
Setelah tanda tangan surat perjanjian nikah, Abi pun mengajak Thika ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Abi dan Thika pun sudah keluar dari perusahaan, Roy dengan sigap langsung membukakan pintu mobil kepada bosnya dan juga Thika. Sebenarnya Thika agak tidak enak mendapatkan perlakuan seperti itu, tapi ia menghargai Roy yang sudah membukakan pintu untuknya. Kemudian Roy kembali ke jok kemudi, ia akan mengemudikan Ferrari F8 milik bosnya ke kantor catatan sipil.
Selama perjalanan yang memakan waktu 30 menit tersebut Thika dan Abi sama-sama diam, masih menyelami pikirannya. Hanya terdengar deru suara mesin mobil dan klakson kendaraan lainnya.
Saat ini, mereka pun sudah tiba di kantor catatan sipil. Tanpa menunggu lama mereka pun sudah mendapat surat pernikahan mereka, itu karena ada salah satu anak buah Abi yang sudah mengantar surat-surat yang diperlukan sehingga mereka tidak perlu menunggu lama.
Mereka pun keluar dari kantor catatan sipil, namun langkah Thika tercekat di pintu masuk. Bulir bening mengalir keluar dari matanya tanpa izin. Ada rasa bersalah di relung hatinya, karena disaat momen bahagianya ayah beserta kakaknya tidak ada. Tidak ikut bahagia disaat dirinya menikah. Thika merasa dirinya seperti anak durhaka, menikah diam-diam tanpa memberitahu ayah maupun kakaknya.
Merasa ia berjalan sendirian, Abi pun berbalik badan melihat ke arah Thika. "Avanthika apakah kau masih ingin berdiri di sana saja?" Tanya Abi yang mendekat ke arah Thika.
Thika pun menghapus air matanya, ia berjalan melewati Abi lalu masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Thika hanya diam sembari diam-diam melirik Abi. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun bibirnya hanya diam seakan tidak bisa diajak berkompromi. Abi yang sadar dirinya dilirik akhinya angkat suara memecah keheningan yang ada.
"Ada apa? Kenapa kau diam-diam melirik ku?" Tanya Abi.
"Emm… anu… saya ingin bertanya pak" Thika memberanikan diri menjawab walaupun agak terbata-bata.
"Katakanlah!" titah Abi.
"Pak, saya menikah dengan bapak tanpa memberitahu keluarga saya… em…" ucap Thika yang menghentikan sejenak perkataannya. Ia masih sedih karena tidak memberitahukan keputusan terbesarnya kepada sang ayah tercinta. "Saya ingin memberitahu Ayah dan kakak saya, tapi saya masih takut" lanjutnya lagi.
"Tidak usah pikirkan itu, aku akan pergi memberitahu keluargamu!" Jawab Abi.
__ADS_1
Thika terkejut, takut Abi akan mengatakan alasan yang sebenarnya ia menikah dengannya, yaitu hanya untuk melunasi hutang. Selain itu, ia juga takut pada kesehatan ayahnya. Karena selama 4 tahun terakhir kesehatan ayahnya kian hari kian memburuk, diperparah dengan penyakit jantung yang dideritanya. Thika takut, ayahnya tidak sanggup menerima bahwa anak perempuannya diam-diam menikah.
Selain khawatir mengenai ayahnya, Thika juga agak takut jikalau kakak laki-lakinya mengetahui adiknya menikah tanpa memberitahunya. Jika kakaknya tahu, maka bisa dipastikan ia akan mengamuk dan membawanya pulang dengan paksa.
*
*
*
Setelah menempuh perjalanan yang jauh, mobil mereka pun tiba di sebuah mansion yang sangat besar dan mewah. Ya, Abi membawa Thika pulang ke mansion miliknya.
Thika pun terkagum-kagum melihat rumah besar di depan matanya, bahkan rumah yang dilihatnya dua kali lebih besar dari rumah ayahnya. Terdapat kolam air mancur di halaman depan. Bahkan sejauh mata memandang halamannya terlihat sangat asri, karena hamparan pohon yang terlihat sangat terurus. Mobil pun melaju ke arah depan pintu utama, dengan cepat Roy membukakan pintu kepada bosnya. Sedangkan Thika ia membukanya sendiri lalu turun dari mobil.
"Hey, kau mau berapa lagi kau mematung disana? Mau jadi patung selamat datang?" Tanya Abi dengan mulut pedasnya.
"Ah iya, saya akan masuk sekarang!" Ucap Thika tergesa-gesa.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, Thika pun lagi-lagi dibuat kagum tatkala melihat interior ruang tamu. Melihat itu, Abi pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Dalam hati dia bertanya benarkah dia putri Jendral Sanjaya yang notabene orang berpengaruh bersikap seperti ini? Seakan dia baru pertama kali melihat rumah besar.
Abi lalu menunjukkan sebuah kamar, yang akan ditempati oleh Thika.
"Ekhem! Kau akan tinggal dan menempati kamar ini mulai saat ini" ucap Abi menyadarkan Thika.
__ADS_1
"Eh? Kenapa saya tinggal disini pak?" Tanya Thika polos.
"Itu karena kamu sekarang adalah istriku! Dan satu lagi jangan panggil aku bapak, karena aku bukan bapakmu!" Ketus Abi dengan nada dinginnya.
"Jadi saya memanggil bapak dengan sebutan apa? Tuan? Mas? Atau kakak?" Tanya Thika lagi.
Abi mulai kesal, sejak kapan Thika menjadi banyak tanya begini.
"Pertama jika diluar jam kantor jangan memakai kata formal seperti 'anda' 'saya'. Yang kedua, mengenai sebutan tuan memangnya aku majikanmu hmm? Dan yang terakhir apakah aku terlihat seperti kakakmu?" Tanya Abi emosi.
"Ehh em… bukan begitu, hanya saja kalau dilihat anda dan kakak saya memiliki umur yang sama" jawab thika sedikit tersenyum kikuk, sembari jari telunjuknya menggaruk pelipisnya.
Mendengar itu, perasaan Abi pun menjadi dongkol. "Percuma aku berdebat denganmu!". Lalu ia menghembuskan nafasnya kasar. "Jika dirumah kau bisa memanggilku Abi dan di kantor seperti biasa. Jika aku mendengar kau berkata formal di luar jam kantor mama aku akan menghukummu" ucap Abi dengan tatapan yang mengintimidasi.
Abi pun tampak akan berbalik namun segera Thika menahan tangan Abi. "Ehmm… A-Abi, bolehkah aku bertanya, sampai kapan batas waktu perjanjian pernikahan kita?" Tanya Thika, ragu-ragu.
"Mungkin satu tahun atau lebih" jawab Abi.
"Baik. Satu pertanyaan lagi, aku sama sekali tidak membawa barang-barangku kemari dan disini tidak ada pakaianku" tanya Thika lagi.
Abi…
Bersambung……
__ADS_1