
Abi pun menggerakkan matanya perlahan, lalu membuka matanya. Ia mendadak bangun karena merasa sedikit haus. Abi hendak bangun dari tidurnya tapi ia merasa seperti ada yang melingkar di atas perutnya. Dia pun melirik ke arah samping.
Dilihatnya Thika yang masih tidur. Fokus Abi saat ini ada pada tangan Thika yang masih memeluk tubuhnya. Apakah sepanjang tidurnya Dia selalu memeluk dirinya? Abi membatin.
Tidur Thika sedikit terusik karena Abi yang menggerakkan sedikit badannya. "Hmm… Abi tidur ya mama gak kemana-mana kok." Ucapnya mengigau. Dengan matanya yang masih tertutup rapat. Abi mengulum senyum, merasa lucu.
Abi berniat menaikkan selimut Thika yang sedikit merosot, namun atensinya berubah ketika melihat tanda merah yang berada di tangan Thika. Tanda yang seperti genggaman tangan yang sangat kuat.
Abi terkejut. Apakah dirinya yang sudah melakukan itu? Abi membatin lagi.
Tak lama ia mendengar suara perut yang keroncongan, bunyi itu tidak lain dan tidak bukan adalah bunyi perut Thika. Abi melirik sekilas di atas nakas yang masih ada semangkuk mie, bahkan belum tersentuh sedikitpun. Abi menjadi tidak tega, karena membuat Thika kelaparan karena mengurusnya.
Abi pun membangunkan Thika pelan, mengelus pipi mulusnya lalu menepuk pelan pipinya. Tapi tidak ada respon yang diberikan oleh Thika. Abi menghela nafasnya, lalu beranjak menggoyangkan bahu Thika dengan keras agar dia bangun.
Thika mengerjap pelan. "Kakak lima menit lagi ya." Gumam Thika lalu kembali menyelimuti dirinya.
"Kalo Kamu gak bangun dalam lima menit, kamu lihat apa yang akan Aku lakukan." Goda Abi sambil menoel-noel pipi Thika.
Seketika Thika terkejut mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Ia pun langsung bangun dari tidurnya lalu melihat Abi yang sudah duduk di atas ranjang.
"Kamu sudah bangun ya?" Bagaimana apa masih tidak nyaman?" Tanya Thika. Tangannya terulur menyentuh kening Abi, memeriksa apakah dia masih demam.
Mendapat perlakuan seperti itu, Abi menjadi sedikit merona. "Uhuk!" Abi menetralkan detak jantungnya yang berdetak kencang.
"Sudah tidak panas, tapi kenapa wajahmu merah?" Tanya Thika lalu menjauhkan tangannya.
"Kamu makan dulu sana, perutmu dari tadi berbunyi. Aku akan mandi dulu." Elak Abi.
__ADS_1
"Kalau mau mandi jangan sampai lukanya terkena air. Di lemari ada setelan baju pria kamu bisa pakai itu." Ucap Thika.
"Hiks mie ku jadi kembang, tidak akan enak bila dimakan." Ucap Thika yang sedih karena mie nya sudah dingin.
Abi pun mengernyit. "Kenapa? Bukannya bisa bikin lagi?" Ujar Abi.
"Kan kasian kalau dibuang, tanpa mie hidupku tidak akan ada artinya." Ucap Thika. Dengan pemikirannya yang seperti anak kos akhir bulan.
Deg!
Abi terkejut, bagaimana bisa Thika mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya. Seorang gadis yang sangat menyukai mie di masa lalu. Apakah di dunia ini ada dua orang yang mirip bahkan cara mereka berbicara juga mirip? Batinnya.
"Sudahlah aku akan bikin mie lagi, kamu mandi dulu lalu kita akan ke mansion." Ucap Thika. Lalu pergi menuju dapur.
Abi pun menuju kamar mandi guna membersihkan dirinya.
"Kemari, ini ada bubur makanlah dulu!" Ucap Thika. Abi pu duduk disamping Thika.
Abi diam tidak menyantap makanannya. "Bubur aja? Gak ada lauknya?" Tanya Abi.
Thika memutar bola matanya malas. "Kamu masih sakit, jangan sembarang makan dulu." Jawab Thika.
Dengan terpaksa Abi memakan bubur tersebut. Setelah memakan beberapa suapan Abi memiliki ide jahil. Ia pun menyendok mie yang dimakan Thika lalu memakannya tanpa dosa. Thika yang melihat itu mencebik kesal.
"Hei jangan makan mie aku dong!" Ucap Thika dengan kemarahan tingkat dewa. Thika bisa berbagi apapun asalkan tidak berbagi mie nya.
Abi tertawa terbahak-bahak, bagaimana gadis di depannya ini menjadi begitu imut. Pikirnya.
__ADS_1
"Maaf, habisnya buburnya hambar." Ucap Abi tanpa dosa.
"Bubur kan memang hambar!" Ketus Thika.
Abi tersenyum, lalu mengangkat tangannya mengusap wajah Thika yang sedikit belepotan karena makan. Seketika wajah Thika merona, ia pun membuang wajahnya agar tidak dilihat oleh Abi.
Abi pun meraih dagu Thika agar mata cantiknya menatap wajahnya. Tangan kanan Abi merapikan anak rambut Thika menyelipkannya ke belakang telinga. Sentuhan itu, cukup membuat Thika merasakan sensasi seperti tersengat.
Abi pun memajuka wajahnya, deru nafas mereka berdua saling bertemu. Seketika itu membuat Thika meremang. Abi semakin mendekatkan wajahnya. Refleks Thika memejamkan matanya. Tangannya sudah meremas ujung bajunya.
Disaat mereka sudah semakin dekat tiba-tiba ponsel Abi berdering. Mereka berdua pun tersentak kaget, lalu membuang mukanya ke arah yang berlawanan.
Malu? Tentu saja! Dia hampir saja ******* Abi lagi. Lagi? Ah benar ****** pertamanya sudah dia berikan kepada pria yang duduk disampingnya. Pikir Thika.
Dengan cepat Abi beranjak dari duduknya lalu mengangkat teleponnya.
"Halo!" Ketus Abi.
📞"Halo. Bos ada dimana ada sesuatu yang perlu didiskusikan." Ucap Roy yang menelepon di seberang sana.
"Aku bersama Thika di apartemennya, dan sekarang aku akan pulang!" Jawab Abi ketus. Lalu langsung mematikan sambungan teleponnya.
'Awas saja Roy!' kesal Abi dalam hatinya.
Diseberang sana Roy merasakan firasat buruk yang akan menimpanya. Entahlah dia juga tidak tahu.
Bersambung….
__ADS_1