
"Enggak sebenarnya gue sama Thika kemarin mau bikin acara manggang gitu, mumpung hari ini hari Minggu. Ayah juga ada disini" ujar Roni.
Abi mengusap wajahnya kasar. Drama apa lagi ini, hatinya berteriak.
"Thika masih tidur, lo pergi dulu sana!" Abi mengusir Roni.
Dari dalam kamar, tampak Thika yang baru bangun sambil mengucek pelan matanya. "Ehmm…" leguh Thika dengan suara khas bangun tidur.
Seketika Abi dan Roni pun menoleh. Abi terdiam seketika melihat penampilan Thika yang baru bangun tidur tapi masih kelihatan imut. Meski rambutnya acak-acakan tidak mengurangi aura kecantikannya.
Thika yang kesadarannya sudah terkumpul langsung bangun dari ranjangnya. Lalu menghampiri Abi dan Roy yang masih berada di depan pintu. "Good morning Abi, kak Roni" sapa Thika.
"Good morning Thika. Ayo! Katanya sekarang mau manggang? Jadi gak?" Tanya Roni.
"Jadi dong kak, sebentar ya aku mau mandi dulu" ucap Thika. Abi yang seperti diabaikan kembali kedalam kamar.
Abi mendekat kearah Thika yang baru mengambil handuk. Lalu berbicara kepada Thika. "Jangan dekat-dekat dengan Roni" ucap Abi serius dengan tatapan tajamnya setajam silet.
Thika pun kebingungan. "Kenapa? Aku sudah menganggapnya sebagai kakak laki-laki ku" jawab Thika. Karena, memegang benar Roni sudah seperti pengganti kakaknya.
"Pokoknya tidak boleh, kalau aku melihatmu dekat-dekat dengan Roni atau laki-laki lain kamu akan menerima hukumannya!" Ujar Abi sedikit mengancam.
"Baiklah" ucap Thika malas. Thika menatap Abi dengan tatapan cengo. Selalu saja mengancamnya. Dalam hatinya bertanya kenapa sikap suami sekaligus bosnya itu selalu berubah-ubah seperti bunglon.
Thika pun berbalik menuju kamar mandi meninggalkan Abi yang masih menatapnya. "Dikit-dikit ngancem, dasar menyebalkan!" Gerutu Thika pelan, yang masih dapat didengar oleh Abi.
25 menit berlalu, Thika pun sudah selesai dengan acara mandinya. Thika pun menuju walk in closet namun, ia lupa bahwa bajunya masih ada di kamar lain. Thika pun menyembulkan kepalanya dari balik pintu walk in closet, dilihatnya Abi yang sedang mengerjakan beberapa berkas-berkas.
__ADS_1
Thika pun memanggil Abi untuk meminta bantuannya. "A-Abi, apakah kamu bisa membantuku?" Tanya Thika. Ia tidak ada pilihan lain selain meminta pertolongan Abi, daripada dia keluar dengan menggunakan handuk yang masih melilit di badannya.
Abi menoleh dengan alis yang seakan menyatu. "Ada apa hmm?" Tanya Abi.
"A…anu, bisa tidak kamu mengambil pakaian ku, di kamarku sebelumnya?" Tanya Thika malu-malu.
"Apa! Kamu serius? Kamu bisa mengambilnya sendiri bukan?!" Ucap Abi ketus. Dia sedikit keberatan disuruh mengambil pakaian Thika.
Thika mendesah pelan. "Jika Aku bisa, Aku tidak akan meminta bantuanmu" jawab Thika malas."Atau Aku bisa meminta bantuan Kak Roni saja" lanjutnya lagi.
Tep!
Abi tak bisa berkutik, lalu bangun dari duduknya. "Tunggu! Aku akan mengambilkan pakaianmu" ujar Abi. Ia lalu keluar menuju kamar yang ditempati Thika sebelumnya.
Sementara Thika terkekeh kecil didalam walk in closet, karena kapanlagi ia bisa menyuruh nyuruh seorang CEO perusahaan Dewantara Enterprise. Anggap saja ini sebagai balasan, karena perlakuan Abi kepadanya selama di kantor.
Seketika otak pintar Abi mendapatkan sebuah ide. Dengan cepat Abi mengeluarkan koper lalu memasukkan beberapa baju beserta dalaman lalu dengan cepat menutupnya. Mau ditaruh dimana wajahnya jika kedapatan membawa baju perempuan beserta dalam*nnya.
Dengan cepat Abi keluar dari kamar tersebut lalu melenggang menuju kamarnya. Abi pun membuka pintu kamarnya lalu membawa koper yang berisi baju Thika menuju walk in closet.
Abi pun mengetuk pelan benda persegi panjang didepannya. "Hei, buka pintunya Aku sudah membawakan bajumu" ucap Abi.
Dengan cepat Thika pun membuka pintu, ia terkejut dengan apa yang dibawa Abi. Bukankah aku menyuruhnya membawakan ku baju, mengapa ia membawa kopernya juga? Memang Aku mau pindahan? Batinnya menggerutu.
"Terima kasih ya" ucap Thika dengan senyum manisnya. Abi keluar dari kamar karena tidak tahan dengan senyum yang Thika perlihatkan kepadanya.
Diambilnya koper tersebut. Dengan segera Thika mengambil baju kaos berwarna merah maroon dengan celana hitam sebatas lutut. Thika pun segera mengganti bajunya.
__ADS_1
Thika saat ini sudah terlihat rapi, lalu ia keluar menuju dapur. Dengan langkah gontai ia turun selangkah demi selangkah menuruni anak tangga.
Di dapur Roni bersama Bu Sri menyiapkan bahan serta bumbu untuk kegiatan manggang yang akan dilakukan sore hari nanti.
"Pagi Bi, apa masih ada yang perlu dilakukan?" Tanya Thika.
"Eh non, tinggal membuat bumbu sama memotong daging aja" jawab Bi Sri.
Thika pun membantu Bi Sri memotong kecil-kecil daging ayam yang akan dijadikan sate. Lalu menusuknya tak lupa juga sosis yang akan dipanggang. Setelah itu Thika membantu Roni menyiapkan bumbu.
*
*
Hari pun sudah sore, di halaman belakang Thika, Roni, Bi Sri dan Pak Man sudah menyiapkan beberapa peralatan dan bahan yang akan dimasak sore ini.
Tampak Pak Prayoga, Roy serta Abi pun sudah datang. Roni bersama Pak Man menyiapkan pemanggang lalu menyalakan api. Roni pun menaruh daging serta sosis di atas panggangan. Bi Sri dan Pak Man menyiapkan minuman untuk semua orang.
Thika pun membantu Roni memanggang. Abi yang melihat dari kejauhan merasa hatinya panas. Roy yang sedang menyiapkan piring pun heran melihat Abi yang menatap tajam Roni dan Thika. Lalu melanjutkan pekerjaannya.
Abi pun mendekat kearah Thika. Bisa dilihat Thika berulang kali mengucek matanya karena terkena asap. Abi mendekat lalu mendekatkan wajahnya, lalu meniup pelan mata Thika yang yang terkena asap. Mendapat perlakuan seperti itu, seketika membuat jantung Thika berdebar tak karuan.
"Apakah sudah baikan hmm?" Tanya Abi, setelah meniup mata Thika. Thika pun tersadar dari lamunannya, lalu menggeleng pelan. Dengan cepat Abi pun mengambil alih pekerjaan Thika. "Sudah, biar aku saja yang melakukannya!" Titah Abi yang tidak ingin dibantah.
Bersambung…..
__ADS_1