Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Disepanjang perjalanan Thika masih merasa malu atas kejadian tadi. Bahkan sedari tadi dia memalingkan wajahnya menatap jalanan yang sudah dipenuhi kendaraan yang berlalu lalang. Sesekali ia melirik Abi yang sedang fokus menyetir.


Berbeda dengan Thika, Abi sedari tadi mengukir senyum. Senyum sumringah yang jarang ia perlihatkan selama ini. Ia pun menatap wajah thika sekilas, wajah yang terlihat sangat imut ketika sang empunya malu-malu.


Tak berselang lama tatapan mereka saling bertemu. Abi tersenyum kikuk, bagaimana tidak mereka ia kedapatan diam-diam menatap Thika. Ia merasa seperti menjadi tersangka yang tertangkap basah sedang mencuri. Thika tak kalah malunya, setelah melakukan hal yang memalukan dan sekarang kedapatan menatap Abi. Ingin rasanya ia bersembunyi di lubang semut.


Seketika mereka memalingkan wajah mereka. Thika kembali memalingkan wajahnya ke kiri melihat jalanan sedangkan Abi kembali fokus menatap jalanan.


Seketika Abi merasa aneh, sedari tadi ia merasa sedang diikuti. Ia pun melihat kaca spion mobilnya. Benar saja, terlihat tiga mobil mengepung nya dari berbagai sisi. Dilihatnya jalan kecil yang berada di bangunan tua, lalu Abi membelokkan mobilnya menuju ke gang tersebut. 


Thika kebingungan karena melihat jalanan yang tampak sepi. Ia berpikir kenapa Abi mengajaknya ke sebuah jalan kecil dan tak berpenghuni. Bukankah mereka tadi sedang berada di jalan menuju perusahaan? 


Thika melihat Abi sekilas. "Kenapa kita kesini? Ini bukan jalan ke kantor." Tanya Thika kepada Abi. Dilihatnya Abi sedang agak tegang, entah apa yang membuatnya begitu.


"Diamlah sebentar! Ada orang yang mengikuti kita dari tadi!" Ucap Abi dengan suara yang sedikit tinggi karena tegang.


Dirasa situasi sedang baik, karena jalanan yang sepi dan tidak adanya rumah, dengan cepat Abi mengambil sebuah pistol kedap suara yang dia simpan di bawah jok mobil.


Dengan cepat Abi membuka kaca jendela menyembulkan kepalanya keluar dengan sesekali menyetir. Thika yang melihatnya jelas panik melihat Abi akan menyerang musuh, bagaimana bisa dia melakukannya padahal ia sendiri sedang mengemudi.


Abi pun memfokuskan pistolnya itu kearah ban mobil, berharap dengan itu mereka tidak akan mengikuti mereka lagi.


Dor


Dor


Dua tembakan yang nyaris tak bersuara mengenai ban depan dari salah satu dari tiga mobil yang mengikutinya.


Mobil yang ditembak Abi pun kehilangan keseimbangannya. "Oh ****!" Umpat pria yang mobilnya terkena tembakan dari Abi. Pria itu pun mengambil senjata api Laras panjang nya lalu mengarahkan kearah mobil yang dikendarai Abi. 


Melihat itu Abi dengan cepat kembali masuk kemobil dan memposisikan dirinya agar terhindar dari tembakan yang akan datang.

__ADS_1


"Menunduklah! Jangan sampai kamu terluka." Perintah Abi kepada Thika. Lalu menyuruh Thika agar menundukkan kepalanya. Pria itu terus menembakkan peluru tersebut ke arah mobilnya. Namun, dengan cepat Abi menghindarinya.


Abi tampak kerepotan karena harus membagi konsentrasinya. Disatu sisi dia harus mengemudikan mobilnya dengan baik. Dan disisi lain dia harus melawan sekelompok orang yang mencari masalah dengannya.


Thika yang melihat Abi kerepotan, merasa iba. "Abi apa kamu ada pistol lagi?" Tanya Thika kepada Abi yang sedang berbelok menuju bangunan terbengkalai.


