
Tak lama mobil putih memasuki halaman mansion. Seseorang lalu turun dari mobil putih itu. Lalu melangkah menuju kearah Thika dan Fani.
"Ada apa ini? Kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Roni yang menatap tajam kearah Fani. Ya, orang yang menaiki mobil putih itu adalah Dokter Roni.
Fani hanya tersenyum kikuk. Berhadapan dengan Roni jelas membuatnya sedikit ciut. Walaupun hanya seorang dokter tapi, auranya bahkan sama saat Abi atau Roy marah atau kesal. Lagipula laki-laki itu jelas tidak menyukainya sama sekali. Bahkan sikapnya juga sama kepada Vira di masa lalu. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu kenapa bisa sangat membencinya dan juga kakak tirinya. Fani pernah berfikir mungkin Roni tahu tentang rencananya. Tapi sayangnya dia sama sekali tidak mempunyai bukti.
"Ah K-kak Roni, aku hanya berbincang dengan Thika." Ucapnya gugup.
"Kalau sudah selesai silahkan keluar! Kunjunganmu sama sekali tidak diharapkan disini." Ucap Roni dengan tatapan tidak bersahabat nya.
Fani dengan cepat berlalu meninggalkan halaman mansion mewah tersebut. Batinnya menggerutu. 'Ngapain si Roni datang segala sih. Dari dulu selalu saja jadi penghalang.'
*
Roni dan Thika pun masuk ke dalam mansion setelah melihat kepergian Fani. Saat ini mereka sedang duduk di sofa ruang tamu sambil ngemil cookies yang kemarin dibuat Thika.
"Wow ini enak sekali. Kamu yang buat ya?" Tanya Roni setelah memuji Thika.
Thika jelas malu. "Eh iya kak, cuma iseng buatnya." Jawab Thika.
Roni mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang. "Abi dimana? Kok gak keliatan?" Tanya Roni.
__ADS_1
"Abi sedang ada urusan diluar." Jawab Thika. Setelah itu menunduk. Entahlah dia masih kepikiran perkataan Fani tadi.
"Kak, aku mau tanya sesuatu apa boleh? Ini mengenai Fani." Tanya Thika yang masih menundukkan kepalanya.
"Tanyakan saja apa yang mau kamu tanyakan. Akan aku jawab jika aku tahu." Jawab Roni.
Thika mendongak menatap Roni. "Bagaimana hubungan Abi dan Vira dulu?" Tanya Thika.
Roni tersenyum. "Kau tahu sebagai pasangan suami istri sudah sepantasnya berbagi informasi bahkan rahasia sekalipun. Sebagai istri kamu berhak mengetahui rahasia suami bahkan rahasia mengenai wanita yang pernah bersamanya sebelum dirimu. Tapi, untuk pertanyaanmu ini aku tidak bisa menjawabnya, karena itu adalah privasi Abi. Dan kamu yang lebih berhak dan pantas menanyakannya karena kamu adalah istrinya."
"Tapi, aku bisa memberitahu sedikit. Di masa lalu Abi memperlakukan Vira dengan sangat baik. Karena Vira adalah gadis yang ditemui Abi di masa lalu. Entahlah aku juga tidak tahu pasti. Tapi karena insiden Vira meninggal tepat di depan Abi, itu membuatnya sedikit terpukul. Dan mengenai Fani di masa lalu dia sangat membenci kakaknya sendiri. Aku tidak terlalu paham apa masalahnya, tapi masih berkaitan dengan Abi." Lanjut Roni.
Thika hanya mendengarkan apa yang Roni katakan. Setiap kali Thika berbicara dengan Roni entah itu mengingatkannya dengan mendiang ibunya. Karena Ibunya selalu memberikan saran maupun motivasi setiap Thika mengeluhkan sesuatu. Begitu juga Roni yang mampu memberikannya pencerahan dikala dia sendiri sedang kesulitan.
Thika tersenyum. Lega setelah menceritakan isi hatinya kepada Roni. "Baik kak." Ucap Thika semangat.
Tiba-tiba bunyi perut keroncongan berbunyi. "Hehehe aku lapar, karena tadi pagi tidak sarapan. Apa makanannya sekarang sudah siap?" Tanya Roni cengengesan.
Thika sedikit menahan tawanya. "Aku rasa sudah kak." Jawab Thika lalu mengajak Roni ke meja makan.
*
__ADS_1
*
*
Disisi lain, di markas Golden Eagle.
Terlihat Abi dan Roy keluar dari suatu ruangan setelah menginterogasi salah seorang mata-mata musuh yang menyelinap ke markasnya.
Abi pun berjalan menuju ruangannya. "Bagaimana penyelidikan mu tentang geng Black Snake?" Tanya Abi dengan gagahnya.
"Sudah ada kemajuan bos. Kita akan tahu siapa ketua nya mungkin dalam satu Minggu." Jawab Roy, yang senantiasa berada di belakangnya Abi.
Abi pun sudah sampai di ruangannya, ruangan yang bernuansa serba gelap. Lalu dia pun duduk di kursi kebesarannya. Yang menyatakan bahwa dia adalah ketua klan mafia Golden Eagle.
"Lalu bagaimana dengan masalah Thika di kantor?" Tanya Abi.
Roy pun dengan cepat memberitahu info yang sudah dia dapatkan. "Sudah bos. Masalah waktu itu bukan nona Thika yang melakukannya karena dia dijebak. Ada seseorang yang mengubah dokumen tersebut." Ucap Roy menjelaskan.
Abi pun memangku dagunya dengan kedua tangannya yang berada di atas meja. "Siapa yang melakukannya?" Tanya Abi. Bahkan dia ingin sekali membuat orang yang mengganggu Thika mendapatkan balasannya.
"Yang melakukannya adalah Maya di bagian pemasaran. Dia juga yang pernah bertengkar dengan nona Avanthika sampai tangan nona Thika sedikit melepuh karena terkena kopi panas." Jawab Roy.
__ADS_1
Abi yang mendengarnya sedikit geram. Rahang kokohnya tampak mengeras, bahkan sampai memperlihatkan urat-urat di lehernya. "Besok suruh dia ke ruanganku, aku sendiri yang akan memecatnya!" Ucap Abi dengan amarah membara terpancar di matanya.
Bersambung…..