Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Meminta bantuan


__ADS_3

"Satu-satunya cara yaitu membiarkan Thika keluar dari kediaman Dewantara, lalu menemuinya diam-diam." Ucap Jenderal Sanjaya.


Semua orang tampak berpikir. Mayor Agatha menatap putri tunggalnya yang sedang mencerna apa yang sedang dibicarakan. Lalu beliau menepuk pelan bahu putrinya itu.


"Nak! Papa mau tanya, apakah kamu bertemu nona Thika akhir-akhir ini?" Tanya Mayor Agatha. Mahen dan Jenderal Sanjaya seketika menatap Nisha penuh selidik.


Nisha mendongak menatap Papanya yang berdiri di sampingnya. "Nisha bertemu Thika terakhir waktu sebelum dia melamar pekerjaan dan beberapa hari setelah Thika mendapatkan pekerjaan pa." Jawab Nisha tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Di perusahaan mana dia bekerja?" Kali ini Mahen bertanya.


Nisha menoleh menatap Mahen. "Dewantara Enterprise…. Sebagai sekretaris." Jawab Nisha dengan lirih di akhir kalimatnya.


Mahen dan Jenderal Sanjaya terkejut. Pantas saja Abimanyu bisa mengenali Avanthika sebagai putrinya. Batin Jenderal Sanjaya yang menyalahkan dirinya sendiri.


Mahen memijat pelipisnya yang sedari tadi tak henti-hentinya memikirkan sang adik. Ia merasa tidak becus menjadi seorang kakak.


"Maafkan ayah yang tidak becus menjaga adikmu. Ayah tidak bertanya dimana dia bekerja sebelumnya." Ucap Jenderal Sanjaya yang terdengar lirih.


Mahen mendekati ayahnya. "Jangan menyalahkan diri sendiri yah." Ucap Mahen menyemangati ayahnya agar tidak menyalahkan dirinya sendiri.


"Lalu bagaimana selanjutnya tuan?" Tanya Mayor Agatha.


Mahen meletakkan lengan kirinya di atas kepala lalu menyenderkan kepalanya di sofa. Lalu Mahen melirik Nisha sekilas. "Satu-satunya cara kita menemui Thika yaitu membiarkan Nisha bertemu dengannya." Ucap Mahen memecah keheningan.


Nisha menoleh ke arah Mahen menatap mata tajamnya sambil mengerutkan keningnya. "Bagaimana caranya kak?" Tanya Nisha.


"Kau bisa menghubungi Thika. Ajak dia makan di restoran atau jalan-jalan ke mall. Buat agar Abimanyu tidak curiga jika kita menemui Thika diam-diam." Jawab Mahen.

__ADS_1


Mayor Agatha dan Jenderal Sanjaya tampak setuju dengan rencana Mahen. Tapi berbeda dengan Nisha.


"T-tapi kak…" ucap Nisha sedikit ragu-ragu.


Mahen memegang tangan kanan Nisha. Ia tahu akan kekhawatiran Nisha. Karena menghadapi seorang Abimanyu Dewantara tidak akan mudah.


"Percaya denganku semua akan baik-baik saja. Aku mohon bantu Aku menyelamatkan adikku." Mohon Mahen meminta pertolongan kepada Nisha. Karena Nisha adalah satu-satunya yang bisa diandalkan saat ini. 


"Baik! Aku akan berusaha!" Semangat Nisha.


*


*


Di sisi lain. 


Seorang pria yang tadi berhasil mengambil sebuah kotak di sebuah rumah pinggiran kota sedang berusaha membuka kotak yang diambilnya. Pria itu membawa kotak itu ke apartemennya ia penasaran akan isi kotak tersebut. Selama beberapa hari penasaran setengah mati, kalau saja tidak ada panggilan telepon pasti dia akan membukanya ditempat.


Tak lama gemboknya pun terbuka. Bisa dilihatnya isi kotak tersebut. Satu buku, dan beberapa kertas. Kertas yang menjadi bukti atas kejahatan seseorang.


"Jadi selama ini dia orangnya" gumam pria itu.


*


*


*

__ADS_1


Di mansion mewah Abi, seperti sudah menjadi kebiasaan saat ini Thika sedang mengambilkan sarapan untuk suaminya sekaligus Bosnya. Jika dilihat sekilas mereka terlihat seperti pengantin baru yang akur dan harmonis. Tapi kenyataannya tidak ada cinta diantara mereka hanya ada sebuah perjanjian yang mengikat mereka. Tapi tak memungkiri mungkin suatu saat nanti mereka akan saling mencintai, siapa tahu karena jodoh sudah ditakdirkan oleh Tuhan.


Mereka pun sarapan dengan khidmat. Beberapa saat kemudian mereka sudah selesai sarapan. Thika merasa sedikit aneh pasalnya biasanya asisten Roy akan datang saat sarapan tapi, sampai selesai sarapan ia tak juga melihat batang hidung dari asisten Roy.


Abi sudah rapi dan membawa tas kantor yang berisi dokumen penting didalamnya. Ia pun menghampiri Thika yang kelihatan sedang menunggu seseorang.


"Ada apa?" Tanya Abi. 


Thika pun menoleh. "Tidak ada. Aku hanya sedang menunggu asisten Roy. Tak biasanya dia belum datang, padahal sudah jam segini." Jawab Thika sembari melihat jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya.


"Aku menyuruhnya pergi mengantar dokumen ke perusahaan lain." Sahut Abi. Lalu melangkah ke depan pintu. Thika pun mengikutinya di belakang dengan menjinjing tas tangannya.


Pak Jak pun sudah sigap berdiri di samping mobil lalu membukakan pintu untuk majikannya. 


"Hari ini saya yang akan mengemudikan mobil, Pak Jak bisa istirahat." Ujar Abi kepada pak Jak.


Pak Jak pun memberi kunci mobil kepada Abi lalu pergi meninggalkan Abi dan Thika.


Abi pun sudah berada di dalam mobil. Dilihatnya Thika yang masih diam. Abi menurunkan kaca jendelanya. "Masuk! Mau sampai kapan kamu disana?" Tanya Abi dengan suara yang seperti memerintah. 


Thika pun masuk, duduk di jok belakang.


"Duduk di depan! Aku bukan supirmu!" Ucap Abi menahan rasa kesalnya.


Dengan cepat Thika duduk di jok depan disamping Abi. Seketika Thika kaget melihat Abi yang semakin mendekat ke arahnya. Ia memejamkan matanya saat Abi benar-benar dekat dengan wajahnya bahkan bisa Thika rasakan hembusan nafasnya mengenai area wajahnya.


Melihat reaksi Thika, Abi menyeringai lalu menyentil kening Thika. "Kamu mikirin apa? Hmm." Ucap Abi tangan kanannya menggapai seat belt, membatu Thika memakainya.

__ADS_1


Wajah Thika bersemu merah dia merasa malu atas kelakuannya. Setelah itu Abi menjalankan mobilnya, sepanjang jalan Abi tersenyum kecil. Sedangkan Thika memalingkan wajahnya melihat jalanan.


Bersambung….


__ADS_2