Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Tolong Bantu Aku


__ADS_3

Tak patah semangat, dia berpikir mungkin Thika saat ini bersama kakaknya. Lalu dengan segera pergi ke kediaman Sanjaya.


*


*


*


Beberapa waktu sebelum kepulangan Abi.


Thika pun baru tersadar dari tidurnya, bisa dia rasakan tubuhnya sedikit lemas. Lalu dia pun melihat tangan kanannya yang dipasang infus karena susah digerakkan.


Tak lama, Bi Sri datang ke kamar membawakan Thika makanan. "Non, makan bubur ini dulu ya. Biar ada tenaga. Mau bibi suapi atau makan sendiri?" Tanya Bi Sri.


"Makan sendiri saja Bi." Ucap Thika lemah. Lalu Bi Sri keluar dari kamarnya.


Setelah selesai makan, Thika melepaskan infusnya secara paksa. Lalu pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya. Setelah itu dia menyiapkan sebuah tas sedang, untuk menaruh beberapa baju dan dokumen penting yang dia miliki.


Ya, Thika berencana meninggalkan mansion tersebut. Sudah cukup dia diperlakukan dengan buruk selama ini. Setelah selesai bersiap-siap Thika pun menulis surat yang ditaruh di atas nakas.


"Sudah cukup! Jangan menangis lagi, demi pria yang sudah mempermainkan mu!" Ucapnya pada diri sendiri lalu menghapus lelehan bening yang sedari tadi membasahi pipinya.


Dengan cepat Thika mengambil sprei yang sudah diikat sedemikian rupa. Untuk dirinya turun dari lantai dua. Dia pun mencari momen yang tepat agar tidak diketahui oleh orang-orang yang menjaga ketat mansion dari segala penjuru.


Tak berselang lama, Dewi Fortuna seakan berada di pihaknya. Para bawahan Abi sudah mengendurkan pengawasannya. Dengan cepat Thika turun dari lantai dua dengan hati-hati melalui jendela. Sangat hati-hati agar dia tidak membuat sprei robek sehingga membuatnya terjatuh dengan keras di tanah.


Setelah itu, sampai di tanah dengan selamat. Dia pun memanjat pohon yang tumbuh dekat tembok pagar agar bisa keluar dari mansion. Lalu berlari sedemikian pesatnya sehingga menjauh dari sana.


Saat ini tujuan Thika yaitu pergi ke kantor dimana kakaknya bertugas. Jika saat ini dia ke makam atau rumahnya bukannya akan ketahuan oleh Abi jika dia pergi. Dia tidak ingin lagi bertemu dengan Abi untuk saat ini.

__ADS_1


Kembali ke masa kini.


Tak berselang lama, Abi pun sampai ke kediaman Sanjaya. Dengan cepat melangkah masuk ke kediaman tersebut.


Bisa dia lihat Mahen dan seseorang sedang berbicara dengan serius.


"Mahendra! Apa Thika ada disini?" Tanya Abi dengan nafas yang tergesa-gesa.


Mahen sedikit mengerutkan keningnya. "Kau! Seharusnya memanggilku kakak ipar. Dasar! Ada masalah apa?" Ketus Mahen.


"Thika tidak ada di mansion, jadi aku pikir dia ada disini. Aku sudah mencarinya di berbagai tempat tapi tidak ketemu." Ucap Abi dengan nada sendu.


Melihat gelagat Abi, Mahen pun maju bertanya kepada Abi. "Apa yang sudah kau lakukan pada adikku huh?!! Dia bukan tipe orang yang lari dari masalah!" Ucapnya.


Abi menunduk. "Aku…. Bersalah padanya. Jadi mungkin dia marah karena aku tidak mengizinkannya keluar untuk melayat." Ucap Abi.


Bugh!


"Berani sekali kamu! Kamu tahu betapa Thika menyayangi Ayah? Bagaimana perasaannya saat kamu melarangnya bertemu ayahnya untuk terakhir kali, apa kamu tahu?" Tanya Mahen dengan amarahnya.


Bugh!


Bugh!


Mahen memukul Abi dengan keras, sampai akhirnya dia menyerah.


"Keluar dari sini! Aku sendiri yang akan mencari Thika dan jangan datang temui adikku lagi!" Ucap Mahen dengan nada ketusnya.


Sementara Abi dengan terpaksa berjalan tertatih keluar menuju mobilnya. Dia sendiri merasa area wajahnya sakit namun, tidak sesakit hatinya saat ini karena menghilangnya Thika.

__ADS_1


Sementara Mahen.


Melihat kepergian Abi dengan kemarahan yang masih terpancar. Bagaimana dia bisa lupa ketika adiknya menelponnya dari telepon kantor. Bahkan suaranya terdengar lirih seperti habis menangis.


Mahen dan Nisha yang masih ada di pemakaman pun dengan cepat menemui Thika yang sudah berada di ruangan kantor Mahen.


"Thika!" Teriak Mahen ketika membuka pintu ruangannya.


Thika bangkit lalu memeluk kakaknya dengan erat. "Kakak!" Ucapnya menahan tangis. Mendengar itu, Mahen mengelus pucuk kepala adiknya. Setidaknya itu, akan menenangkan dirinya.


Nisha mendekat. "Katakan, apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa seperti ini?" Tanya Nisha. Dia tahu bahwa sahabatnya pasti tidak sedang baik-baik saja.


Thika mengurai pelukannya. Mahen pun menghapus air mata adiknya yang tumpah. "Aku…."


"Kita bicarakan sambil duduk." Sela Mahen.


Mereka pun duduk lalu mendengarkan cerita yang disampaikan oleh Thika. Mahen dan Nisha pun tidak menyela, membiarkan Thika mengeluarkan semua permasalahannya. Bukankah disaat orang berada di titik terendahnya, orang tersebut butuh sebuah sandaran dan itu bisa dilakukan dengan mendengarkan ceritanya.


Thika pun sudah selesai menceritakan permasalahan yang dihadapinya. "Kak, maafkan aku. Aku salah karena tidak percaya kepada kakak. Hiks…. Aku telah dibutakan oleh cinta dan perhatian yang diberikan olehnya." Isak Thika memeluk kakaknya.


Sementara Mahen mengelus lembut surai kehitaman adiknya. Setelah mendengar cerita adiknya jelas dia sangat marah. Bahkan saat ini dia ingin menemui Abimanyu lalu memukulnya dengan keras.


"Kak, hatiku sangat sakit…." Ucapnya sambil memegang dada kirinya.


Nisha pun sedikit khawatir melihat keadaan sahabatnya. Mungkin saat ini yang dia butuhkan adalah sedikit liburan, menghilangkan sedikit rasa sakit yang dia alami. Dia tahu meninggalkan masalah bukanlah hal yang baik, tapi hanya itu pilihan yang bisa meringankan masalah yang dihadapi sahabatnya.


"Jadi, apa rencanamu setelah ini? Apa kamu mau pergi meninggalkan suamimu?" Tanya Nisha yang melihat tas yang tadi dibawa Thika.


Thika pun melirik Nisha. "Kak, Nis, tolong bantu aku…." Ucap Thika.

__ADS_1


Bersambung…..


__ADS_2