
Disisi lain, Abi berjalan menuju kamar mandi. 'Maafkan Aku sayang. Aku tidak bermaksud membentak mu. Tapi ini juga demi keselamatan kamu.' Batin Abi yang merutuki dirinya karena membentak istrinya.
Sementara Thika hanya diam tak bergeming. Menunggu Abi menyelesaikan mandinya agar dia bisa bicara baik-baik dengannya.
Karena setiap hubungan diperlukan adanya komunikasi yang baik. Jika tidak ada komunikasi yang baik maka hanya akan terjadi kesalahpahaman saja.
Setelah beberapa menit, Abi keluar dari walk in closet dengan memakai baju kaos warna putih dengan celana pendek. Lalu mendekat ke arah ranjang.
Melihat Abi yang sudah selesai mandi, Thika pun bangkit dari tidurnya lalu duduk. "Hubby, ada apa denganmu? Apa aku ada salah padamu?" Tanya Thika. Berbicara baik-baik.
Abi menatap Thika. "Tidak ada." Jawabnya singkat.
Thika pun menghela nafasnya dengan berat. "Jika aku berbuat salah kamu bisa memberitahu nya padaku Hubby. Maaf, kalau aku mempunyai salah padamu." Ucap Thika.
'Kau tidak bersalah sayang. Aku yang bersalah, tolong maafkan suamimu ini.' Batin Abi bermonolog.
"Sudah! Aku lelah, ingin istirahat." Ucap Abi ketus.
Sementara Thika masih menatap Abi yang tidur dengan memunggunginya. Wajah Thika tersirat gurat kesedihan. Tak lama Thika pun tidur.
Setelah mendengar Thika yang sudah tertidur pulas. Abi dengan cepat berbalik badan lalu menatap istrinya. Lalu mencium keningnya. "Maaf." Ucapnya lirih.
*
*
*
__ADS_1
Pagi harinya Thika sedikit merasakan nyeri pada kakinya mungkin itu karena efek cedera yang dia alami pasca kecelakaan.
Thika melihat ke arah samping, dia sama sekali tidak melihat Abi. Karena biasanya Abi tidak bangun sepagi ini. Dia pun sedikit kesulitan untuk ke kamar mandi karena kakinya yang masih belum boleh terkena air.
Setelah beberapa lama akhirnya dia sampai di kamar mandi. Meski masih agak kesulitan bergerak dan masih meraba dinding ketika berjalan.
Setelah itu dia hendak beranjak keluar dari kamarnya, namun dia berpapasan dengan Abi yang ingin mengambil dokumen yang tertinggal. "Diam lah dikamar! Jangan merepotkan orang lain!" Ketus Abi.
Sementara Thika hanya menunduk, berpikir tentang apa kesalahannya. Thika bukanlah seorang wanita yang gampang menangis. Wajar dia agak sedih karena selama dia dibesarkan, Thika sama sekali tidak pernah dibentak atau diperlakukan kasar oleh ayah, kakak laki-laki nya atau mendiang ibunya.
*
Satu Minggu kemudian.
Malam hari dengan ditemani suara detak jam dinding, Thika sedang menunggu suaminya pulang dari kantor. Untuk meminta sebuah penjelasan dari suaminya.
Saat ini cedera yang dialaminya sudah sembuh sehingga dia bisa melakukan kegiatan sehari-hari. Dia pun hanya duduk termangu sampai akhirnya terlelap karena tak kuasa menahan kantuk.
Thika pun mendekati Abi. "Kamu sudah makan? Aku…."
"Lain kali makanlah sendiri! Jangan menungguku! Aku sudah makan!" Ketus Abi lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Meninggalkan Thika yang masih berada di lantai bawah.
Dikamar Abi merutuki dirinya sendiri. "Sabar, hanya tunggu beberapa hari. Setelah itu, aku akan menjelaskan semuanya." Gumamnya.
Sementara dibawah Thika terlihat menahan air matanya agar tidak tumpah. Walau seburuk apapun Abi, dia tetaplah suaminya.
"Tenangkan dirimu. Kamu harus bersabar, bila batas kesabaranmu sudah hilang maka pergilah." Ucap Thika menyemangati dirinya.
__ADS_1
*
Beberapa hari kemudian perlakuan Abi padanya masih sama. Terkesan dingin dan acuh tak acuh. Bahkan Abi tak sekalipun melihatnya, menganggapnya sebagai makhluk transparan.
Pernah sekali Thika pergi ke perusahaan untuk menemui Abi. Namun, apa yang dia dapat? Usiran dari resepsionis dan bahkan diseret secara kasar oleh para scurity. Tak ada yang tahu bagaimana perasaan Thika yang mengalaminya, suaminya sendiri tidak mau menemuinya bahkan mengusirnya. Tatapan para karyawan yang melihatnya diusir seolah membuatnya sedikit malu atau mungkin trauma untuk datang menginjakkan kaki ke perusahaan.
*
Saat ini Thika sedang berada di halaman belakang melihat bunga-bunga yang sebelumnya dia tanam. Setidaknya melihat bunga-bunga bermekaran membuat hatinya sedikit membaik. Tanpa diduga dari arah belakang seseorang mendekat dan mengagetkannya.
"Selamat pagi nyonya Dewantara, ah bukan emmm….. calon mantan nyonya Dewantara." Ucap Fani kepada Thika. Ya, Fani yang dengan entengnya masuk ke rumah orang.
"Kau?! Bukannya kamu tidak diizinkan masuk?" Tanya Thika yang sedikit emosi. Jangan ditanya lagi akhir-akhir ini dia sudah pusing memikirkan hubungannya dengan suaminya sekarang Fani datang tanpa diundang.
Tunggu bukankah Fani sudah mirip jelangkung sekarang? Datang tak diundang pulang tak diantar? Batin Thika.
"Aku sudah diperbolehkan keluar masuk dengan bebas oleh kak Abi. Kenapa?" Tanya Fani dengan nada sombongnya.
Sementara Thika memasang wajah bingung. Entah kenapa Abi membiarkan Fani datang ke mansionnya. Bukankah dia bilang tidak menyukainya?
Fani mendekat lalu duduk di bangku taman, sementara Thika hanya berdiri melihatnya. "Kamu tahu aku kemari ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Ucap Fani. Sementara Thika hanya diam mendengarkan.
"Aku harap kamu jangan berharap lebih kepada kak Abi. Karena sebentar lagi kamu akan diceraikan olehnya. Dan satu hal lagi setelah kalian bercerai aku akan langsung menikah dengan kak Abi. Lagipula kak Abi menikahimu hanya karena balas dendam." Ucapnya lagi dengan angkuhnya.
"Kau….!!!!" Ucap Thika yang tidak bisa berkata-kata lagi.
Lalu Fani bangkit dari duduknya. "Sudah, hanya itu yang perlu aku sampaikan. Aku pergi ya." Ucapnya tanpa dosa.
__ADS_1
Sementara Thika….
Bersambung…….