
Masih di kediaman Sanjaya.
Dokter yang sudah dihubungi saat ini tengah memeriksa keadaan Jenderal Sanjaya.
"Bagaimana keadaan beliau dokter?" Tanya Mayor Agatha.
"Untung anda dengan cepat menelpon saya, jadi masih bisa ditolong. Untuk sementara jangan sampai beliau tertekan atau syok mendengar sesuatu yang dapat mempengaruhi beliau. Saya sudah menulis obat yang harus beliau konsumsi jadi silahkan anda tebus di apotik" ucap dokter Ilham, lalu menyerahkan secarik kertas yang isinya resep obat.
"Baik dok, terima kasih bantuannya" ucap Mayor Agatha, lalu mengantar dokter sampai ke pintu depan, sekalian ia juga ingin membeli obat.
*
*
Tak lama setelah membeli obat, Mayor Agatha kembali ke kediaman Sanjaya. Lalu ia menuju kamar Jenderal Sanjaya. Dibukanya pintu, sudah terlihat Jenderal Sanjaya yang sudah siuman.
"A-agatha…" lirih Jenderal Sanjaya.
"Saya disini pak, untuk saat ini sebaiknya anda tenangkan diri anda lalu istirahat" ucap Mayor Agatha.
"Bagaimana aku bisa tenang, putriku Avanthika sudah dinikahi olehnya!" Ucap Jenderal Sanjaya dengan sedikit emosi.
"Tenang pak, saya mengerti perasaan anda karena saya juga memiliki seorang anak perempuan. Untuk saat ini urusan nona Avanthika serahkan kepada saya. Dan ya, empat hari lagi putra anda akan pulang setelah menjalankan misi pak." Ucap Mayor Agatha.
"Baiklah, terimakasih Agatha. Tolong biarkan aku sendiri saat ini" ucap Jenderal Sanjaya.
Mayor Agatha pun keluar dari kamar. Setelah Mayor Agatha pergi, Jenderal Sanjaya mengambil bingkai foto yang ada di atas nakas. Foto keluarga yang diambil saat Avanthika berusia 10 tahun, dua tahun sebelum kematian ibunya. Lalu ia mengusap pelan bingkai foto tersebut. "Avanthika putriku, ayah harap kamu baik-baik saja nak" ucapnya lirih.
*
*
*
__ADS_1
Malam pun tiba, sepulangnya Abi dari kediaman Sanjaya, Abi menyempatkan singgah ke suatu tempat sebelum akhirnya pulang ke mansion nya.
Abi sudah memarkir mobilnya, lalu dengan langkah gontai masuk ke dalam rumahnya. Saat ia mulai memasuki ruang tamu ia mendengar suara yang tak asing di Indra pendengaran nya. Abi pun mendekat lalu terdiam.
"P-pak Prayoga? Kapan bapak datang?" Tanya Abi kepada pak Prayoga. Ya, pak Prayoga yang tak lain adalah ayah dari Roy dan Roni.
"Baru saja sampai nak, bagaimana keadaanmu? Kenapa kamu tidak bilang sama bapak kalau kamu sudah menikah? Bahkan bapak tahunya dari Roni" Tanya pak Prayoga.
"Keadaanku baik pak. Maaf tidak memberitahukan hal ini kepada bapak" ucap Abi dengan nada bersalah.
Dari arah dapur datang Roy, lalu bergabung dengan ayahnya yang duduk di sofa ruang tamu. "Hai bos lo sudah pulang?" Tanya Roy.
"Roy! Ngapain lo disini?" Tanya Abi yang terkejut melihatnya. Kenapa Roy dan pak Prayoga ada disini? Batin Abi bertanya-tanya.
"Gue disuruh bawa ayah kesini sama Roni, katanya mau makan malam bareng" jawab Roy.
Abi terlihat kesal, ulah apalagi yang dibuat Roni kali ini. Walaupun dia si bungsu yang bijak tapi perbuatannya sama sekali tidak mudah ditebak. Perbuatannya berbanding terbalik dengan kepintaran yang dia miliki.