Abi tidak menoleh. "Untuk apa?!" Tanya Abi sedikit berteriak.


Thika berdecak kesal. "Sudah! Jangan banyak tanya. Keadaan sudah tidak memungkinkan!" Seru Thika. Tanpa izin ia mengambil pistol lain yang berada di bawah jok yang ia duduki. Thika pun menurunkan kaca mobilnya.


Dor


Dor


Dor


Suara tembakan membuat Abi sedikit terkejut. Pasalnya wanita yang ia kira lemah bisa menggunakan senjata. Tembakan Thika tidak meleset ia menembak dua ban depan mobil yang mengepung mereka dari sebelah kiri. Dan satu tembakan lain mengenai kaca depan mobil tersebut, membuat kaca retak sehingga menyulitkan pria itu melihat arah depan.


Melihat itu, Thika dengan cepat mengarahkan bidikannya kearah mobil yang tadi menembaknya.


Dor


Dor


Thika menembak dua ban mobil bagian kiri dengan sempurna. Mobil itu pun terguling menimpa mobil yang mengepung mobil Abi dari sebelah kiri. Tak lama dua mobil tersebut meledak.


Bukankah sekarang ini aku seperti berada di film fast and furious yang diperankan Vin Diesel? Batin Thika.


Tinggal satu mobil tersisa yang mengejar mereka. Namun, kali ini Abi sendiri yang ingin melumpuhkannya. Dia ingin mencari tahu dalang dari kejadian ini dengan menyandera orang dari mobil ini.


Abi pun masuk ke dalam fondasi yang belum jadi. Dengan cepat Abi menembak mobil itu.

__ADS_1


Dor


Tembakan Abi mengenai lengan dari si pengemudi mobil sehingga mobil tersebut menabrak beton. Setelah itu, Abi dan Thika sama-sama turun dari mobilnya lalu menghampiri mobil yang menabrak beton itu. Mencari pria yang mengemudikan mobil.


Abi membuka pintu mobil, dengan cepat Abi memberinya obat tidur yang ia taruh di sapu tangannya. Pria itu pun pingsan tak sadarkan diri.


Disaat mereka lengah, pria yang mobilnya sudah medal sempat menyelamatkan dirinya. Dia mengambil pistolnya mengarahkan ke arah Abi.


Thika yang baru menyadari situasi dengan cepat menolong Abi. Ia berlari sembari meneriakkan namanya.


"Abi!!!!"


Dor!


Karena tak sempat menghindar Abi terkena luka tembakan di dada sebelah kirinya. Melihat itu, Thika terkejut dengan cepat ia mengarahkan pistol yang dibawanya ke arah pria itu.


Dor!


Pria itu terjatuh akibat terkena luka tembak di bagian kepalanya. 


Thika yang melihatnya menjadi agak gemetaran. Pasalnya baru pertama kalinya dia membunuh orang menggunakan pistol. Tak lama pikirannya kembali, dia melihat Abi yang kesadarannya mulai menurun akibat banyak da*ah yang mengalir keluar.


"Abi! Sadarlah Aku akan membawamu ke rumah sakit!" Ucap Thika sambil menepuk-nepuk pipi Abi.


Abi pun mengangkat tangannya yang berlumuran da*ah kewajah Thika. "To-tolong telepon Roy, su-suruh dia da-tang kemari." Ucap Abi dengan suara yang lirih. Tak lama kesadarannya semakin menurun, lalu tak sadarkan diri.


Thika jelas panik. Dia semakin menepuk pipi Abi dengan keras. "Abi jangan sadarkan diri dulu! Buka matamu!" Ucap Thika.


Dengan cepat ia membopong tubuh besar Abi ke arah mobil. Meletakkan tubuh Abi di jok belakang. Lalu ia menyalakan mesin mobil yang tujuannya adalah rumah sakit.


Bersambung…..

__ADS_1


__ADS_2