Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Bos 'SDM'


__ADS_3

Keesokan harinya, Thika pergi ke kantor 10 menit sebelum sang bos datang. Ia pun dengan cepat membuat kopi, menaruhnya di meja kerja sang bos. Tak lupa ia mencetak beberapa dokumen yang akan digunakan untuk rapat pagi ini.


Setelah dirasa selesai ia pun duduk di kursinya lalu memejamkan matanya, sambil menunggu sang bos. Namun, tak lama terdengar suara bass memanggil dirinya.


"Wah… wah… enak ya tidurnya?" Ucap seseorang yang tak lain adalah Abi.


Mendengar suara yang tak asing, Thika pun langsung berdiri dan menyapa bosnya. "Selamat pagi pak, a-anu saya cuma duduk sebentar kok pak" jawab Thika dengan senyum profesional.


"Karena pagi-pagi kamu sudah santai, maka hukumnya nanti kamu kerja lembur!" Titah Abi sambil berjalan meninggalkannya.


"Ta-tapi pak…" Belum selesai Thika menjawab ucapan bosnya, Abi berbalik dan menatap tajam ke arah Thika. Mata elangnya seakan menghunus tajam yang ingin menyerang musuhnya. Dengan berat hati ia menerima hukumannya.


*


Di ruangannya, Abi langsung duduk di kursinya dan melihat-lihat beberapa dokumen. Tak lama ia melihat secangkir kopi yang sudah dibuat oleh Thika, Abi pun memanggil Roy.


"Roy, berikan sekretaris Thika mengoreksi berkas dari perusahaan HJ Group. Harus sudah siap pukul 4 sore ini" titah Abi dengan santainya.


"Tapi, bos berkas itu kan agak banyak, saya ragu dia tidak akan mampu menyelesaikannya dalam waktu sesingkat itu " jawab Roy dengan perasaan khawatir.


Walaupun Thika memiliki kepintaran dan potensi yang mumpuni namun, belum tentu juga dia bisa menangani berkas HJ Group dengan baik. Karena pimpinan perusahaan HJ Group orangnya sangat teliti.


"Roy apakah kau mulai meragukan keputusanku, hmm?" Tanya Abi dengan tatapan tajamnya.


"Em… tidak, tentu saja tidak" jawab Roy gugup.


Abi pun memberikan berkas tersebut kepada Roy agar diberikan kepada Thika.


*


Disaat Thika akan pergi makan siang, ia  pun terbelalak kaget dengan setumpukan berkas-berkas yang diberikan Roy kepadanya. 

__ADS_1


"Pak, anda yakin memberikan saya tugas sebanyak ini?" Tanya Thika dengan ragu.


"Ya!.Bos bilang semua berkas ini harus selesai sore hari." jawab Roy.


'Gak salah nih? Dia beneran ngasih gue lembur? Pasti sengaja dia mau balas dendam sama gue. Dasar SDM (Super Duper Menjengkelkan!)' batin Thika kesal. 


Roy yang melihat Thika melamun pun menyadarkannya dengan deheman, sehingga Thika pun tersadar. Thika pun mengurungkan niatnya makan siang dan mengerjakan tugas yang diberikan bos. Ia takut bosnya marah-marah karena terlambat menyelesaikan tugas dari deadline yang sudah ditentukan. Karena seperti yang diketahui bosnya adalah orang yang disiplin akan waktu 


*


Thika dengan telaten dan sabar mengerjakan dan mengecek berkas demi berkas yang diberikan kepadanya, sampai ia tak menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Bisa dilihat para karyawan yang lain pun sudah pulang. Karena belum selesai, ia pun sudah pasrah mendapatkan hukuman dari bosnya karena terlambat menyerahkan berkas dari deadline yang ditentukan.


Abi yang sedari tadi memperhatikan Thika dari jendela pun menghela nafasnya merasa kasihan bercampur kesal. Abi pun pergi menemui Thika di mejanya dan mengetuk ujung mejanya dengan jari telunjuknya.


