
Roni pun tepuk jidat melihat kelakuan temannya. "Maksud gue lu udah malam pertama belum?" Tanya Roni.
Abi diam sejenak. Tak lama ia pun menjawab pertanyaan Roni. "Bicarakan nanti setelah sarapan!" Jawab Abi, lalu menuju meja makan.
"Ck" Roni berdecak kesal. Lalu ia menyusul Abi ke meja makan.
Di meja makan, makanan sudah tertata dengan baik, mereka sudah duduk rapi di kursi mereka. Thika pun sudah mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Melihat itu, Roni mengernyit heran. "Thika, bukankah sebagai istri yang baik kamu harus melayani suamimu terlebih dahulu?" Tanya Roni.
Thika hanya bisa tersenyum kecut. Bagaimana bisa dia melayani suaminya, jikalau pernikahan yang dijalaninya cuma pernikahan kontrak.
"Makanlah! Kenapa lo banyak omong sih!" Sarkas Abi, agar Roni diam.
"Bukankah sebagai pasangan suami istri, itu merupakan hal wajar. Seorang istri memiliki kewajiban untuk melayani suaminya dengan ikhlas, seperti mengambilkan makanan, menyiapkan baju dan sebagainya. Dan kewajiban seorang suami adalah membahagiakan istrinya" ujar Roni, yang memberi wejangan kepada Thika dan Abi.
Tep! Thika dan Abi terdiam mendengar perkataan Roni.
"Hey kenapa kalian berdua diam? Ayo makan, nanti makanannya jadi dingin loh!" Ujar Roni memecah keheningan.
Lalu mereka bertiga pun makan dengan pemikirannya masing-masing.
Setelah sarapan Roni dan Abi pergi meninggalkan meja makan. Dan saat ini mereka berdua sedang duduk di sofa yang berada di ruang kerja Abi.
"Bi, gue mau nanya kapan lu nikah sama putri Jendral Sanjaya?" Tanya Roni dengan tatapan penuh selidik.
"Kemarin!" Ucap Abi singkat padat dan jelas.
"Walaupun lo udah nikah, lo juga harus memenuhi kewajiban yang lo punya. Pernikahan adalah sebuah ikatan yang disepakati oleh dua insan manusia untuk hidup bersama dan saling menyayangi dalam setiap jalan hidup yang dilewati. Pernikahan juga merupakan penyatuan pola pikiran dan kepribadian kalian. Selain itu, kalian juga harus saling melengkapi kekurangan masing-masing". Ujar Roni.
Abi terheran mendengar ucapan Roni. "Bukannya lo yang nyuruh gue buat nikah sama dia, buat balas dendam?" Tanya Abi.
__ADS_1
"Yah lo kan punya dendam sama bapaknya, ngapain lo lampiaskan sama putrinya. Maksud gue, gunakan Thika sebagai perantara antara lo dan juga Jendral Sanjaya. Lagi pula dia juga seorang wanita, wanita yang mudah rapuh, walaupun diluar seorang wanita sangat kuat tapi di dalam hatinya wanita memiliki sisi yang lembut. Dan juga wanita sangat ingin dijaga dan dilindungi" jawab Roni.
"Terserah! Gak ngerti lagi gue sama pemikiran lo!" Ucap Abi dengan sedikit kesal.
"Gue tau pernikahan lo cuma pernikahan kontrak, tapi gue kasih saran coba terima pernikahan ini. Siapa tau Lo bakalan cocok dengannya. Walau saat ini gak ada cinta, gue yakin suatu saat lo pasti bakalan suka sama dia" ucap Roni.
"Cinta? Huh… cinta gue udah hilang lima tahun yang lalu, bersamaan dengan menghilangnya Vira!" Ucap Abi dengan senyum kecutnya.
Roni pun tersenyum. "Bukankah ada sebuah pepatah, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu dan cinta datang karena terbiasa. Jangan terburu-buru mengatakan lo gak suka dan benci sama dia karena benci dan cinta itu beda tipis" tukas Roni.
Deg! Abi diam membisu. Abi sedang fokus memikirkan semua perkataan yang diucapkan Roni.
Setelah beberapa saat, Abi pun bangun dari duduknya. "Sudah! Gue mau pergi ada urusan!" Ucap Abi.
