Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Ajakan Vino


__ADS_3

Thika pun sudah menaruh piring kotor lalu melenggang menuju ruangannya. Namun ditengah jalan seseorang memanggilnya dari arah belakang.


"Thika!" Teriak Vino menyapa Thika. Ia pun mendekat.


Thika berbalik lalu tersenyum simpul. "Eh… Ada apa Vin?" Tanya Thika.


"Em… A-anu malam ini kamu ada waktu gak?" Tanya Vino ragu-ragu.


Thika tampak berpikir sebentar. "Kayaknya gak ada deh. Emang kenapa?" Tanya Thika lagi.


Vino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Emm Aku mau ngajak kamu dinner boleh kan?" Ucap Vino bertanya kepada Thika.


"Oke deh, kasih tau jam sama alamatnya lewat Whutsup. Maaf kalo nanti telat ya, takutnya nanti ada kerja lembur." Ucap Thika ragu-ragu memberi jawaban, karena belum tentu Thika bisa pulang seperti pegawai biasa.


Vino pun mengukir senyum termanisnya. Wajahnya berbinar-binar karena Thika menerima ajakannya. "Ok, nanti Aku kabarin lagi." Ucap Vino sambil mengangkat tangannya yang jarinya sudah membentuk simbol 👌.


*


Setelah perbincangan singkatnya dengan Vino. Thika pun kembali ke ruangannya. Di atas mejanya sudah aja segudang pekerjaan yang menunggunya.


Thika pun sebisa mungkin mengerjakan pekerjaannya dengan cepat agar bisa pergi memenuhi ajakan Vino.


*


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Thika pun sudah membereskan berkas-berkas yang dikerjakannya. 


Bunyi denting ponselnya mengejutkannya. Sebuah pesan dari Vino, yang isinya jam dan lokasi restoran tempat mereka akan dinner. Lalu mengambil ponselnya memberitahu Vino bahwa ia akan datang sekitar 20 menit.


Thika pun pergi dari perusahaan lalu menyetop taksi untuk mengantarnya ke lokasi yang sudah diberikan Vino. Diperjalanan perasaannya terasa tidak enak. Ia merasa seperti melupakan sesuatu tapi tidak tahu apa.

__ADS_1


Thika pun sudah sampai. Ia menempuh 25 menit perjalanan. Ia bersyukur karena sampai tepat waktu, karena pada jam seperti ini akan terjadi macet.


Thika mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk yang diberitahu Vino. "Thika disini!" Teriak seseorang yang tak lain adalah Vino. 


Dengan cepat Thika menuju meja Vino. "Hai Vin lama nunggu ya?" Tanya Thika menyapa.


"Gak kok, gak lama." Jawab Vino, disertai senyum.


Tak lama pelayan datang lalu mencatat pesanan mereka. 20 menit kemudian hidangan sudah tersaji di atas meja makan. Thika pun memakan makanannya dengan lahap.


Vino memandang lekat-lekat wajah Thika. Wajah yang sudah dia kagumi semenjak SMA. Wajah dengan senyum manis yang merekah. Dengan lembut Vino menggenggam lembut kedua tangan Thika.


Diusapnya lembut  punggung tangan Thika dengan ibu jarinya. "Thika… Ada yang mau Aku bicarakan." Ucap Vino dengan suara lembutnya.


Thika pun menatap manik mata Vino yang berwarna kecoklatan. 


Vino menghirup oksigen dengan cepat lalu, menghela nafasnya pelan. "Thika,,, sebenarnya sudah lama Aku suka sama kamu. Dari kita SMA. Disaat orang lain tidak mau dekat denganku, kamu dengan percaya dirinya mendekat ke arahku. Membuat Aku seketika jatuh cinta padamu. Apakah kamu mau menjadi pacarku Thika." Ucap Vino dengan sekali helaan nafas.


"Thi tidak perlu dijawab sekarang, Aku akan menunggu jawabanmu." Sela Vino cepat.


Thika pun tersenyum dengan kepalanya yang selalu tertunduk. Ia sedang memikirkan jawaban apa yang akan diberikan kepada Vino.


Dengan cepat Thika mendongakkan kepalanya lalu menjawab ungkapan cinta Vino. "Vin aku juga suka sama kamu." Ucap Thika.


Vino tak bisa mengekspresikan perasaannya lagi. Ia merasa ada bunga-bunga yang sedang bermekaran di hatinya. Dengan cepat Vino mendekatkan kepalanya ke wajah Thika. Semakin dekat, semakin dekat lagi, mengikis jarak keduanya. 


"Vin...." Ucap Thika dengan detak jantungnya yang semakin cepat. Sehingga membuat Thika menghirup nafasnya dengan cepat.


"Vin...." 

__ADS_1


"Vin!" Teriak Thika untuk kedua kalinya. Karena melihat Vino yang melamun bahkan ia belum menyentuh makanannya.


Vino pun tersadar. Ia mengusap wajahnya kasar. Ternyata itu semua hanya khayalan nya saja. Khayalan ia yang mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam. 


"Ada apa Vin?" Tanya Thika.


Vino menggeleng pelan. "Nggak apa kok, mungkin sedikit kelelahan." Jawab Vino santai. Lalu memakan makanannya.


Thika mengangguk. Tak lama dering ponsel Thika mengagetkan mereka yang sedang memakan masakannya. Dengan cepat Thika menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Ia tak ingin Vino melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Lalu menjauh untuk mengangkat telepon. 


📞"Dimana kamu?! Kenapa belum pulang!?" Teriak Abi dari seberang sana.


"Emm… Aku sedang makan malam." Jawab Thika.


📞"Pulang sekarang! Atau Kamu akan tahu hukumannya!" Ancam Abi serius.


Thika terdiam mendengar ancaman Abi. Lalu menjawab Abi lagi. "B-baik Aku akan pulang sekarang." Jawab Thika.


📞"Sudah ada mobil diluar naik saja!" Titah Abi. Lalu langsung menutup teleponnya.


Thika pun terburu-buru berpamitan pada Vino. Ia merasa tak enak hati karena pulang duluan. 


"Maaf Vin." Ucap Thika yang masih merasa bersalah.


"No Problem, kita bisa melanjutkannya lain hari." jawab Vino. Mengukir senyum.


Thika pun sudah ada di depan restoran lalu berlari kecil menuju mobil yang sudah menunggunya.


Pantesan ia merasa seperti melupakan sesuatu, ternyata ia lupa memberitahu Abi yang saat ini menjadi suaminya. Batinnya merutuki kebodohannya.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2