Tuk tuk tuk.


"Kamu terlambat menyerahkan berkasnya dari waktu deadline yang ditentukan" ucapnya dingin.


"Saya tunggu 15 menit, kalau belum selesai juga saya akan membuat kamu lembur 1 Minggu. Saya sudah berbaik hati menunggu, jadi kerjakan dengan cepat dan benar!" ucap Abi ketus. 


Mendengar ucapan bosnya, Thika hanya bisa menelan salivanya kasar. Ia takut akan lembur selama 1 Minggu. Selain itu, ia merasa canggung dan risih karena bosnya sendiri menunggunya di ruangan sekretaris sambil menatapnya.


15 menit pun berlalu, Thika tampak sudah menyelesaikan berkas-berkas yang diberikan lalu merapikan dan memberikannya kepada sang bos. 


Namun, disaat Thika berjalan mengantar berkas, tanpa sadar kepalanya pusing dan kakinya mendadak lemas. Thika pun hampir kehilangan keseimbangannya tapi, dengan cepat Abi menangkap Thika dengan cepat sehingga ia tidak jatuh.


Melihat wajah Thika yang pucat, Abi merasa tidak tega ia pun segera menggendong Thika ala bridal style melupakan berkas-berkas dan turun ke parkiran. Thika yang terkejut dengan perlakuan bosnya hanya bisa diam mematung. 


Abi pun mendudukkan Thika di kursi samping kemudi, sementara Abi sendiri duduk di kursi kemudi, karena ia sudah menyuruh supir beserta Roy untuk pulang terlebih dahulu. Thika yang mematung pun memberanikan diri bertanya kepada bosnya.


"A-anu… pak, kita akan pergi kemana?" Tanya Thika gugup.

__ADS_1


"Kau sudah seperti ini dan masih bertanya? Tentu saja mengajakmu pergi makan, bukankah kau belum makan siang? Itu terlihat dari wajahmu yang pucat dan ya, saya tidak menerima penolakan!" Ucap Abi dengan suara yang dinaikkan satu oktaf dan ekspresi datarnya.


Mendengar itu, Thika pun tidak bisa berkata-kata lagi. 15 menit kemudian, mereka sampai di sebuah restoran. Abi pun mencari tempat duduk dan mulai memesan makanan.


"Kamu bisa pesan apa yang kamu suka" titah Abi kepada Thika.


Thika pun mengangguk tanda mengerti. Setelah itu, Abi pun memanggil pelayan dan memesan makanan.


"Tuan muda Abi dan mbaknya, mau pesan apa?" Tanya seorang pelayan wanita.


"Saya steak dengan minuman orange juice" ucap Abi.


"Saya nasi goreng dengan teh hangat ya mbak" jawab Thika.


Tidak ada pembicaraan lain lagi setelah itu, bahkan saat makanan mulai tersaji di depan mata. Mereka pun makan dengan keheningan. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan, dan suara pengunjung lain. Karena merasa tak enak, Thika pun berbicara memecah keheningan yang ada.


"Pak… terimakasih karena bapak mentraktir saya makan" ucap Thika dengan gugup disertai senyum getir.


"Emm…" ucap Abi dengan deheman.


Setelah selesai makan dan melakukan Abi melakukan pembayaran. Dia berniat mengantar Thika pulang namun, ditolaknya. 


"T-tidak usah mengantar saya pak, saya bisa pesan taksi online" ucap Thika sungkan. 


Abi pun memaksa. "Ikut lah! Saya sama sekali tidak suka dibantah!" Titah abi. Lalu Abi pun mengantar Thika hingga sampai apartemennya.


Bersambung…. 


Ini adalah novel pertamaku, jadi maaf jika ada kesalahan kata maupun kesamaan nama tokoh.


Dipersilahkan memberikan masukan. (Kritik dan Saran)

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya💞💞


__ADS_2