
Saat ini Abi, Thika dan si kembar sedang bersiap-siap menuju taman hiburan. Seperti yang sudah dijanjikan Abi kepada Agastya.
"Are you ready boys?" Tanya Abi kepada kedua putranya.
Dengan semangat Aska dan Agastya menjawabnya. "We are ready dad!"
Aska dan Agastya pun berlari lebih dulu menuju mobil Abi yang terparkir di depan rumah. Sementara Abi membatu Thika yang kesusahan membawa barang bawaan seperti Snack dan minuman.
"Biar aku yang bawa, ini pasti berat." Ucapnya lalu meraih tas bawaan Thika.
Thika hanya pasrah, membiarkan Abi membantunya. "Nis, jaga rumah ya. Kami pergi dulu." Pamit Thika kepada Nisha yang berada di rumah.
"Iya nyonya Dewantara." Goda Nisha. Yang membuat Thika seketika tersipu malu.
Mereka berempat pun saat ini sudah berada di dalam mobil. Aska dan Agastya duduk di kursi belakang dengan Thika duduk di kursi depan.
Di sepanjang perjalanan hanya terdengar celotehan Agastya dengan Abi, sesekali Thika dan Aska juga menanggapinya.
*
Tak lama mereka pun sampai di taman hiburan Canada's Wonderland. Yang merupakan taman hiburan seluas 134 hektar yang terletak di Vaughan, Ontario, pinggiran kota sekitar 25 kilometer di utara Pusat Kota Toronto .
Mereka berempat pun memilih menaiki beberapa permainan seperti komedi putar dan sebagainya. Sampai pada akhirnya mereka bermain di wahana roller coaster.
Saat bermain di wahana roller coaster yang paling antusias tentu saja Agastya karena sesekali dia berteriak dengan girangnya tanpa adanya rasa takut yang tercetak di wajahnya. Setali tiga uang, Abi juga tidak menampilkan ekspresi rasa takut, tapi lebih ke ekspresi dinginnya.
Sementara Thika dan Aska mereka juga berteriak tapi bukan teriakan antusias, sebaliknya mereka mengeluarkan teriakan rasa takut. Ibu dan anak itu sama-sama memeluk satu sama lain karena saking takutnya.
Setelah beberapa menit bermain wahana roller coaster, mereka pun duduk di rest area yang tersedia sambil minum air.
__ADS_1
"Apakah sudah lebih baik?" Tanya Abi yang cemas karena melihat Thika yang muntah setelah menaiki wahana roller coaster.
"Aku sudah sedikit lebih baik." Sahutnya. Lalu menegak air putih yang tadi diberikan oleh Abi.
Melihat Thika yang sudah lebih baik, Abi pun melihat kondisi Aska yang sama sekali tidak terlihat baik. "Aska, apakah kamu masih muntah?" Tanya Abi duduk disamping Aska.
Aska menjawabnya hanya dengan gelengan. Abi pun memiliki sebuah ide untuk menggoda Aska. "Apakah benar kamu pemilik ASTA Corp? Naik wahana roller coaster saja muntah." Goda Abi sedikit berbisik.
Aska memicingkan matanya, raut wajahnya yang tadi pucat berubah jadi kesal. "Apakah Daddy sedang menggodaku?" Ucap Aska.
Abi hanya cengar-cengir. "Tentu saja tidak." Jawabnya.
"Apa yang kalian bicarakan sambil berbisik?" Tiba-tiba Thika mendekat karena melihat interaksi ayah dan anak yang sedikit aneh.
"Tidak ada." Jawab Aska dan Abi serentak.
Agastya pun mendekat. "Mom, Agastya lapar, ayo kita makan." Ucap Agastya.
Sementara Thika dan Aska berjalan di samping Abi, dengan bergandengan tangan. Karena Aska tidak ingin digendong seperti Agastya.
*
*
Di restoran
Mereka sudah duduk menunggu makanan yang sudah dipesannya. Mungkin dari kejauhan semua orang akan berpikir mereka berempat sebagai sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Tak lama kemudian makanan pun sudah tersaji di atas meja, mereka pun makan dengan khidmatnya, dengan sesekali Agastya dan Aska bercerita tentang kegiatan dirinya selama bersekolah.
__ADS_1
"Mom, Dad, tidak bisakah kita tinggal bersama? Seperti Daddy dan mommy temanku? Mommy temanku akan mengantarnya ke sekolah dan di saat pulang sekolah daddy-nya yang akan menjemputnya." Pinta Agastya.
Thika dan Abi saling pandang mendengar permintaan Agastya yang satu ini.
"Aku setuju apa yang dikatakan adik. Bila kita bersama Daddy maka tidak akan ada orang yang mengejek kami lagi." Ujar Aska membenarkan ucapan adiknya.
"Itu…. Daddy."
"Akan mommy pertimbangan hmm." Sela Thika.
Seketika membuat Aska dan Agastya menjadi senang mendengarnya. "Really mom?" Keduanya antusias. Thika hanya mengangguk.
*
Malam pun tiba, sang rembulan menyinari langit yang sudah gelap gulita, bersama ribuan bintang yang bertaburan di langit.
Thika dan Abi masing-masing membawa Aska dan Agastya ke kamarnya yang sedari tadi tertidur di perjalanan.
Setelah meletakkan kedua anaknya di atas ranjang Thika pun mendekat Abi. "Bisa aku berbicara denganmu?" Tanyanya.
"Tentu saja." Jawab Abi.
Mereka pun menuju halaman belakang. Lalu duduk di sebuah bangku kayu yang tersedia disana.
"Kamu tahu aku selama ini aku mencurahkan kasih sayang yang berlimpah saat membesarkan Aska dan Agastya, agar mereka dapat melupakan kasih sayang ayah yang tidak mereka dapatkan. Aku sama sekali tidak tahu bahwa selama ini mereka sangat merindukan kasih sayang seorang ayah." Ucap Thika sendu.
"Sekarang aku sama sekali tidak ingin egois. Aku ingin kita kembali seperti dulu demi Aska dan Agastya." Ucapnya lagi.
Abi senang mendengarnya, dengan cepat memeluk tubuh Thika dengan erat. "Terima Kasih sayang, kali ini aku tidak akan membuat kesalahan atau membuatmu menangis lagi." Ucap Abi. Thika mememuk Abi semakin erat menelusupkan wajahnya di dada bidang Abi.
__ADS_1
Bersambung……