Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Tidak Mudah Berpaling Ke Lain Hati


__ADS_3

5 tahun kemudian.


Kanada.


Kanada adalah salah satu negara terbesar di dunia yang terletak di Benua Amerika Utara. Luas wilayah yang sebesar 9.984.670 km2 ini menjadikannya sebagai negara terluas kedua di dunia ini setelah Rusia.


Kanada merupakan Negara Realm Commonwealth dengan sistem pemerintahan Monarki Konstitusional Federal. Yang artinya negara kerajaan persemakmuran Inggris yang mengakui Ratu Britania Raya atau Ratu Inggris sebagai Kepala Negaranya sedangkan kepala pemerintahannya adalah seorang Perdana Menteri yang dipilih oleh Rakyat Kanada selama 5 tahun sekali. Di Kanada, Ratu Britania Raya (Ratu Inggris) diwakili oleh seorang Gubernur Jenderal.


Di Sebuah kota di Kanada, Winnipeg adalah tempat tinggal berbagai bangsa dan budaya, setiap tahun diperingati Festival du Voyageur, yaitu festival musim salju yang menggambarkan budaya masyarakat. Winnipeg adalah kota terbesar dan pusat perkembangan ekonomi di provinsi Manitoba.


Sebagaimana dengan keadaan daerah-daerah padang rumput lainnya, Winnipeg adalah penghasil produk-produk peternakan dan pertanian, termasuk salah satuanya Canola.


Di Sebuah rumah teriakan jelas menggema di setiap sudut rumah tersebut.


"Mommy!" Teriak dua bocah yang sedang berlarian mencari ibunya.


Sementara seorang wanita datang karena mendengar teriakan dua bocah tersebut. "What happened, boys?" Tanya Nisha kepada dua anak kecil berusia 6 tahun-an.


"Aunty dimana mommy?" Tanya Agastya si bungsu.


Nisha berjongkok mensejajarkan dirinya agar tingginya setara dengan bocah kecil itu. "Mommy kalian lagi sibuk gak bisa diganggu. Katakan pada aunty jika ada yang ingin kalian katakan pada mommy kalian." Ucap Nisha memberi pengertian.


"Grandma ji mengundang kita semua untuk makan malam." Ucap Aska si sulung.


Nisha mengangguk. "Ok boys, aunty akan memberitahukannya." Ucapnya.


Kedua bocah itu berlari menuju taman untuk bermain. Sementara Nisha melihatnya dari belakang.


Ingatannya jelas berkelana pada kejadian tujuh tahun lalu, dimana baru saja dia dan Thika menginjakkan kakinya di Kanada.


Baru saja beberapa langkah keluar dari bandara, Thika pun terhuyung lalu jatuh pingsan. Dengan cepat Nisha meminta bantuan seseorang yang ada disana lalu membawa Thika ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Nisha pun menunggu dokter yang menangani Thika keluar dari UGD. Jelas walau Nisha juga seorang dokter, karena tidak memiliki izin praktek di rumah sakit tersebut, maka tidak diperbolehkan.


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Nisha.


"Apakah nona itu saudara anda?" Balik dokter itu bertanya.


Dengan cepat Nisha menjawabnya "Yes!"


"Nona sedang hamil 4 Minggu, janinnya sangat kuat tapi ibunya sangat lemah. Tolong kedepannya perhatikan keadaannya dan suasana hatinya." Ucap dokter itu, menjelaskan keadaan sahabatnya.


Nisha diam tidak percaya. Sahabatnya dalam keadaan hamil saat ini, apalagi baru saja dia menghadapi sebuah cobaan. Dia jelas iba kepada Thika, disaat wanita dalam fase hamil mereka akan diurus oleh suaminya namun, Thika harus menjalani kehamilannya seorang diri.


Dengan cepat Nisha masuk ke ruangan itu menatap sosok Thika yang wajahnya sedikit pucat, karena kelelahan. "Yang kuat, kamu pasti bisa melaluinya." Gumam Nisha disamping sahabatnya.


Selama beberapa bulan, Nisha lah yang membantu mengurus Thika di masa kehamilannya, karena Nisha sendiri merupakan calon dokter kandungan. Nisha juga sudah menghubungi Mahen tentang kehamilan Thika.


Thika sendiri menjalani kehamilannya tanpa adanya ngidam. Bahkan dia sendiri menutup diri dan hanya diam di dalam kamarnya. Sampai diusia kehamilan enam bulan Thika mau terbuka dengan kehidupannya.


Tiga bulan kemudian, Thika pun sampai pada tahap persalinan, Thika berjuang melawan hidup dan matinya melahirkan buah hatinya tanpa didampingi sang suami. Hanya ditemani Nisha dan Mahen.


Sampai akhirnya dua jagoan kecil lahir. Wajahnya terpancar kebahagiaan menatap malaikat kecil itu.


Askara Saputra dan Agastya Saputra, nama yang Thika berikan kepada kedua putranya.


*


Pada saat hari pernikahan Sarah. Nisha dan Thika tentu akan datang menghadirinya namun, dia batalkan karena kedua anaknya yang tiba-tiba demam. Sehingga dia hanya menitipkan salamnya bersama Nisha.


Kembali ke masa kini.


"Thika! Aunty ji mengundang kita makan malam." Ucap Nisha disaat Thika membereskan dokumen-dokumen yang dia siapkan.

__ADS_1


Thika berbalik. "Lagi? Apakah aunty ji tidak lelah mengundang kita?" Tanya Thika yang heran bagaimana bibi tetangganya itu terus mengundangnya makan malam.


"Aku rasa dia ingin menjodohkanmu dengan putranya, Ranveer. Bukankah dia duda?" Ujar Nisha menggoda Thika. Menaikkan kedua alisnya.


Thika dengan cepat menepisnya. "Kami tidak dekat, hubungan kami hanya sekedar atasan dan bawahan." Jawabnya dengan memalingkan wajahnya.


"Apakah kamu masih belum move on?" Tanya Nisha. Menatap sahabatnya itu.


Tatapan Thika berubah sendu. "Kamu tahu dia cinta pertamaku, dan ayah dari anakku. Hal-hal yang kami habiskan menjadi kenangan terindah bagiku. Tidak mudah bagiku berpaling ke lain hati." Ucapnya.


"Bukankah aku mirip denganmu? Mencintai seseorang walau orang tersebut belum tentu mencintai kita?" Goda Thika. Menggoda Nisha mengenai hubungannya dengan kakaknya yang masih jalan ditempat.


"Thika!" Teriaknya dengan pipi merah padam.


"Ya, kakak ipar?" Goda Thika lagi. Lalu berlari.


Nisha pun mengejar Thika. "Aku tidak akan melepaskanmu." Teriak Nisha.


Bersambung……


********************


Bagai suara yang bercampur dengan kebisingan yang tidak menyenangkan.


Walau dikelilingi orang-orang baik kenapa masih tetap merasa sendiri?


Dunia bermaksud memisahkan saya dari diri saya.


Meskipun saya bicara, saya tidak lagi bisa bicara.


~Me~

__ADS_1


*******************


__ADS_2