"Emang Lo mau kemana?" Tanya Roni.
"Bertemu mertua" ucap Abi dengan senyum smirk nya. Lalu keluar dari ruang kerjanya.
Mendengar itu, Roni pun hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, lalu keluar dari ruangan Abi.
Di kediaman Sanjaya, sebuah mobil Ferrari F8 datang lalu berhenti di depan gerbang.
Satpam yang melihat mobil tak dikenal pun menghampiri pengemudi mobil tersebut yang tak lain adalah Abi. "Maaf tuan, anda mencari siapa?" Tanya pak satpam.
"Saya ingin menemui Jenderal Sanjaya!" Ucap Abi.
"Apakah sudah membuat janji sebelumnya tuan?" Tanya pak satpam lagi.
"Bisa bukakan gerbangnya, ini sangat penting!" Kesal Abi.
__ADS_1
"Tunggu sebentar tuan saya akan menyampaikannya dulu" ucap pak satpam lalu kembali ke dalam.
Setelah beberapa menit, pak satpam membukakan pintu gerbang. Abi pun masuk mengendarai mobil mewahnya ke halaman rumah.
Abi masuk ke dalam rumah yang bercat warna putih itu. Salah satu pelayan sudah membukakan pintu lalu mempersilahkan Abi masuk ke dalam. Di ruang tamu sudah berdiri Jenderal Sanjaya dengan orang kepercayaannya Mayor Jenderal Agatha.
"Selamat datang tuan Abimanyu Dewantara, apa yang membawa anda kemari?" Tanya Jenderal Sanjaya, sambil mempersilahkan Abi duduk.
Abi tersenyum. "Lama tidak berjumpa Jenderal, tak terasa sudah lima tahun. Oh ya! Saya kemari karena ingin memberitahu sesuatu" ucap Abi.
"Apakah masih mengenai masalah lima tahun lalu?" Tanya Jenderal Sanjaya. Tersenyum kecut.
"Mungkin ini masih ada sangkut pautnya dengan masalah lima tahun lalu. Baiklah saya akan mengatakannya to the point! Saya sudah menikahi putri anda Avanthika Sanjaya!" Ucap Abi.
Jenderal Sanjaya yang mendengar perkataan Abi syok. Banyak pertanyaan muncul di benaknya. "Apa yang kau katakan! Bagaimana bisa putriku menikah denganmu hah!" Ucap Jenderal Sanjaya, ia berdiri dengan wajah yang penuh emosi.
"Jenderal anda harus tenang, ingat kesehatan anda" ucap Mayor Agatha.
"Apa yang terjadi kepada putri anda adalah hasil perbuatan anda. Anda yang menyebabkan kekasihku meninggal, jadi saya hanya membuat anda menyadari bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling kita sayangi" ucap Abi dengan senyum seringai.
"Kalau sampai kau macam-macam kepada putriku aku akan membuat kau membayar atas apa yang kau lakukan!" Ancam Jenderal Sanjaya.
Mayor Agatha sudah bersiap, mengambil sebuah pistol dari pinggangnya, lalu menodongkannya kepada Abi. "Jangan macam-macam kepada nona Avanthika, jika kau sampai melakukannya maka peluru pada pistol ini akan bersarang di otakmu!" Ancamnya.
Abi yang mendapat perlakuan seperti itu terlihat santai. "Tenanglah tuan ingat putri atasanmu masih ada di tanganku!" Ucap Abi.
Jenderal Sanjaya memberi kode agar Mayor Agatha menurunkan senjatanya. Jenderal Sanjaya ingin sekali menghajar pria didepannya ini, tapi ia masih ingat akan putrinya yang ada di genggaman pria bajing*n itu.
"Baiklah, urusan saya disini sudah selesai. Saya pamit undur diri" ucap Abi dengan senyum seringai nya. Setelah itu ia keluar dari rumah itu, lalu pergi menjalankan mobilnya menuju ke mansion miliknya.
__ADS_1
Beberapa menit setelah kepergian Abi, Jenderal Sanjaya terjatuh ke lantai sembari memegang dada sebelah kirinya. Mayor Agatha yang melihat itu, dengan sigap membopong tubuh Jenderal Sanjaya menuju kamarnya lalu menelpon dokter.
Bersambung….