Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Aku Menyesal


__ADS_3

Masih di aula hotel.


Dengan cepat Thika berlari meninggalkan pesta yang masih berjalan karena kedatangan Abi. Dengan nafas yang terengah-engah dia menuju ruang istirahat dimana kedua putranya saat ini berada.


Ceklek!


Pintu ruangan itu dibuka dengan cepat olehnya. Dilihatnya Aska yang menatap layar ponselnya dan Agastya yang sudah ketiduran. Dengan langkah cepat Thika menggendong Agastya lalu menggandeng tangan mungil Aska.


"Mom? Ada apa?" Tanya Aska yang sedikit kewalahan karena sang mommy yang tiba-tiba menariknya dan berlari dari sana.


Dengan nafas tersengal-sengal Thika menjawabnya. "Maafkan mommy, kita harus pulang sekarang. Dan mommy tidak ingin membicarakan alasannya." Dia sendiri tahu pasti nanti Aska akan banyak bertanya.


"Baik mom!" Sahut Aska.


Thika pun sesekali bersembunyi dari kejaran Roy dan anak buahnya yang sedang berjaga. Karena dia sendiri tahu, bahwa Abi adalah seorang bos mafia yang pasti anak buahnya berjaga di mana-mana. Setelah dirasa aman dia pun kembali melanjutkan perjalanannya. Dia tidak ingin menggunakan kendaraan karena pasti akan diketahui dan diikuti. Maka dari itu dia memilih jalan kaki.


Merasa tidurnya terusik, Agastya pun bangun dari tidurnya. "Mommy…." Lirihnya.


Shutt!


"Diam nak." bisik Thika mengarahkan jari telunjuknya didepan bibirnya. Agastya pun mendengarkan perkataan sang mommy.


Tak lama setelah melewati Roy dan bawahannya, Thika dan kedua putranya akhirnya sampai dirumahnya. Lalu membawa kedua putranya ke dalam kamar.


"Cuci muka dan gosok gigi kalian setelah itu istirahat hmmm. Mommy ada sedikit urusan." Titah Thika kepada si kembar.


Thika pun menunggu sang kakak dan Nisha pulang dari kencannya.


Tanpa disadari Thika, Roy sebenarnya mengikutinya sampai ke rumahnya. Dia tahu bahwa sang nyonya pasti akan terus menghindar sehingga dia harus diam-diam mengikutinya.


"Akhirnya aku menemukan rumahnya. Apakah bos akan memberikanku hadiah bonus?" Gumam Roy dibalik pohon.


*


*

__ADS_1


*


Ranveer dan Abi pun berada di sebuah ruangan yang didominasi warna putih. Mempersilahkan Abi duduk di sebuah kursi yang sudah dipersiapkan.


"Tuan Ranveer, untuk kerjasamanya aku akan menyuruh sekretaris untuk mendiskusikannya dengan anda. Saat ini ada hal penting yang harus aku lakukan." Ucap Abi, yang ingin pergi.


Namun, lagi-lagi Ranveer menghentikannya.


"Jadi, Tuan Abimanyu apa hubungan anda dengan Avanthika sehingga anda memeluknya di depan umum tadi." Tanya Ranveer menyelidik.


Abi pun menatap tajam Ranveer. "Avanthika adalah istriku yang kabur dari rumah, tujuh tahun lalu." Ucapnya dengan suara rendah.


Ranveer jelas tercengang. "Bagaimana mungkin? Thika sendiri jelas mengatakan bahwa suaminya telah meninggal karena kecelakaan." Sahutnya yang tidak percaya.


Sementara Abi terkejut karena Thika mengatakan bahwa dirinya sudah meninggal. Apakah sebegitu marahnya Thika terhadap dirinya? Batinnya bertanya-tanya.


"Anda salah tuan, aku ada sedikit melakukan kesalahan sehingga membuatnya marah dan meninggalkanku tanpa pamit. Dan selama bertahun-tahun aku mencarinya ke seluruh negara." Ucap Abi menjelaskan.


"Dan sekarang aku sudah menemukannya jadi, aku tidak akan menyerah dan akan menyakinkannya kembali." Ucapnya lagi.


"Aku tahu itu. Maka dari itu aku akan menebusnya sekarang." Jawab Abi. Lalu pergi meninggalkan ruangan itu disaat Roy mengirimkan sebuah alamat rumah.


*


Dengan kecepatan tinggi Abi melajukan mobilnya menuju alamat yang dikirimkan Roy. Alamat itu mengarahkannya ke sebuah perumahan yang cukup elit.


Abi turun dari mobilnya, lalu masuk ke salah satu rumah, dimana istrinya berada. Dia pun memencet bel rumah tersebut.


Karena mengira yang datang adalah Kakaknya, Thika dengan cepat membuka pintu tanpa pikir dua kali.


"Kau?!" Thika kaget lalu segera menutup kembali pintunya.


"Apakah kamu tidak lelah bersembunyi dariku? Aku kesini hanya ingin bertemu dan berbicara denganmu." Ujar Abi dengan suara lemah lembut. Sambil menahan pintu yang akan ditutup.


Thika menjawabnya dengan ketus. "Tidak ada yang perlu aku dan anda diskusikan lagi tuan Abimanyu Dewantara."

__ADS_1


Abi sedikit maju ingin masuk ke dalam rumah tersebut. "Tolong maafkan aku, segala perbuatanku aku menyesal. Aku sangat kehilangan dirimu, pulanglah bersamaku. Mari kita mulai lembaran yang baru " ucapnya dengan sorot mata sendu.


Thika tersenyum sinis. "Pulang? Kerumah yang mana? Rumah dimana aku dikurung dan tidak dibolehkan keluar? Kita? Sejak kapan aku dan kamu disatukan menjadi kita? Bukankah selama ini aku dan kamu berjalan dijalan yang berbeda?" Ketusnya.


"Sayang, aku…."


Bugh!


Sebuah pukulan menghantam pipi kanannya. Dilihatnya Mahen yang berdiri melindungi adiknya. Dengan Nisha yang sudah memeluk Thika.


"Apa yang kamu lakukan lagi kemari?! Hah!" Sarkas Mahen.


"Aku hanya ingin bertemu dengannya." Ucap Abi. Lalu melirik Thika yang menangis di pelukan Nisha.


"Kamu sudah kehilangan hak itu dari lama. Aku tidak ingin kamu menemui atau mengganggu adikku lagi! Sebaiknya kamu keluar atau aku akan berbuat lebih kepadamu!" Ancam Mahen.


Tak ingin membuat keributan, Abi pun pergi dari rumah tersebut dengan perasaan yang campur aduk. Senang karena bisa menemui Thika dan kesal karena dihalangi bertemu istrinya oleh Mahen.


Setelah kepergian Abi. Mahen melihat keadaan adiknya yang masih sedikit gemetar.


"Maafkan kakak karena tidak datang tepat waktu." Ucapnya.


"Tidak masalah kak, aku hanya ingin istirahat sekarang." Ucapnya yang masih dalam pelukan Nisha.


Nisha memberi kode kepada Mahen agar membiarkan Thika istirahat. Nisha pun memapah Thika menuju kamarnya.


Bersambung……


...****************...


...Sangat sulit kita hidup sendiri tapi, kehilangan seseorang dan harus hidup dengan penderitaan itu lebih buruk lagi....


...~Me~...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2