
Thika, Aska dan Agastya sudah bersiap-siap akan pergi makan malam ke rumah tetangganya. Nisha tidak bisa ikut karena ada jadwal melahirkan malam ini.
Aska si sulung sedang belajar di kamarnya sambil menunggu ibu dan adiknya bersiap. Aska sendiri memiliki wajah yang persis seperti Abi ayahnya. Sorot mata tajam, tatapan yang dingin dan sedikit bicara. Selain itu dia juga mewarisi kepintaran ayahnya, bahkan dia sendiri dicap sebagai anak jenius karena kepintarannya sudah melampaui anak seusianya.
Sementara Agastya si bungsu, dia memiliki sorot mata tajam ayahnya namun, selebihnya gen Thika yang lebih mendominasi. Pembawaannya yang ceria dan mudah bergaul. Berbeda dengan sang kembaran yang cenderung dingin dan cuek.
Dibandingkan sang kakak Aska dia sama sekali tidak terlalu pintar atau bodoh tapi sedang-sedang saja. Namun, satu kelebihannya yaitu ilmu bela dirinya diatas rata-rata. Itu karena Mahen yang mengajari mereka.
Mahen beberapa kali dalam setahun akan pergi menemui adiknya dan keponakannya itu. Lalu mengajarkan seni bela diri dan beberapa cara melindungi diri.
"Mommy apa masih lama?" Tanya Aska yang sedari tadi bosan menunggu Ibu dan adiknya.
"Yes, we are ready!" Ucap Thika dan Agastya serentak.
Mereka pun berjalan menuju rumah keluarga Sharma yang hanya berbeda beberapa rumah. Ya, rumah orang keturunan India tersebut. Disaat Thika baru pindah kesana, keluarga Sharma lah yang selalu membantu mereka.
Nyonya Sharma selalu mengundang mereka berkunjung ke rumahnya karena dia hanya tingga berdua dengan putranya. Sebelumnya menantunya meninggal karena sebuah penyakit.
Thika sendiri bekerja di perusahaan SI company milik putra nyonya Sharma. Sebagai kepala keuangan. Perusahaan tersebut bekerja di bidang properti dan desain interior.
Tak lama mereka bertiga pun sampai. "Namaste aunty ji." Ucap Thika dikala mereka sudah sampai. Nyonya Sharma pun menyambut mereka dengan suka cita.
"Ahh, ayo masuk!" Ujar nyonya Sharma. Lalu menyuruh mereka duduk di meja makan.
"Bagaimana keadaan kalian?" Tanya nyonya Sharma.
__ADS_1
"Kami semua baik aunty ji." Jawab Thika.
Tak lama anak laki-laki Nyonya Sharma datang lalu duduk di salah satu kursi. "Kalian datang juga, ayo makan masakannya." Ucap Ranveer.
Di meja makan sudah terhidang beberapa makanan India yakni nasi biryani, tikka masala dan samosa. Dan beberapa masakan western karena Aska dan Agastya yang tidak terlalu suka beberapa masakan India.
"Agastya, bagaimana dengan pertandingan karate mu?" Tanya Ranveer menatap Agastya yang sedang makan.
"Ahh, belum mulai mungkin Minggu depan aku akan mulai bertanding." Jawab Agastya.
"Lalu Aska, bagaimana pelajaranmu?" Tanya Ranveer lagi. Dia sendiri sangat susah akrab dengan Aska, karena dia sendiri tidak suka didekati.
"Lumayan." Jawab Aska singkat.
*
"Aunty ji, kami pamit pulang." Ucap Thika kepada nyonya Sharma.
"Tunggu Avanthi! Bawa ini, dan…" nonya Sharma menyerahkan tas berisi makanan. "Hei kau! Antar Avanthi kambali ke rumahnya!" Teriak nyonya Sharma kepada Ranveer putranya.
Ranveer bangkit dari sofa. "Ok mom!" Jawabnya.
*
Diperjalanan mereka hanya diam, hanya ada derap langkah kaki yang terdengar. Sampai akhirnya mereka sampai di rumahnya. Lalu menyuruh Aska dan Aga masuk ke dalam rumah. "Terimakasih bos!" Ucap Thika kepada Ranveer.
__ADS_1
"Bisakah kamu memanggilku Ranveer saja?" Tanyanya.
Thika menggeleng. "Mau bagaimanapun anda tetap atasan saya." Jawab Thika.
Ranveer menghela nafasnya. "Baiklah. Good night." Ucapnya. Lalu melenggang pergi.
*
*
Sekembalinya Ranveer dari rumah Thika. Dia sudah disambut oleh ibunya yang sesuai tadi menunggunya di depan pintu. "Hei, bocah tengik! Apa kamu sudah semakin dekat dengan Avanthi?" Tanyanya.
Ranveer memutar bola matanya malas. "Kenapa mommy selalu menjodohkan ku dengannya?" Balik dia bertanya.
"Bukankah dia baik dan cantik? Mommy ingin punya menantu dan istri yang bisa mengurusmu. Selain itu bukankah mommy akan mendapat dua cucu bila kamu menikah dengan Avanthi?" Ucap nyonya Sharma.
"Mom, berapa kali aku bilang aku tidak ingin menikah! Aku masih mencintai istriku Usha!" Ucap Ranveer yang sudah terlihat kesal.
Jelas bagi nyonya Sharma yang melihat anaknya yang masih bersedih karena ditinggal orang dicintainya mendorong putranya agar menikah lagi. Agar sedikit melupakan masa lalu.
"Lupakan Usha, dia sudah meninggal. Dan bukalah lembaran baru, lihat Avanthi, bukankah dia sempurna? Mommy hanya ingin kamu bahagia, sebelum mommy meninggalkanmu." Ucap Nyonya Sharma.
"Mommy jangan bicara seperti itu." Ucap Ranveer lalu menggenggam tangan ibunya. "Jika itu yang mommy mau, aku akan berusaha membuka hatiku untuknya." Ucapnya lagi.
Ranveer lalu memeluk ibunya.
__ADS_1
Bersambung……