"Roni lagi didapur lagi bantuin Thika sama Bi Sri masak!" Jawab Roy.
"Nak Abi, kemarilah duduk di samping bapak! Ada yang mau bapak bicarakan!" Titah Pak Prayoga.
Abi menurut lalu duduk di sisi kanan pak Prayoga. "Ada apa pak?" Tanya Abi.
Pak Prayoga menarik nafasnya sebelum berbicara. "Begini nak, almarhum papa dan mama mu sebelum meninggal, berpesan ke bapak untuk menjaga dan melindungimu seperti putra sendiri. Nah sekarang kamu sudah besar bahkan sudah menikah, tanggung jawab bapak sudah terlaksana, dan sekarang giliran kamu dan istrimu yang saling menjaga dan melindungi. Kamu memiliki istri yang baik bapak yakin dia bisa membuatmu bahagia begitu juga sebaliknya." ucap pak Prayoga.
Abi diam mendengar kata-kata pak Prayoga. Apakah papa dan mamanya akan memaafkan perbuatannya yang memaksa seorang gadis menikah? Bahkan mamanya sendiri mengajarkannya agar tidak menyakiti wanita.
Tak lama datang Thika dari arah dapur. "Makan malam sudah siap, mari pak, asisten Roy, ayo suamiku" ucap Thika, dengan senyum. Sebenarnya ia tidak ingin mengatakan kata terakhir, tapi karena ada pak Prayoga ia harus sedikit berpura-pura.
Pak Prayoga, Roy dan Abi lalu pergi menuju meja makan. Disana sudah terlihat Roni yang sudah duduk anteng disamping thika. Abi sudah duduk di tempatnya sedangkan pak Prayoga dan Roy duduk disebelah kiri Abi.
Makan malam pun dimulai, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar, sampai akhirnya pak Prayoga memecah keheningan.
__ADS_1
"Siapa yang memasak ayam bumbu ini? Rasanya enak sekali" tanya pak Prayoga.
"Itu Thika yang membuatnya yah" sahut Roni.
"Wah nak Thika, kamu sangat pandai memasak, masakanmu sangat enak. Kenapa kau tidak membuat ayam lada hitam kesukaan suamimu" tanya pak Prayoga.
"Em… tadi tidak kepikiran pak" jawab Thika, yang bingung mau menjawab apa.
"Tidak apa, lain kali kamu bisa membuatnya" ucap pak Prayoga.
Setelah bincang-bincang mereka berlima melanjutkan makan dalam diam.
*
Saat ini mereka berlima ada di ruang tamu. Thika duduk disamping Abi sedangkan Roy dan Roni duduk mengapit ayahnya.
"Abi ini sudah malam, bapak akan pulang sekarang. Ayo Roy antar ayah pulang!" Ucap pak Prayoga.
"Kenapa pulang yah? Kenapa tidak menginap disini saja dulu, besok baru pulang. Abi kau tidak keberatan kan?" Sela Roni, lalu bertanya kepada Abi.
Abi terlihat kesal terhadap Roni, tapi ia menahannya karena Pak Prayoga masih disini. "Pak menginap disini saja, besok baru pulang. Ini sudah sangat malam, kalau pulang tidak baik buat kesehatan" ucap Abi.
"Baiklah kalau kamu berkata begitu" ucap pak Prayoga. Roy dan Roni pun menuju kamar tamu di lantai bawah. Sedangkan pak Prayoga di lantai dua, karena kamar lantai satu sudah habis untuk kamar pelayan.
"Mari pak Abi antar" ucap Abi lalu naik ke lantai dua bersama pak Prayoga dan Thika.
Abi pun membawa pak Prayoga ke sebuah kamar. "Ini kamar bapak, kalau butuh sesuatu panggil pelayan saja pak. Selamat malam" ucap Abi. Lalu berlalu ke kamarnya.
"Tunggu, kok istri kamu ke arah sama kan kamar kamu di dekat sini?" Tanya pak Prayoga kepada Abi yang melihat Thika menuju kamarnya.
Deg!
Bersambung…..
__ADS_1