
Sudah hampir dua Minggu Abi berada di Kanada. Untuk menyakinkan istrinya agar kembali bersamanya. Saat ini dia tengah memeriksa dokumen sampai akhirnya Roy masuk ke dalam ruangannya.
"Bos, kita harus pulang ke Indonesia. Dany bilang ada sedikit kendala di perusahaan." Ucap Roy.
Abi tampak berpikir. "Baiklah berikan aku waktu, aku harus memberitahu istri dan anakku." Sahutnya.
Roy pun undur diri kembali ke ruangannya setelah memberitahu Abi.
*
Setelah selesai memeriksa dokumen, Abi pun melesat pergi menuju kediaman Thika. Tak lama dia pun sampai lalu memencet bel yang berada di samping pintu.
Dengan cepat Thika membuka pintu tersebut, dengan cepat Abi mengecup singkat bibir ranum istrinya. Setelah itu, melenggang masuk lalu duduk di sofa.
"Ada apa? Kenapa sudah pulang jam segini?" Tanya Thika membawa secangkir kopi.
"Ini mengenai pekerjaanku. Bisakah kita kembali pulang ke Indonesia?" Tanya Abi menatap Thika yang duduk di sampingnya.
Thika menaikkan alisnya. "Begini, ada sedikit masalah di perusahaan dan membutuhkan kehadiranku. Jika kamu tidak ingin pergi maka aku akan pergi sendiri lalu kembali lagi kemari." Ujar Abi.
Sementara Thika terkekeh kecil mendengar penjelasan Abi. "Kapan aku bilang tidak ingin pulang ke Indonesia? Aku hanya berfikir kapan kita akan pergi karena aku harus menyiapkan barang-barang dan menyiapkan surat pengunduran diri." Ucap Thika memegang tangan Abi.
Abi tampak mengulum senyum, tak lama dia pun mengecup kening istrinya. "Aku senang mendengarnya. Kita akan pergi dalam tiga hari, apakah waktunya cukup?" Tanya Abi.
"Aku rasa cukup, aku akan berkemas mulai sekarang, karena aku juga harus menyiapkan barang-barang Aska dan Agastya. Mungkin besok aku akan menyerahkan surat pengunduran diri." Sahutnya.
Tiba-tiba Thika teringat dengan Nisha. "Bagaimana dengan Nisha? Bukankah mengurus prosedur Nisha akan memakan waktu lama? Dan lagi sekolah Aska dan Agastya" Tanya Thika sedikit khawatir.
Abi menyeruput kopinya pelan lalu menaruhnya. "Kamu tanyakan padanya, lalu beritahu aku. Sisanya aku yang akan mengurusnya." Ucapnya lalu membawa Thika ke pelukannya, mengelus naik turun lengannya.
__ADS_1
Dari arah belakang tiba-tiba Aska dan Agastya datang sambil berlari. "Dad!" Teriak keduanya lalu menghambur ke pelukan sang Daddy.
"Hei hati-hati." Ucap Abi memperingatkan kedua anaknya.
"Aska, Agastya apakah mau ikut Daddy ke Indonesia?" Tanya Abi setelah kedua putranya sedikit tentang.
Mereka berdua dengan antusiasnya mengangguk. "Kami akan ikut kemana mommy dan Daddy pergi." Ucap Aska.
*
*
*
Tiga hari berlalu. Hari ini mereka berlima sudah berada di bandara untuk pulang ke Indonesia. Nisha dan Thika sudah resmi mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Thika sendiri sudah mengucapkan selamat tinggal sekaligus terimakasih kepada Ranveer dan Nyonya Sharma atas kebaikan mereka selama ini.
*
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan selama beberapa jam, mereka pun sampai di bandara. Disana mereka disambut oleh orang-orang yang dicintainya.
Disana terlihat Mahen dan Sarah beserta anaknya menunggu kepulangan mereka semua.
Dengan cepat Mahen memeluk adiknya, yang akhirnya pulang setelah sekian lama. Walaupun dia merasa risih karena keberadaan Abi, jujur saja Mahen sekarang masih belum memaafkan Abi.
"Akhirnya kamu pulang juga." Ucap Mahen yang masih memeluk Thika. Thika hanya mengangguk dipeluknya kakaknya. Mahen lalu beralih memeluk kedua keponakannya.
Setelah puas memeluk adik dan keponakannya, Mahen pun secepat mungkin meraih Nisha membawanya ke pelukannya. "Sayang, aku sangat merindukanmu." Ujar Mahen. Memberikan beberapa ciuman di area wajah wanita yang kini sudah menjadi kekasihnya.
__ADS_1
"Aku juga kak." Sahut Nisha.
Setelah dipeluk oleh Mahen, Thika dan Nisha dengan cepat dipeluk oleh Sarah yang selama ini merindukan kedua sahabatnya. Bahkan Sarah mengabaikan Roy suaminya yang selama ini pergi bersama Abi.
"Akhirnya kita dapat berkumpul." Ucap Sarah dengan berderai air mata.
"Yah, selamanya kita adalah sahabat yang tak bisa terpisahkan." Ucap Thika memeluk erat sahabat yang sudah lama tidak ditemuinya.
"Tentu." Ucap Nisha.
Sementara Mahen dan Abi yang diabadikan wajahnya berubah menjadi kesal karena diabaikan oleh wanitanya. Tapi percayalah yang paling menderita disini adalah Roy, karena setelah perjalanan bisnis yang memakan waktu lama, bukannya disambut dengan pelukan tapi malah diabaikan oleh istrinya.
'Oh Roy kamu benar-benar menyedihkan. Bahkan putramu saja tidak memelukmu.' Batinnya menggerutu merenungi nasib.
*
Mereka pun menuju mansion Abi guna menyambut kedatangan Thika dan anaknya. Sementara Mahen dan Nisha tidak bisa ikut karena Nisha mau mengunjungi ayahnya.
Setelah perjalanan memakan waktu dari bandara, akhirnya mereka sampai di mansion Abi. Para pelayan sudah berjejer menunggu kepulangan sang majikan beserta sang nyonya rumah.
Disana juga ada Roni yang menyambut mereka di depan pintu. "Welcome home all!" Seru Roni, menyambut kedatangan Abi dan keluarga kecilnya.
Thika dan Abi tampak senang karena mendapat penyambutan yang meriah. Sementara Agastya mengernyitkan dahinya, melihat itu Roni pun mensejajarkan dirinya agar sejajar dengan Agastya.
"Ada apa boy?" Tanya Roni.
"Uncle Roy kenapa ada dua? Di Depan satu dan dibelakang satu?" Tanya Agastya yang kebingungan.
Sementara semua orang terlihat menahan tawanya, kecuali Roy dan Roni yang menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Bersambung……