
Diseberang sana Roy merasakan firasat buruk yang akan menimpanya. Entahlah dia juga tidak tahu.
*
*
Saat ini Abi dan Thika sudah berada di dalam mobil Thika. Mobil yang diberikan oleh Ayahnya untuknya namun, karena Thika yang mempunyai sifat sederhana membuatnya lebih suka menggunakan angkutan umum atau memesan taxi daripada mobil pribadi.
Di dalam mobil keheningan terjadi. Abi fokus menyetir dengan menatap jalan, sedangkan Thika duduk di samping dengan pandangan matanya yang selalu menatap pemandangan jendela samping di sepanjang jalan. Walau begitu pikiran mereka berdua masih berada pada saat momen ciuma* yang hampir terjadi di antara mereka.
Kalau saja tidak ada dering ponsel bisa dipastikan saat ini mungkin mereka saat ini sudah melakukan ciuma* panas dan melakukan sesuatu yang lebih lagi. Thika bukanlah gadis polos yang tidak tahu apa yang akan terjadi pada wanita dan pria setelah ciuma*.
*
*
*
Saat ini mereka sudah sampai di mansion Abi. Di depan pintu sudah ada Roy, Roni dan Pak Man.
Abi menatap Roy dengan tatapan sengit, ia masih kesal karena Roy yang meneleponnya disaat yang tidak tepat.
"Bos ada sesuatu yang perlu kusampaikan." Ucap Roy serius.
"Kita akan bicarakan di dalam." Ucap Abi. Segera Abi pun melangkah ke dalam menuju kamarnya. Membiarkan Roni untuk mengobati luka yang dia dapatkan.
Di dalam kamar sudah ada Roni, Roy dan Thika. Roy mengurungkan niatnya untuk memberitahu masalah yang terjadi mengingat sang bos masih harus diobati.
__ADS_1
Dengan segera Roni membuka perban yang melingkar di dada Abi. "Wow lilitannya sangat rapi, kamu pernah belajar di kesehatan sebelumnya?" Tanya Roni yang kagum dengan teknik melilit luka Thika.
Thika pun malu karena dipuji. "Ah… aku tidak belajar di kesehatan sebelumnya. Ayahku sebelum pensiun adalah seorang tentara. Aku belajar tentang mengobati luka dari dokter yang berada di markas." Ucap Thika. Abi dan Roy tampak saling melirik.
"Lalu apakah kamu yang mengambil peluru dari dalam tubuh Abi?" Tanya Roni lagi. Thika pun mengangguk.
"Kau sangat hebat bisa mengeluarkan pelurunya walaupun masih perlu belajar sedikit lagi." Puji Roni sambil mengobati Abi.
"Oh ya kenapa kau tidak segera menelpon ku?" Tanya Roni kepada Thika.
"Aku sudah menelpon kakak berulang kali tapi tidak kakak angkat. Karena itu aku membawa Abi ke apartemenku." Jawab Thika. Mendengar itu Roni hanya bisa tersenyum kikuk.
Setelah selesai mengobati Abi, Roni pun membereskan barang barangnya lalu memberikan Abi obat anti inflamasi.
Abi pun menyandarkan punggungnya di headboard ranjang. "Thika bisakah kamu membuatkanku bubur ayam? Aku ingin memakan masakanmu." Ujar Abi menatap Thika yang berdiri di sampingnya.
Setelah kepergian Thika, Abi pun menyuruh Roy melaporkan penyelidikannya.
"Bagaimana? Siapa dalang dibalik ini?" Tanya Abi kepada Roy.
Roy pun melihat ponselnya sekilas, melihat laporan yang dikirim oleh bawahannya. "Kami masih tidak tahu bos, tapi di pundaknya ada lambang ular. Kemungkinan itu Geng Black Snake." Ucap Roy lalu memberikan ponselnya memperlihatkan sebuah gambar kepada Abi.
Abi memperhatikan dengan seksama. "Aku rasa ini memang Geng Black Snake tapi, bukankah mereka tidak ada pergerakan beberapa tahun ini?" Gumam Abi.
Roy mengangguk. "Aku juga setuju. Tapi apa motifnya kali ini?" Pikir Roy.
Disaat semua orang disana berpikir keras mencari pelaku dari masalah yang terjadi. Roni hanya duduk dan menonton.
__ADS_1
"Bukankah Geng Black Snake terakhir kali terlibat dengan kalian saat kejadian lima tahun yang lalu? Dan sekarang mereka muncul lagi. Bukankah ada sedikit keanehan?" Celetuk Roni dengan santainya.
Abi dan Roy menoleh ke arah Roni. "Akhir-akhir ini mereka berulah lagi, bukankah ada maksud tersembunyi. Apakah kalian tidak merasakan bahwa mereka dari dulu menargetkan keluarga Dewantara. Selalu mengincar kita disaat kita lengah?" Lanjut Roni lagi.
Abi dan Roy sedikit terkejut mendengar penuturan Roni. Abi dan Roy yang menjadi saksi kejadian lima tahun lalu. Tapi kenapa Roni yang tidak terlibat bisa memiliki pemikiran itu, yang bahkan Abi dan Roy sendiri tidak kepikiran.
"Bagaimana kau bisa tahu Ron?" Tanya Roy kepada saudara kembarnya.
Roni memegang dagunya. "Ini hanya hipotesis ku saja. Kalau mereka mau, mereka bisa saja menyerang kita beberapa tahun kebelakang bukan? Kenapa harus sekarang?" Ujar Roni.
Abi mengangguk mengerti dari maksud yang dibicarakan Roni. Apakah ini masih ada sangkut pautnya dengan kejadian lima tahun lalu? Lalu siapa ketua Geng Black Snake sebenarnya? Pikir Abi.
Abi menoleh ke arah Roy. "Roy suruh anak buah kita menyusup ke markas Black Snake cari tahu siapa ketua nya. Dan jangan sampai ketahuan." Titah Abi kepada Roy.
"Baik!" Jawab Roy singkat.
Roni menyipitkan matanya. "Aku kasihan kepadamu brother. Bukankah ketua klan mafia Golden Eagle adalah Abi? Kenapa kau yang terlalu bekerja keras?" Celetuk Roni tak berfilter.
Abi menatap tajam ke arah Roni. Melihat itu Roni sedikit ketakutan. "Ahh sepertinya aku ada jadwal operasi sekarang. Aku pergi dulu ya! Bye!" Ucap Roni lalu secepat kilat pergi keluar dari kamar Abi.
Abi menghela nafasnya, sedikit kesal terhadap ucapan Roni. "Dia kira memimpin perusahaan dan memimpin klan sangat mudah huh?!" Ketus Abi.
Mendengar itu, Roy yang masih berada di dalam ruangan bersama Abi dengan cepat menenangkan bosnya itu. "Sabar bos, jangan dengarkan dia. Baiklah aku akan pergi ke markas dulu." Pamit Roy lalu pergi meninggalkan Abi.
"Tunggu!" Ucap Abi.
Bersambung….
__ADS_1