
Sementara seorang pria mendatangi anak buah Abi di sebuah hutan belantara tempat dia yang sedang melakukan misi di markas Black Snake. Memberinya sebuah tas kecil berwarna hitam.
"Ambil ini! Mungkin akan membantu pekerjaanmu!" Ucap Pria yang memberi tas hitam kecil itu.
Bawahan Abi mengernyit. "Tapi, siapa anda? Kenapa saya harus percaya kepada anda?" Tanyanya lagi penuh selidik. Tidak mungkin dia menerima sesuatu dengan sembarangan. Apalagi orang di depannya itu memakai jaket, topi dan masker berwarna hitam.
"Percayalah padaku!" Ucap pria itu. Lalu pergi dari tempat itu secepat mungkin.
Bawahan Abi pun membuka tas kecil itu. Lalu membaca beberapa kertas. Tak lama dia pun terkejut. "I-Ini… aku harus memberitahu tuan Roy."ucapnya.
*
*
*
Matahari sudah menyingsing, bangkit dari peraduannya. Sinarnya sayup-sayup menembus sebuah jendela kamar dengan gorden yang masih tertutup.
Sepasang manusia masih terlelap dalam mimpinya. Setelah beberapa kali merengkuh nikmatnya berci*ta. Sepasang mata dengan bulu mata lentik mengerjapkan matanya perlahan. Mengucek pelan matanya.
Thika pun terbangun dalam pelukan hangat suaminya. Tubuhnya terasa remuk setelah dihajar habis-habisan oleh suaminya. Bahkan area intinya saja masih terasa ngilu.
Dia pun berbalik ke arah samping, tepat dimana suaminya tidur. Tangannya terangkat mengelus rahang kokoh suami yang sudah membuatnya kelelahan itu. Tangannya turun ke area perut sixpack nya lalu mencubitnya. "Dasar! Apakah sudah puas sekarang?" Gumam Thika pelan.
"Sudah dong, Apalagi aku dapetin yang masih ori." Ucap Abi dengan suara parau khas bangun tidur.
Thika terkejut. "Ka-kapan kamu bangun?" Tanya Thika. Takut jika perkataannya tadi didengar.
Abi terbangun lalu mengusap wajah Thika dengan punggung tangannya. "Aku bangun disaat kamu mencubit ku. Itu sakit tau." Ucap Abi menampilkan wajah pura-pura kesakitan.
Thika memutar bola matanya jengah. Ia pun beranjak bangkit dari tidurnya. Namun, tertahan karena masih merasakan sedikit ngilu di area intinya.
Abi pun duduk. "Apa masih sakit?" Tanya Abi.
Thika menyipitkan matanya. "Aku begini ulah siapa?" Kesal Thika.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Abi mengangkatnya, membawanya ke kamar mandi.
"Kyaaa! Abi…!" Teriak Thika dikala tubuhnya diangkat.
"Sudah ku bilang jangan panggil aku seperti itu. Panggil aku seperti kamu memanggilku semalam." Ucap Abi.
Thika tersenyum malu-malu. "Maaf… Hubby." Ucapnya terbata-bata.
Abi menyeringai. "Sudah terlambat!" Ucap Abi. Lalu masuk ke kamar mandi. Bukan hanya untuk mandi tapi mengulang percintaan mereka yang semalam.
*
Saat ini mereka sudah bersiap dengan rapi. Karena mereka akan kembali ke mansion setelah menginap semalam di hotel.
Lalu turun ke lobby hotel bergandengan tangan dengan mesranya. Mereka yang sudah menaiki mobil, lalu melesat dengan kecepatan normal menuju mansion.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, mereka pun sudah sampai di mansion. Thika pun sedikit berlari menuju kamarnya untuk beristirahat, karena kelelahan. Abi menyuruh Bi Sri membuat jus jeruk untuk dibawa ke kamar.
