
Abi pun kembali ke mansionnya setelah dari kediaman Sanjaya. Dengan pelan dia turun dari mobilnya.
Bisa dia lihat Roy datang menghampirinya dengan tatapan cemas. Karena melihat wajah Abi yang babak belur.
"Ada apa bos? Kenapa bisa seperti ini?" Ucap Roy lalu menyuruh Pak man membawakan kotak obat.
Abi menggeleng pelan. "Tidak usah pikirkan aku. Sekarang suruh anak buah kita mencari keberadaan Thika. Cari di terminal, stasiun atau bandara, Pastikan dia tidak pergi jauh!" Titah Abi kepada Roy.
Dengan cepat Abi pun melenggang masuk ke kamarnya. Meninggalkan Roy yang khawatir padanya, namun tetap menuruti perintah bosnya.
*
Saat ini Abi sudah berada di kamarnya. Dilihatnya sekeliling kamar itu sampai dia melihat jendela yang sedikit terbuka. Dia pun terkejut karena melihat sprei yang sudah digabungkan, menjuntai ke bawah. Apakah dia turun dari jendela? Batinnya bertanya-tanya.
Dia pun menutup jendela. Lalu atensinya tertuju pada surat yang berada tepat di bawah pot bunga. Dia pun membacanya.
Kepada Abimanyu Dewantara
Saat kamu melihat surat ini mungkin aku sudah pergi. Ada hal yang ingin aku sampaikan sebelumnya padamu tapi kamu selalu saja menghindariku.
Kamu tahu aku selalu bertanya-tanya apa kesalahanku? Kenapa kamu mendiamkan ku? Bukankah aku sudah bilang sebelumnya, bila aku ada salah tolong beri tahu. Setidaknya aku bisa memperbaikinya.
Bahkan saat kamu menolak menemuiku di kantor, aku masih menahannya. Menahan rasa sakit dan sesak yang ada di hatiku dikala melihat tatapan orang-orang di sana.
Bahkan disaat Fani bilang bahwa kamu hanya menikahiku karena balas dendam aku hanya diam dan menahannya. Aku pikir, ada baiknya aku meminta penjelasanmu terlebih dahulu.
Namun, apa yang kudapat bahkan, kamu sendiri mengakuinya. Hatiku bagaikan tertusuk ribuan jarum kamu tahu?
Belum lagi kamu tidak mengizinkanku pergi menjenguk ataupun menemani ayahku sampai ke peristirahatan terakhirnya. Kamu memperlakukan aku seperti burung di dalam sangkar yang kebebasannya dikekang.
Terimakasih karena sudah mengajariku apa artinya kesabaran dan apa itu rasa sakit. Kamu tahu ini pertama kalinya aku merasakan rasa sakit hati karena pria, karena kamu adalah pria pertama yang aku cintai dalam hidupku.
Semoga kamu senang, aku berdoa yang terbaik untukmu.
Avanthika.
__ADS_1
Setelah membaca itu Abi pun menangis dengan tubuhnya yang sudah luruh di lantai.
"Maafkan aku…. Tolong kembalilah padaku…." Isaknya.
*
*
*
Beberapa saat sebelum kedatangan Abi ke kediaman Sanjaya.
Thika pun melirik Nisha. "Kak, Nis, tolong bantu aku pergi jauh dari sini." Ucap Thika.
"Kau yakin?" Tanya Mahen kepada adiknya.
Thika menggaguk cepat. "Bantu aku pergi dari sini, bila perlu ke luar negeri. Aku takut dia menemukanku jika aku masih berada di Indonesia." Ucap Thika dengan suara yang sedikit bergetar.
Mahen pun tidak lantas mengiyakan permintaan adiknya. Bagaimana tidak? Bukankah adiknya baru beberapa bulan lalu kembali dari luar negeri dan sekarang pergi lagi. Bahkan dirinya sendiri belum puas berbicara dengan adiknya setelah kepulangannya.
Mahen dan Thika menoleh kearah Nisha. Mahen sedikit tidak setuju namun, melihat adiknya yang sedikit bersemangat dia mengizinkannya pergi.
"Baiklah, aku akan menyuruh orang mengemas pakaianmu dan memesan tiket pesawat. Jadi saat ini istirahatlah." Ucap Mahen, membiarkan adiknya sedikit istirahat di sofa panjang.
Sementara bangkit menyusul Nisha yang sudah keluar dari ruangan. "Nis!" Teriak Mahen dikala Nisha berjalan di lorong.
Nisha berbalik. " Ya? Ada apa kak?" Tanya Nisha.
"Kamu yakin ingin pergi dengan Thika? Bagaimana dengan kuliahmu? Bukannya ini sudah semester akhir?" Ucap Mahen yang memberikan perhatiannya kepada Nisha.
Nisha menggeleng cepat. "Tidak kak! Lagipula aku mendapat beasiswa disana. Baiklah aku akan pulang mengemas koperku. Dan ya, pastikan di bandara keberangkatan kami tidak dapat diketahui oleh Abimanyu." Ucap Nisha. Lalu berbalik ingin pergi.
Namun, tak lama tangan Mahen melingkar di perutnya. Memeluknya dari belakang, dengan dagunya yang ditaruh di atas bahu kanan Nisha. "Terimakasih, sudah selalu ada di sisiku." Ucap Mahen kepada Nisha.
Menghirup aroma tubuh Nisha seolah membuat dirinya sedikit bersemangat. Setelah menjalani beberapa hari yang begitu melelahkan.
__ADS_1
Nisha berbalik, lalu memeluk Mahen dengan erat. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang Mahen.
"Aku akan selalu ada kapanpun kakak membutuhkanku." Ucap Nisha.
Tak lama Nisha pun melepaskan pelukannya. Dengan berani menci*m pipi Mahen lalu berbalik pergi menuju parkiran. Sesekali berbalik melambaikan tangannya.
Sementara Mahen hanya mematung, karena mendapat serangan mendadak dari Nisha.
Satu jam kemudian, Thika, Mahen dan Nisha sudah berada di bandara. Tak lama lagi Nisha dan Thika akan berangkat. Mahen juga sudah menghubungi temannya yang bekerja di bandara agar keberangkatan adiknya tidak diketahui.
Nisha dan Thika pun check-in. Sementara Mahen membawakan koper yang dibawa Thika dan Nisha.
"Hati-hati, jaga dirimu baik-baik!" Ucap Mahen lalu memeluk adiknya.
Thika pun lalu masuk ke dalam pesawat. Sementara Nisha mengikutinya dari belakang. Tak lama tangannya ditarik oleh Mahen. "Jaga dirimu. Dan ambil ini." ucap Mahen memberikan amplop berwarna coklat yang didalamnya terdapat beberapa gepok uang.
Nisha pun terkejut "Kak ini tidak perlu." Ucapnya.
"Ambil saja hmmm." Ucap Mahen lalu mengecup pelan bibi* Nisha.
Lalu pergi meninggalkannya karena Abi pasti sudah menyadari ketidakhadiran Thika. Sementara Nisha hanya diam. Memegangi bibirnya. "Ciuman pertamaku." Gumamnya.
Tak lama kesadaran nya kembali, dengan cepat masuk ke dalam pesawat. Bukankah Mahen dan Nisha sudah impas sekarang?
*
*
*
Keesokan harinya, seseorang baru turun dari pesawat dengan tergesa-gesa berlari menuju mansion Abi.
Kemarahan jelas terpancar di wajahnya. Dengan cepat dia menyuruh supir untuk mengendarai mobilnya dengan cepat.
Bersambung…..
__ADS_1