
Saat ini Thika sedang berada di dalam Apartemen yang dulu dia tempati sebelum menikah dengan Abi. Thika pun membawa Abi yang pingsan ke kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. Setelah itu Thika duduk disamping ranjang menatap Abi yang wajah dan jasnya terkena lumuran dara*.
Thika pun mengambil kotak P3K yang ia simpan laci nakasnya. Lalu mengambil gunting dan beberapa wadah untuk menampung bekas kasa atau kapas yang akan digunakan.
Ia pun membuka jas dan kemeja Abi dengan cara mengguntingnya supaya tidak membuat luka semakin buruk. Thika memakai handscoon supaya luka tidak terinfeksi. Ia mengambil kapas lalu membersihkan area luka tembak yang tadi didapatkan Abi.
Thika pun mengambil peluru yang bersarang di tubuh Abi dengan hati-hati menggunakan pinset steril. Bisa dia dengar Abi sedikit meringis disaat Thika mengambil peluru dari dalam tubuhnya. Untung saja peluru tadi tidak mengenai organ vital dan tidak terlalu dalam, sehingga memudahkan Thika mengambilnya.
Setelah mengambil peluru tersebut, Thika pun membalut luka di tubuh Abi melilitnya di dadanya yang berotot. Selang beberapa menit kemudian Thika sudah selesai mengobati luka Abi. Ia pun beranjak melepas handscoon nya membersihkan tangannya. Lalu membersihkan alat-alat yang tadi dia gunakan.
Setelah itu dia duduk di tepi ranjang tempat yang tadi dia duduki. Thika memegang bahunya kanannya memijatnya pelan, karena kesusahan saat membopong tubuh Abi yang besar menuju Apartemennya yang terletak di lantai 3.
Thika pun mengingat kejadian yang menimpanya tadi pagi.
Beberapa saat sebelum sampai di Apartemennya.
Dengan cepat Thika membopong tubuh besar Abi ke arah mobil. Meletakkan tubuh Abi di jok belakang. Lalu ia menyalakan mesin mobil yang tujuannya adalah rumah sakit.
Di perjalanan Thika menelepon Roy karena Abi yang menyuruhnya.
📞 "Halo, sekretaris Roy, bisa kau datang di jalan xxx gang xxx?" Ucap Thika. Pandangannya lurus ke depan menatap jalanan.
__ADS_1
📞 "Ada apa? Apa bos baik-baik saja?" Tanya Roy khawatir karena suara Thika yang sedikit lirih.
📞 "Kami mengalami sedikit insiden. Dan Abi tidak baik-baik saja dia tadi terkena luka tembak dan sekarang aku sedang membawanya ke rumah sakit." Jawab Thika sedikit tegang, matanya melirik Abi sekilas melalui kaca spion depan.
📞 "Jangan tegang, aku dan anak buahku ke alamat yang kamu berikan. Sebaiknya jangan bawa Abi ke rumah sakit karena akan berbahaya. Kamu bawa saja ke mansion lalu telepon Roni." Instruksi Roy kepada Thika.
📞 "Baik!" Ucap Thika lalu mematikan ponselnya.
Thika kembali melirik Abi, bisa dia lihat Abi sedikit meringis kesakitan. Jarak mansion Abi saat ini sangatlah jauh sedangkan Abi saat ini memerlukan pertolongan secepatnya. Dengan terpaksa Thika membawa Abi ke Apartemennya yang memang Agak dekat.
Kembali ke saat ini.
Thika beranjak pergi ke kamar mandi karena tubuhnya yang lengket terkena keringat dan sedikit dara* yang masih menempel di tubuhnya.
Thika keluar dari dalam kamar mandi. Ia pun melihat Abi yang gusar dalam tidurnya. Thika mendekat lalu menyentuh kening Abi. "Panas. Apakah dia demam?" Gumamnya.
Dengan cepat Thika ke dapur mengambil baskom berisi air untuk mengompres. Thika pun kembali ke kamarnya, lalu menempelkan kain ke kening Abi, berharap panasnya akan turun.
Tak lama perut Thika pun berbunyi, tanda bahwa tubuhnya perlu asupan energi. Dia pun melirik jam yang ada di dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Thika pun pergi lagi ke dapur untuk membuat makanan untuknya dan bubur untuk Abi. Untung saja ada beberapa bahan makanan, sehingga memudahkannya untuk memasak.
*
__ADS_1
*
Setelah 20 menit berkutat di dapur, Thika kembali ke kamarnya membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan semangkuk mie.
"Papa… mama… jangan tinggalkan Abi!" Gumam Abi dalam tidurnya. Thika pun mendekat menepuk pelan lengannya.
"Abi bangun, makanlah dulu. Sehabis makan baru tidur lagi ya." Ucap Thika lembut.
Abi pun membuka sedikit matanya, dengan samar dia melihat mamanya dalam diri Thika. "Mama!" Ucap Abi bangkit lalu memeluk Thika. Jika dilihat saat ini Abi terlihat seperti anak kecil, berbeda saat dia memimpin perusahaan. Yang cenderung dingin dan kaku.
Thika yang mendapat serangan mendadak menjadi kaku. Mama? Apakah wajahku sudah kelihatan tua sehingga dipanggil mama? Batinnya menggerutu.
Abi semakin mengeratkan pelukannya. "Mama jangan tinggalin Abi ya? Abi janji gak akan nakal lagi." Ucap Abi.
Thika tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa mengiyakan saja. "I-iya mama gak akan ninggalin Abi kok. Sekarang makan dulu ya abis itu minum obat biar sakitnya hilang." Ajak Thika.
Abi pun tersenyum sumringah. Tapi bila dilihat orang lain mungkin akan menjadi bahan tertawaan. "Janji ya?" Ucap Abi seperti anak kecil yang memohon pada ibunya.
"Iya." Ucap Thika singkat.
Thika pun merapikan bantal, lalu membantu Abi duduk. Thika pun menyuapi Abi dengan telaten, suap demi siap sampai bubur di mangkuk habis tak tersisa.
__ADS_1
Setelah itu Thika memberi Abi minum dan menyuruhnya meminum obat.
Bersambung….