Abi pun masuk ke kamar, dilihatnya Thika yang sudah terbaring di atas ranjang. "Sayang, tidurlah. Kamu pasti lelah." Ucap Abi dengan nada lembut.
Abi hanya cengar-cengir karena rencananya telah dibaca. "Hehehe, kamu benar. Istirahatlah sekarang, karena nanti malam kamu tidak akan bisa istirahat." Ucap Abi menggoda Thika.
Thika hanya mendengus kesal mendengar perkataan suaminya.
Tak lama ponsel Abi berdering, Abi pun mengangkat telepon itu yang berasal dari Roy.
"Sayang, aku ada urusan sebentar. Aku pergi dulu ya." Ucapnya lalu mengecup lembut bibir Thika.
*
*
Di markas Golden Eagle.
Abi pun sudah datang, lalu menuju ruangannya yang didalamnya sudah ada Roy dan beberapa anak buah yang dia tugaskan memata-matai markas Black Snake. Lalu duduk di sofa yang didominasi warna hitam.
__ADS_1
"Bos kamu menemukan beberapa bukti." Ucap Roy, memberitahu Abi.
"Katakanlah!" Titah Abi.
"Ada seseorang yang memberikan beberapa carik kertas. Isinya…." Roy menjeda ucapannya.
"Cepat katakan! Jangan buat aku makin kesal!" Ucap Abi sedikit kesal.
"Isinya bahwa nona Vira dulunya hanya berpura-pura mendekati Anda karena menginginkan kekayaan keluarga Dewantara. Bahkan insiden lima tahun lalu juga masih berhubungan dengan rencananya." Jelas Roy.
Abi terkejut. "Siapa yang memerintahkannya dan apa motifnya huh?!" Tanya Abi dengan wajah yang sudah menahan amarah.
Roy kembali menjelaskan. "Yang menyuruh nona Vira adalah ketua black Snake yang tak lainnya adalah paman anda sendiri Dimas Dewantara."
Abi terbelalak kaget. Lalu menggebrak meja di depannya. "APA!!! Apa maunya lagi? Dan kenapa dia menggunakan Vira untuk mendekatiku?" Kesal Abi.
"Dari kertas ini, paman anda tidak puas karena pembagian warisan yang dilakukan kakek anda dulu. Selain itu, ayah saya juga mengatakan bahwa sedari dulu paman ada sudah iri kepada adiknya yang tak lain adalah ayah anda. Padahal kakek dan nenek anda sangat menyayanginya seperti anak kandung, walaupun dia hanya anak angkat."
"Dan paman ada menggunakan nona Vira karena ayah nona Vira meminta bantuan kepada paman anda. Karena ingin balas dendam ke keluarga Sanjaya. Saya tidak tahu masalahnya seperti apa. Tapi hanya itu yang tertulis di sini." Ucap Roy.
Abi menghela nafasnya. Jadi, pamannya yang selama ini membuat skenario membuat beberapa keluarga berselisih karena ketamakannya.
Abi memijit pelipisnya. "Apakah kau melihat wajah orang yang menyerahkan ini?" Tanya Abi kepada bawahannya.
Bawahannya menunduk. "Maaf tuan, dia menutupi dirinya dengan menggunakan masker. Saya bisa saja membekapnya, tapi itu akan membuat anggota black Snake mencurigai saya nantinya." Ucap bawahannya.
"Baiklah. Kembalilah dan awasi kembali markas Black Snake!" Titah Abi.
"Sebaiknya kita juga mewaspadai nona Fani. Bisa saja dia juga bekerja dengan paman anda." Sela Roy.
"Kamu benar. Awasi pergerakan Fani, dan atur orang untuk selalu menjaga mansion dan beberapa orang untuk mengawasi Thika. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya!" Titah Abi.
"Dan lagi siapkan seluruh bawahan kita. Dalam dua hari tiga hari kita akan memporak-porandakan markas Black Snake!" Lanjut Abi dengan seringainya.
"Baik bos!" Ucap Roy.
__ADS_1
Bersambung…..