
Disisi lain.
Fani sedang berdiri di depan sebuah kaca yang berada di dalam rumah orang tuanya. Memandang dirinya sendiri sambil bergumam kecil.
"Akhirnya aku terbebas dari si tua Bangka Dimas Dewantara."
Atensinya teralihkan ketika melihat bingkai foto keluarganya. Dia tertawa sinis terhadap keadaan keluarganya saat ini.
Lalu dia pergi ke sebuah kamar. Bisa dilihat laki-laki paruh baya sedang berbaring diatas ranjang. "Hai ayah apa kabar? Bagaimana keadaanmu? Apakah enak setiap hari berbaring saja?" Tanya Fani.
Sementara ayahnya hanya diam karena terkena penyakit stroke. Yang membuat sebagian tubuhnya mengalami kelumpuhan.
"Ayah tahu, sekarang Dimas Dewantara sudah mat*, bahkan mat* ditangan keponakannya sendiri. Bukankah itu bagus? Setidaknya sekarang aku bisa terbebas darinya."
Fani pun mendekat kearah ayahnya. "Aku bertanya-tanya, apa yang kak Vira miliki sehingga dia bisa lebih unggul dariku? Jika dilihat bukankah aku yang lebih cantik dan lebih hebat? Tapi kenapa semua orang lebih menyukainya?"
"Bahkan saat kematiannya, banyak orang yang masih membiarkannya. Aku bersyukur karena kakak sudah mat*, dengan begitu kak Abi orang yang aku cintai akan menjadi milikku. Namun, ada saja yang menghalangi jalanku, yaitu istri kak Abi." Ketus Fani.
Mendengar itu, ayahnya menangis dalam diam. "Ayah tahu aku tidak akan membiarkan orang-orang menghalangi jalanku. Jika menghalangiku maka dia akan kusingkirkan sama seperti aku menyingkirkan kakak." Ucapnya dengan disertai tawa yang menggila.
Sementara seorang wanita yang berusia sekitar 40 tahunan datang menghampiri putrinya. "Nak, jangan sia-siakan kesempatan, kita sudah merencanakannya selama beberapa tahun. Kamu harus memiliki Abimanyu agar keluarga kita bisa kaya lagi." Ucap ibunya, yang memprovokasi Fani.
Itu karena Ayah Fani merupakan seorang bos perusahaan besar dulunya tapi, bangkrut gara-gara kesalahannya sendiri yang percaya kepada Dimas Dewantara.
"Tentu Ma, aku gak akan menyerah sampai apa yang aku inginkan bisa kudapatkan." Ucap Fani dengan senyum yang sulit diartikan.
Fani bangkit, lalu menjauhi ibunya guna menelepon seseorang. "Halo, aku butuh bantuanmu." Ucapnya.
*
__ADS_1
*
*
Sementara saat ini, di perusahaan. Abi sedang mengurus berkas-berkas yang sudah lama menggunung karena dia tinggal beberapa hari.
Dia pun mengerjakannya dengan cepat agar bisa segera pulang menemui istrinya di mansion. Sekarang ini, Thika sama sekali tidak diperbolehkan oleh Abi untuk bekerja karena khawatir masih ada beberapa musuh yang mengintai.
Tiba-tiba teleponnya berdering. Dengan cepat Abi mengangkatnya tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Halo" ucap Abi.
📞 "Kak temui aku di apartemen kakak yang dulu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Ucap Fani yang menelepon di seberang sana. Lalu memutuskan teleponnya tanpa mendengarkan jawaban Abi.
Sementara Abi sudah mengerutkan keningnya. Apa lagi yang kali ini direncanakan Fani. Pikirnya.
Pasalnya Fani merupakan mantan orang yang bekerja dengan pamannya, bahkan dia juga terlibat dalam kejadian yang menimpa kakak perempuannya sendiri.
Dengan cepat Abi memanggil Roy. "Roy tolong gantikan aku sebentar. Aku ada urusan." Titah Abi.
"Kemana bos?" Tanya Roy.
Abi bangkit lalu mengambil jas dan kunci mobilnya. "Mencari informasi." Ucapnya singkat. Lalu pergi begitu saja.
*
*
Setelah perjalanan yang memakan waktu beberapa menit, akhirnya Abi sampai di apartemen yang dulunya dihuni oleh Vira. Lalu menuju lift untuk menuju lantai apartemen Vira.
__ADS_1
Abi pun mengetuk pintu apartemen disaat dia sudah sampai. Tak lama pintu terbuka memperlihatkan Fani. Abi masuk kedalam apartemen lalu duduk di sebuah sofa dengan kakinya yang ditumpu di kakinya yang lain.
"Ada urusan apa kamu menghubungiku?" Tanya Abi tanpa basa-basi lagi.
Sementara Fani menyiapkan minuman kaleng yang sudah dibelinya tadi. Lalu duduk tepat disamping Abi.
"Kak, aku tahu kamu masih belum bisa melupakan kak Vira. Tapi, apa masih tidak ada kesempatan bagiku kak?" Tanya Fani menatap Abi.
Abi mengernyit. "Apa maksudmu? Katakan apa Maimun!" Ketus Abi.
Fani mendekatkan dirinya, dengan lancangnya duduk dipangkuan Abi. "Kak, tak bisakah kamu melihatku? Kakak tahu Aku sudah mencintaimu dari dulu." Ucapnya.
Abi menjauhkan dirinya. "Fani! Aku sudah menikah! Dan aku mencintai istriku!" Teriaknya dengan lantang.
Fani mendekati Abi lagi, bergelayut manja di lengan kekarnya. "Kakak tahu, aku tidak suka jika harus berbagi apa yang aku sukai. Kakak hanya milikku, bila ada yang mengambil kakak dariku, aku tidak akan segan melenyapkannya." Ucapnya dengan penuh penekanan.
Seketika Abi merasa sedikit aneh dengan sikap Fani. Melihat dari sikapnya bukankah ini menunjukkan gejala seseorang mengalami obsesi? Batinnya.
Obsesi merupakan ketekunan yang patologis dari suatu pikiran atau perasaan yang tidak dapat ditentang yang tidak dapat dihilangkan dari kesadaran oleh usaha logika.
Sensasi dari terobsesi seringkali menjebak, rasanya menyenangkan tapi nyatanya menyengsarakan. Sebab, segala sesuatu yang di obsesikan bukanlah kenyataan, sebagian besar hanya ada di pikirannya. Jika seseorang sudah mengalami obsesi maka akan sulit untuk menyadarkannya karena mereka harus sadar dengan kemauannya sendiri.
Abi pun beranjak ingin keluar dari apartemen. Namun, dicegah oleh Fani.
"Jika kakak keluar dari sini, maka akan ada sesuatu yang buruk akan menimpa orang tercintamu." Ucap Fani dengan senyum seringai.
Belum Abi sempat membalas, ponselnya tiba-tiba berdering.
📞 "Bos! Nyonya kecelakaan!" Ucap seseorang di seberang sana.
__ADS_1
Bersambung……