
Hotel Diamond
Thika pun berjalan di lorong mencari Pak Heru. Ia berjalan dengan perasaan dongkol wajahnya yang cantik pun menampilkan ekspresi kesal karena kejadian tadi. Tak berapa lama ia pun melihat pak Heru bersama asistennya. Thika pun menghampirinya.
"Selamat malam Pak Heru." ucap Thika memberi salam.
Yang dipanggil membalikkan badannya menatap Thika. "Ya? Ada apa ya?" Tanya pak Heru dengan heran.
"Anu… pak saya Avanthika Sanjaya lulusan dari universitas xxx, dosen saya pak Dave Anderson meminta saya menemui bapak." ucap Thika.
Pak Heru pun tersenyum. "Ohh kamu orang yang direkomendasikan si Dave ya? Saya dengar kamu mahasiswa berprestasi, nilai kamu juga baik" ujar Pak Heru memuji Thika.
"Terima kasih atas pujiannya pak. Saya tidak sepintar yang bapak katakan" jawab Thika merendah.
"Tidak, itu kenyataan kan. Oh ya apakah ada pesan yang diberikan oleh Dave kepadamu?" Tanya Pak Heru.
"Oh ada pak, ini!" jawab Thika sambil menyerahkan map berwarna coklat.
Pak Heru pun mengambil map yang diserahkan oleh Thika. "Baik saya bawa ini, besok kamu pergi ke Dewantara Enterprise untuk wawancara" ujar Pak Heru. Itu membuat Thika tersenyum dan semakin bersemangat.
"Baik pak saya akan melakukan yang terbaik!" Ucap Thika dengan semangat.
Pak Heru pun tersenyum melihat Thika. "Ini yang saya suka, anak-anak muda yang bersemangat" ucap Pak Heru.
"Hehehe baik pak saya permisi dulu" ucap Thika sopan lalu pergi dari tempat itu.
*
__ADS_1
*
Di aula lantai bawah.
Setelah bertemu dan bercengkrama dengan para teman dan kolega bisnisnya Abi pun duduk di sofa yang berada di sudut ruangan karena ia sangat tidak terlalu suka dengan keramaian. Lalu Abi pun mengambil name tag yang ia simpan di dalam saku jasnya, Abi pun membaca name tag itu di dalam hati sambil tersenyum.
'Hmm.. Akhirnya aku menemukanmu gadis aneh' batin Abi sambil ia melihat name tag itu. Tak lama kemudian ia tersenyum tipis namun, sulit diartikan.
Kembali ke saat setelah pertengkaran Abi dan Thika.
Roy yang tidak mengerti apa yang terjadi kepada bosnya hanya diam dan mengikuti Abi dari belakang. Namun, langkahnya terhenti ketika ia menginjak sebuah name tag di lantai. Roy pun mengambilnya dan membacanya. Abi yang melihat Roy tertinggal jauh dibelakangnya pun memanggilnya.
"Roy! Mau sampai kapan kau disitu?!" Panggil Abi dengan sedikit teriak. Roy yang dipanggil bosnya mendekat dengan membawa name tag yang ia pungut.
"Maaf bos, ini…" belum sempat Roy berbicara, Abi pun merampas name tag yang dipegang oleh Roy.
Abi pun melihat name tag itu, seketika ia tersenyum tipis saking tipisnya sampai tidak terlihat oleh Roy. "Aku akan menyimpannya" ucap Abi lalu menyimpan name tag tersebut ke dalam saku jasnya.
Kembali ke saat ini
Abi pun tersenyum dipojokan sambil menyebut nama seorang perempuan.
"Avanthika ya… jangan harap hidupmu bakal tenang!" Ucap Abi dengan suara kecil dan diiringi senyum smirk nya.
*
*
__ADS_1
Di sisi lain para penyelenggara acara terlihat kebingungan, itu karena pianis terkenal yang mereka undang tiba-tiba tidak bisa hadir karena urusan mendadak.
Avanthika yang mendengar itu mendekat dan bertanya kepada penyelenggara acara. "Maaf pak, bapak bilang pianis nya tidak bisa datang ya?" Ucap Thika.
"Iya nona, ini saya lagi mencari seorang pianis untuk menggantikannya" jawab penyelenggara acara.
Thika tampak mengukir senyum. "Tidak usah pak, saya bisa main piano, biar saya saja!" ucap Thika sembari memohon kepada penyelenggara acara.
Mulanya penyelenggara acara ragu dengan Thika. Namun, ia membiarkannya setelah Thika memperlihatkan puppy eyes nya, memohon kepada penyelenggara acara. Avanthika pun maju menuju piano dan bersiap-siap untuk memainkannya. Sebelum itu ia bertanya judul lagu yang akan dimainkan dan mengkoordinasikannya ke penyanyi dan para pemain musik lainnya..
Avanthika pun memulai permainan pianonya. Jemari-jemarinya dengan lihai memainkan tuts-tuts piano.
Setelah Thika selesai membawakan permainan pianonya, seketika semua orang yang mendengar pun bertepuk tangan. Semuanya sangat kagum kepada Thika, karena permainan pianonya yang bagus, sehingga membuat semua orang tersihir.
Tak terkecuali Abi yang perasaannya campur aduk saat yang sedari awal mendengar permainan pianonya dari kejauhan. Itu mengingatkannya akan seseorang di masa lalu. Dengan cepat Abi memanggil Roy. "Roy, tolong selidiki wanita yang berada di atas panggung! Aku ingin datanya secepatnya!" Seru Abi kepada Roy.
"Baik bos!" Jawab Roy, mengiyakan perintah bosnya.
10 menit kemudian, Roy datang membawa beberapa kertas di tangannya. Lalu kertas-kertas itu ia berikan kepada bosnya. "Bos, ini datanya!" ucap Roy. Ia pun berdiri disamping Abi melihat bosnya membaca kertas yang tadi ia berikan.
Abi pun membaca laporan tersebut, seketika ia tercengang melihat data tersebut. 'Avanthika Sanjaya… Sanjaya. Putri Herman Sanjaya?' batin Abi.
Abi pun tersenyum smirk menatap data itu. Abi pun berkata dengan suara rendah. "Ini menjadi semakin menarik" ucapnya.
Bersambung….
Ini adalah novel pertamaku, jadi maaf jika ada kesalahan kata maupun kesamaan nama tokoh.
__ADS_1
Dipersilahkan memberikan masukan.
Jangan lupa like dan vote ya💞💞