Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Kamu Hanya Milikku.


__ADS_3

Deru suara mesin mobil terdengar di depan rumah Thika. Mahen yang berada di ruang tamu dengan cepat beranjak membuka pintu. Setelah itu rahangnya seketika mengeras, tangannya terkepal.


Alasan kenapa Mahen bersikap seperti itu karena Nisha yang turun lalu mengobrol dengan bahagia bersama laki-laki lain.


"Nis, kenapa baru pulang dan siapa dia?" Teriak Mahen lalu menarik pergelangan tangan Nisha.


Nisha pun kaget mendengar suara yang selalu dirindukannya. Tunggu? Kenapa kak Mahen bisa ada disini? Kapan dia kemari? Batinnya bertanya-tanya.


"Awhh!" Nisha meringis pelan karena merasakan sakit, karena genggaman Mahen yang semakin kuat. Melihat wajah Nisha yang sedikit kesakitan Mahen mengendurkan pegangannya.


Karena khawatir ada keributan, Thika pun menyusul kakaknya ke luar rumah. Bisa dilihat Nisha diantar pulang oleh Dokter Andrew. Dokter Andrew merupakan dokter ahli bedah yang bekerja di satu rumah sakit yang sama dengan Nisha.


"Kak tenang." Ucap Thika menenangkan Kakaknya.


Nisha menatap Mahen sekejap. "Maaf kak, aku ada shift malam dan kebetulan dokter Andrew mau pulang jadi sekalian dia mengantarku." Ucapnya menjelaskan kepada Mahen.


Sementara Mahen menatap Dokter Andrew dengan tajam, bola matanya naik turun menelisik penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Satu hal yang dia pastikan, Dokter Andrew merupakan laki-laki tampan.


Mahen merasa sedikit minder pasalnya orang yang mendekati Nisha jelas seorang Dokter, tampan dan yang lebih penting umur mereka setara. Sedangkan dia hanya laki-laki lajang yang sudah agak tua.


Ahhh!!!! Memikirkannya saja sudah membuatnya kesal. Mahen bermonolog.


Daripada dia kehabisan kesabaran, Mahen pun tanpa basa-basi langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Thika, Nisha dan Dokter Andrew yang masih berada di sana.


*


Setelah mengantar kepergian Dokter Andrew, Thika dan Nisha masuk ke dalam rumah. Mahen pun terlihat duduk di ruang tamu sambil membaca koran.


"Nis, bukannya Dokter Andrew sudah bilang suka sama kamu? Kenapa gak diterima saja?" Ucapnya tepat di depan kakaknya.


Mendengar itu, Mahen kembali meradang. Dengan cepat Mahen menarik tangan Nisha membawanya ke dalam kamar yang ditempatinya. Sementara Thika hanya bisa geleng-geleng kepala, jika dia mencampuri urusan kakaknya bisa-bisa dia akan kena masalah.

__ADS_1


Brakk!!!


Mahen menutup pintu kamarnya sedikit keras. Lalu merapatkan tubuh Nisha di balik pintu tersebut.


"Ah! K-kak apa yang-"


Cup!


Ucapan Nisha terjeda karena Mahen yang dengan cepat menciu* bibirnya. ********** dengan sedikit kasar karena amarah bercampur cemburu yang menggebu-gebu.


Kedua tangan Mahen sudah menyentuh cuping telinga Nisha dengan lembut lalu menyusuri leher jenjangnya.


"Ah…. Kak!" Racaunya.


Mendengar racauan Nisha jelas membuat gairahnya tergugah. Ciumannya pun turun ke leher menciumnya dengan kuat memberi tanda kemerahan disana.


"Ah…. Kak Mahen! Ugh!"


Mahen menatap netra Nisha lalu menciumnya kanan kiri, lalu keningnya, kedua pipinya lalu berakhir di bibir ranumnya. Kali ini cium*n Mahen jelas sedikit lebih lembut.


Bisa Nisha rasakan sapuan nafas Mahen, yang seketika membuat tubuhnya meremang. "Tapi kak, bukannya itu terserah padaku? Aku dan kakak bukan siapa-siapa." Ucapnya.


Mahen pun menangkup pipi Nisha. "Sampai kapanpun kamu hanya milikku! Tidak boleh ada orang lain yang memilikimu!" Bentaknya.


"Jadi apa yang kakak mau?" Tanya Nisha dengan menundukkan kepalanya.


"Lihat aku! Mulai saat ini kamu adalah kekasihku!" Sahut Mahen.


Kedua netra Nisha jelas sudah berkaca-kaca, penantiannya selama beberapa tahun ini. Menunggu gunung es itu mencair berbuah manis. Dengan cepat Nisha mencium bibir Mahen, melihat kesempatan yang ada di depannya Mahen dengan cepat menahan tengkuk Nisha. Lalu memperdalam ciuman mereka.


Hahh! Huhh!

__ADS_1


Deru nafas mereka tersengal-sengal.


"Sekarang, kamu mandilah! Lalu istirahat, nanti malam kita akan berkencan hmmm." Ucap Mahen lalu mengusap sisa Saliva yang masih menempel di bibir Nisha.


Nisha hanya mengangguk lalu keluar dari kamar Mahen menuju kamarnya.


Sementara Mahen menuju kamar mandi, menuntaskan hasrat yang sedari tadi dia tahan. Dan untungnya tadi dia tidak kebablasan, jika iya maka sudah dipastikan Nisha sudah tergolek lemas di atas ranjang.


*


Malam harinya.


"Kak, aku dan anak-anak akan pergi ke pesta. Tolong nanti kunci rumah dan…." Thika mendekat ke arah kakaknya. "Jangan macam-macam dengan Nisha, jika sampai itu terjadi…. Awas saja!" Ucapnya lagi lalu menggerakkan tangannya menunjuk matanya dan mata kakaknya. Seolah berkata 'Aku selalu mengawasimu.'


"Bye uncle Mahen!" Seru si kembar melambangkan tangannya.


*


*


Disisi lain, Bandar Udara Internasional Winnipeg.


Seorang pria berjas hitam yang ditemani beberapa asistennya di belakang dengan kerennya melangkah menuju mobil yang sudah menunggu mereka.


Ya, itu adalah Abi dan Roy beserta beberapa asisten yang dibawanya kemari. Dia meninggalkan perusahaan yang berada di Indonesia kepada asisten kepercayaannya yang lain.


"Bos, apa langsung ke hotel atau tempat acara?" Tanya Roy.


"Langsung menuju tempat acara!" Titahnya.


"Baik bos!"

__ADS_1


Lalu melajukan mobil mewahnya menuju ke sebuah hotel tempat acara diadakan.


Bersambung……


__ADS_2