Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Menyerang


__ADS_3

Matahari masih belum mau naik dari peraduannya. Namun, tangan seseorang di dalam sebuah kamar dengan pencahayaan temaram, bergerak kesana kemari dengan nakalnya.


Tangan siapa lagi, kalau bukan Abi. Dia bangun lalu melihat ke arah istrinya yang masih lelah karena kegiatan mereka semalam. Dengan usilnya tangannya menggerayangi tubuh istrinya yang tidak menggunakan sehelai benangpun dan hanya tertutup selimut.


Mulutnya lalu menuju pucuk da*a Istrinya yang kini sudah menjadi bagian favoritnya. Menghiisaapnya pelan, tangan kirinya membelai lengan istrinya dan tangan satunya merremass salah satu da*a yang menganggur.


"Ughhh" Leguh Thika, lalu terbangun dari tidurnya. Bisa dia lihat Abi yang berada di atas da*anya, mulutnya penuh karena menghisap pucu*nya. Seperti bayi yang sedang menyusu.


"Hubby apa yang kamu lakukan?" Tanya Thika menahan desa*annya. Tangannya mengelus rambut Abi.


Abi hanya diam. Lalu semakin memperkuat hisapannya. "Ugh! A-Abi…. Ah…." Desa* Thika. Meremas rambut Abi.


Setelah puas bermain, Abi pun membawa Thika ke kamar mandi untuk mandi bersama.


*


Saat ini mereka sudah berada di meja makan, menyantap makanannya dengan lahap.


"Sayang, makannya pelan-pelan saja." Ucap Abi yang sedikit terkekeh karena melihat Thika yang makan dengan tergesa-gesa.


Thika menatap Abi tajam. "Ulah siapa coba? Dasar!" Kesal Thika. Bagaimana tidak setelah melakukan kegiatan panas tenaganya terkuras habis.


Abi hanya tersenyum. Tak lama Roy datang menghampiri. "Pagi bos!" Sapa Roy. Abi hanya mengangguk.


"Asisten Roy, makanlah bersama kami." Ajak Thika. Tanpa ragu Roy duduk lalu makan, karena dia belum sarapan.


*


"Sayang, nanti malam dan besok aku akan sibuk mungkin juga tidak bisa pulang. Jaga dirimu baik-baik. Dan juga hari ini tidak usah ke kantor." Titah Abi. Lalu menciium bibir Thika.


Thika mengangguk, lalu memeluk Abi. "Hati-hati." Ucap Thika. Yang dibalas deheman oleh Abi.


Abi pun masuk ke mobil, setelah itu Roy melajukan mobilnya menuju markas Golden Eagle.


"Bagaimana bos, enak ya?" Tanya Roy dengan alisnya yang naik turun. Karena tadi dia mendengar pembicaraan bosnya di meja makan. Tentu saja sebagai seorang pria dewasa dia mengerti apa yang sudah dilakukan bosnya.

__ADS_1


"Diam! Kalau mau cepat cari istri sana!" Ketus Abi.


Roy hanya diam karena kesal atas jawaban bosnya itu.


*


*


Mereka pun sudah sampai di markas Golden Eagle yang terletak di dekat hutan pinggiran kota. Abi dan Roy disambut oleh beberapa bawahan yang berjaga di luar markas.


Abi berjalan menuju ruangannya. Beberapa orang sudah berada disana. "Bagaimana persiapannya?" Tanya Abi.


"Sudah 75 persen bos! Hanya perlu menyiapkan personil dan menyiapkan senjata cadangan." Sahut salah satu bawahan yang bernama Ivan.


Abi mengangguk. "Lalu bagaimana anggota kita yang berada di markas Black Snake? Apa sudah diberitahu?" Tanya Abi lagi.


"Sudah aku beritahu. Dan keadaan disana sangat lengah tidak ada pergerakan apapun." Kali ini Roy yang menjawab.


"Baik! Kita tidak boleh lengah. Kita akan menyerang markas Black Snake malam ini, jadi persiapkan diri kalian. Kali ini kita harus menang!" Ucap Abi dengan nada serius.


*


*


*


Terlihat sekitar 25 mobil berwarna hitam melintas di sepanjang jalan raya. Ya, mobil itu adalah mobil Abi beserta bawahannya. Dia dan pasukan Golden Eagle sedang bersiap untuk melumpuhkan markas Black Snake. Dimana kelompok itu dipimpin oleh pamannya sendiri.


Setelah beberapa waktu, Abi dan para bawahannya saat ini sudah berada di sekitar markas Black Snake. Dengan cepat Abi membagi bawahannya menjadi tiga bagian untuk mengepung markas tersebut.


Tak lama 15 orang penjaga Black Snake datang karena melihat anak buah Abi yang sudah mengepung markas. Abi dan Roy memukul sebagian besar penjaga tersebut sisanya para anak buah menggunakan pistol untuk melumpuhkan mereka.


Mereka menyelinap ke dalam markas. Tampak markas sedang sepi karena semua orang sudah terlelap dalam tidurnya. Anak buah Abi pun menghampirinya.


"Bos! Ketua Black Snake berada di sebuah bangunan yang tak jauh dari sini." Ucapnya.

__ADS_1


Abi mengangguk. "Pasang bom yang sudah disiapkan! Pastikan semua hancur tak tersisa, dan juga rampas juga senjata dan barang-barang berharga yang mereka miliki!" Titahnya.


Bawahan Abi mengangguk mengerti, lalu dengan cepat melaksanakan perintah yang diberikan bosnya.


Abi dan Roy pun menuju gedung yang tak jauh dari markas. Dimana tempat itu merupakan tempat pamannya berada. Abi memberikan aba-aba untuk mengepung bangunan tersebut.


Roy membuka pintu bangunan tersebut lalu dengan cepat menghajar orang-orang yang keluar dari bangunan tersebut.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Beberapa pukulan sudah dikeluarkan oleh Roy untuk menghajar empat orang yang menjaga bangunan tersebut. Roy pun menembak mereka berempat, karena menghajar mereka akan menghambat waktu dan menghabiskan tenaga.


Abi masuk ke dalam bangunan tersebut. Bersama dengan Roy mencari keberadaan pamannya tersebut. Penjaga demi penjaga sudah berhasil ditembak oleh Abi beserta bawahannya. Bisa dilihat dari pakaian mereka yang sudah berlumuran darah.


Mereka semua pun menuju sebuah kamar yang berada di lantai dua.


"Berhenti disana! Atau aku tidak akan segan menembakmu!" Teriak seseorang yang berada di depan mereka sambil menodongkan pisto*. Menjaga sebuah ruangan, yang bisa Abi simpulkan bahwa ruangan itu pasti terdapat pamannya.


Roy menyeringai. "Kau yang akan kalah nantinya!" Ucap Roy. Lalu maju menyerang orang itu. Menghajarnya dengan cepat.


Dor! Suara tembakan hampir mengenai Roy.


"Jangan buang-buang waktumu untuk hal yang tidak berguna seperti itu!" Ucap Abi.


"Tidak bisakah gue mempertunjukkan kemampuan yang gue miliki?" Kesal Roy. Karena harus dihentikan, padahal dia mendapat lawan yang sepadan.


Mereka pun membuka pintu yang tadi dijaga oleh pria itu.


"Kau sudah datang juga keponakanku." Ucap seseorang yang duduk dengan kakinya yang berada di atas meja. Yang di belakangnya ada 2 orang bertubuh besar.


Bersambung……

__ADS_1


__ADS_2