Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Merasakan Sebuah Firasat Buruk


__ADS_3

Sementara Thika masih mematung di tempatnya berdiri. Menelisik kata demi kata yang dilontarkan oleh Fani.


Disatu sisi dia tidak akan percaya perkataan dari Fani karena dia masih percaya kepada suaminya.


Sisi lainnya dia juga tidak bisa menampik apa yang dikatakan Fani. Jelas sorot matanya tajam tanda bahwa dia serius ketika berbicara dengannya.


Jadi siapa yang sebenarnya menyembunyikan sesuatu darinya dan berbohong? Batin Thika bertanya-tanya.


*


Dua hari kemudian


Saat ini Thika merasakan sebuah firasat buruk. Entahlah mengapa dia menjadi sangat gelisah.


Dia pun turun ke dapur untuk mengambil sesuatu yang bisa dimakan. Bisa dibilang disaat seseorang sedang memikirkan banyak hal di otaknya maka seseorang tersebut akan memiliki nafsu makan yang tinggi.


Itu karena, saat sedang banyak pikiran, tubuh akan mengeluarkan hormon stres yang bernama kortisol. Ketika jumlah hormon ini meningkat, tubuh akan mengalami berbagai efek yang salah satunya adalah peningkatan nafsu makan dan rasa lapar.


Tiba-tiba dia mendengar suara suaminya dan seorang wanita yang sedang tertawa cekikikan di ruang tengah.


'Bukankah Abi sedang dinas keluar? Kenapa bisa berada di mansion pada saat ini?' batinnya bertanya.


Baru saja Thika akan melangkahkan kakinya ke ruang tengah, justru dia dikejutkan dengan pernyataan yang seketika membuat hatinya sakit.

__ADS_1


*


Di Ruang tengah


Fani dengan beraninya bergelayut manja di lengan Abi. Mengabaikan bawahan Abi yang saat ini sedang menjelaskan sesuatu. Jelas Abi sendiri tidak ingin dekat-dekat dengan Fani namun, dia terpaksa mengiyakannya. Karena orang dengan gangguan mental pada dasarnya tidak suka jika keinginannya ditolak. Dan itu yang saat ini dilakukan oleh Abi.


"Kak, kapan kamu akan menceraikan istrimu? Aku tidak sabar." Ucap Fani dikala bawahan Abi sudah undur diri.


"Sabar dan tunggu saja. Kenapa kamu tidak sabaran sekali." Ucap Abi dengan tatapan dinginnya.


Sementara Fani mencebik bibirnya kesal. "Kak, aku sama sekali tidak bisa menunggu. Aku juga butuh kepastian." Ucapnya menggebu-gebu.


Abi menghela nafasnya berat. Lalu menggenggam tangannya, seolah menyakinkan Fani. "Sabar ya, lagipula aku menikahinya karena balas dendam kepada ayahnya." Ucap Abi entengnya.


Sebelumnya Fani melihat Thika yang sedang menuju ruang tengah. Dengan cepat Fani bergelayut lalu bertanya kepada Abi seputar hubungan mereka. Menggiring opini agar pembicaraan mereka bisa didengar oleh Thika.


*


Sementara Thika hatinya hancur sehancur hancurnya. Bagaimana bisa suaminya berkata demikian kepada wanita lain. Apalagi Thika sudah percaya dan memberikan cinta tulusnya kepada Abi.


Sekarang terjawab sudah apa yang ingin dia tanyakan kepada suaminya. Jika bisa memutar waktu lebih baik dia tidak mendengar ucapan yang tadi diucapkan oleh suaminya atau menerima ungkapan cintanya.


"Apakah laki-laki semuanya sama? Hanya mengobral kata cinta? Dan bodohnya aku percaya kepada kata-kata manisnya." Isak Thika yang saat ini sudah berada di kamar yang dulu dia tempati.

__ADS_1


"Hiks…. Sebenarnya kenapa? Aku sama sekali tidak pernah jahat kepada orang lain. Tapi kenapa aku dihukum seperti ini? Disaat aku sudah mulai mencintainya bahkan memberikan sesuatu paling berharga milikku."


"Hiks…. Ibu kenapa hatiku rasanya sakit sekali? Apa ini yang dinamakan dikhianati? Hiks…. Ibu… aku ingin berada disampingmu, berkeluh kesah seperti kebanyakan seorang putri kepada ibunya."


Benar kata orang penyakit hati dan ambisi bukan pemberian Tuhan kepada manusia, cinta adalah hal yang buruk sekali sehingga tuhan tidak memberikan hal itu. Karena cinta terjadi dengan sendirinya.


Beberapa jam sudah Thika berada di kamar itu, bahkan matahari yang sedari tadi berada di atas langit menyinari bumi sudah turun ke ufuk barat. Matanya terlihat sembab karena sudah menangis dalam waktu yang lama.


Thika pun berniat mengambil baju di lemari, tapi atensinya teralihkan ketika melihat sebuah kotak berwarna hitam. Kotak yang selalu dibawanya kapanpun dan dimanapun.


Dibukanya kotak tersebut, memperlihatkan isinya yang berupa sebuah kalung perak dengan dua merpati yang saling kasmaran. Seketika kalung itu mengingatkannya pada seorang kakak baik yang menemani beberapa momen di masa kecilnya.


"Hiks…. Terkadang aku rindu masa kanak-kanak dimana tidak ada beban dan sakit hati yang aku tanggung." Ucap Thika lalu menatap kalung itu. "Kemana kamu kak? Bukankah kamu berkata 'bawalah kalung ini jika kamu membutuhkanku maka perlihatkan kalung ini dan aku akan membantumu hmmm.' Tapi apa? Bahkan kamu menghilang." Ucapnya sambil memperagakan logat kakak baik di masa lalunya.


Thika pun memakai kalung itu. "Aku harap kakak akan datang membantuku." Ucapnya sambil membelai kalung yang sudah melingkar di lehernya.


Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Halo? Ada apa Sa?" Tanya Thika kepada Sarah. Dengan menahan suaranya yang sehabis menangis.


📞 "Kamu dimana? Datanglah ke rumah sakit, ayahmu…. Tuan Sanjaya sudah meninggal." Ucap Sarah menahan suaranya yang bergetar.


Bersambung……

__ADS_1


__ADS_2