putri kecilnya telah lahir dengan selamat, sementara Thika hanya tersenyum karena kelelahan.
"Terimakasih sayang, terimakasih." Ucap Abi lalu menghujani wajah Thika dengan ciumannya.
Setelah selesai semuanya, Thika pun dipindahkan ke sebuah ruangan VVIP yang sudah dipesan. Tak berselang lama seorang suster datang, menggendong seorang bayi kecil.
"Ini anak anda nyonya, sekarang masih tidur kalau nanti sudah bangun langsung beri ASI." Ucap sang suster.
"Terimakasih sus." Ucap Abi.
Suster tadi pun pamit undur diri.
*
Pagi harinya, ruang VVIP itu ramai karena kedatangan Aska dan Agastya bersama Roni.
"Mom, kapan adik akan bangun?" Tanya Agastya sambil menoel-noel pipi gembul adiknya.
"Dia baru saja tidur, jadi jangan diganggu." Ucap Abi.
"Wajahnya mirip dengan Thika, sementara hidung dan bibirnya mirip Abi." Ucap Roni yang takjub dengan bayi Abi.
Roni pun hanya berdecak kesal, menanggapi sahabatnya itu.
Tak lama Sarah dan Roy datang menjenguk. "Selamat atas kelahiran putri kalian." Ucap Roy dan Sarah berbarengan.
Abi dan Thika hanya mengangguk. "Jadi, kapan kamu melahirkan?" Tanya Thika.
"Perkiraan dokter mungkin lusa." Sahut Sarah.
"Mom, siapa nama adik kami?" Tanya Aska yang sedari tadi penasaran dengan nama sang adik.
Thika melirik Abi sekilas lalu menganggukkan kepalanya. "Nama adik kalian adalah, Anindhiya Dewantara." Ujar Abi.
"Anindhiya, nama yang sangat cantik." Ucap Roni.
"Halo little Anin, aku kakakmu." Ucap Aska sambil memegang tangan kecil adiknya.
*
Sudah lebih dari dua hari Thika dirawat namun, dia masih belum diperbolehkan pulang karena beberapa alasan. Disaat dia keluar untuk jalan-jalan sebentar dia melihat bayangan kakaknya yang berada di depan ruang bersalin.
__ADS_1
"Kak?" Ucap Thika menepuk bahu kakaknya.
Mahen tersentak kaget.
"Kakak, ngapain disini?" Tanya Thika.
Mahen menghela nafasnya. "Nisha mau melahirkan, karena ketubannya sudah pecah." Ujar Mahen dengan sendu. Saking paniknya bahkan dia masih mengenakan seragamnya.
"Jadi, Nisha melahirkan prematur?" Tanya Thika lagi. Mahen hanya mengangguk.
Mahen menunggu Nisha di depan ruang bersalin, karena tidak diperkenankan masuk. 45 menit kemudian, suara tangisan sudah terdengar membuat sudut bibir Mahen dan Thika yang berada disana terangkat naik.
Tak lama seorang suster keluar membawa sebuah inkubator yang didalamnya ada buah cintanya bersama Nisha.
Mahen pun menghampiri suster tersebut. "Mau dibawa kemana anak saya sus?" Tanya Mahen.
"Karena lahir prematur, putra anda harus dimasukkan ke dalam inkubator agar suhu tubuhnya tetap hangat. Anda bisa menemuinya di NICU (Neonatal Intensive Care Unit)." Jawab sang suster.
Mahen mengangguk. Tak berselang lama dokter keluar dari ruang bersalin. Dengan gerak cepat Mahen menemuinya. "Apa saya sudah boleh menemui istri saya dok?" Tanya Mahen.
"Tentu, anda sudah boleh menemui dokter Nisha." Jawab sang dokter.
Mahen membuka ruangan tersebut, dilihatnya Nisha yang sedang tertidur karena kelelahan. Mahen mendekat lalu duduk di sisi brankar.
Dikecupnya kening wanita yang sudah memberinya keturunan tersebut. "Terimakasih sayang, terimakasih." Ucap Mahen yang tanpa sadar lelehan bening sudah keluar tak terbendung.
Nisha mengerjap dikala merasakan wajahnya yang basah. "Kak~" lirih Nisha.
"Istirahatlah, terimakasih untuk semuanya." Ucap Mahen, lalu mengecu* sekilas bibir Nisha.
Sementara Nisha hanya tersenyum.
To be continued…..
...*******...
...Cinta bukan membuat seseorang menjadi lemah tapi justru sebaliknya, menjadi kuat....
...~Me~...
...*******...
__ADS_1