
Ucapan Abi seketika berhenti tatkala melihat seseorang membuka pintu ruangannya.
"Dad!" Teriak Agastya disaat membuka pintu ruangan dengan Sherry yang berada di belakangnya.
"Hati-hati nak!" Ucap Abi. Yang melihat Agastya berlarian.
Dengan cepat Agastya menghambur ke pangkuan sang Daddy. "Dad! Aku bawa sedikit makanan dari kantin. Mari kita makan." Ucapnya
Abi mengangguk. "Sherry kamu sudah boleh pergi." Titah Abi. Segera Sherry pun undur diri.
Mereka bertiga makan makanan ringan tersebut dengan diselingi canda tawa. Namun, semua berubah disaat Roy datang. "Bos! Gawat! Ada sedikit masalah di markas!" Seru Roy tanpa mempedulikan orang yang berada di dalam ruangan.
Abi tampak tersenyum mendengarnya, lebih tepatnya senyum ingin menggeprek Roy. Bagaimana bisa dia berbicara perihal masalah di markas di depan anak-anaknya?
Abi sangat ingin jika kedua anaknya kelak mengikuti jejaknya di dunia bisnis tapi tidak dengan kehidupan gelap mafianya. Karena dia ingin kedua anaknya menjalani hari-harinya dengan tenang.
Mungkin Aska sama sekali tidak tertarik dalam dunia mafia, namun jangan lupakan Agastya yang sangat pandai bela diri. Abi takut jika suatu hari nanti Agastya akan tertarik mengikuti jejaknya di dunia gelap.
"Dad? Ada apa, kenapa bengong? Ayo kita ke markas yang dikatakan uncle Roy." Ucap Agastya.
Sementara Aska menelisik raut wajah Daddy yang menurutnya sedikit mencurigakan. Seperti ada hal yang sengaja ditutup-tutupi.
"Ah… itu, Daddy…."
Aska mematikan tabletnya lalu bangkit dari duduknya. "Ayo Agastya mungkin Daddy sibuk, lebih baik kita pulang saja. Jika mommy tau Daddy tidak menjaga kita maka…." Ucap Agastya memberi kode atau yang lebih tepatnya peringatan tak langsung kepada sang Daddy.
Abi menghela nafasnya berat, lalu bangkit dari duduknya. "Okay, ayo kita pergi." Ucap Abi melonggarkan dasinya. Jika Thika sampai tahu dia tidak menjaga anak-anak maka hukumannya tidak dapat dibayangkan olehnya.
Mereka turun menuju mobil yang sudah terparkir di depan perusahaan. Lalu masuk ke dalam mobil begitu sampai di bawah. Dengan Roy yang duduk di kursi kemudi dengan perasaan yang tidak karuan.
__ADS_1
Saat di dalam mobil Abi pun mewanti-wanti kedua putranya itu. "Aska, Agastya dengarkan Daddy, tempat yang akan kita kunjungi kali ini akan sedikit berbahaya. Daddy tidak bisa bilang lebih rinci lagi, karena kalian masih kecil dan tidak akan mengerti. Jadi kalian jangan berkeliaran tanpa izin Daddy." Ucapnya.
"Tenang dad, jika berbahaya ada aku yang akan melindungi Daddy dan Aska. Lagipula aku bukan anak kecil lagi." Ucapnya seakan tidak ingat umurnya saat ini.
*
*
Setelah menempuh perjalanan hampir 45 menit, mereka pun sampai di sebuah rumah yang mirip gudang besar, yang terletak di pinggiran kota dekat dengan hutan.
Abi pun turun dengan tangannya yang masing masih menggenggam tangan Aska dan Agastya.
"Kalian duduklah disini, jangan kemana-mana." Ucap Abi lalu meninggalkan kedua anaknya di sebuah ruangan. Lalu menuju ruangannya.
*
"Jadi, apakah Kusuma sudah ditangkap?" Tanya Abi kepada Joy bawahannya.
"Ck, disaat dia tidak bisa melunasi hutang-hutangnya dia malah Bun*h diri." Ucap Abi menggebrak mejanya.
Abi bangkit lalu berjalan keluar dari ruangan. "Lupakan, sekarang ambil semua aset yang masih dimiliki oleh Kusuma." Titah Abi.
Joy dan bawahannya pun mengangguk.
*
*
Sementara disaat Abi melewati ruang latihan dia melihat Agastya sedang bertarung pencak silat dengan salah satu bawahannya yang juga jago bahkan ahli bela diri pencak silat.
__ADS_1
Dan benar saja apa yang dia takutkan terjadi. Agastya adalah anak yang sangat lincah dan aktif, yang pasti dia pasti tertarik terhadap apa yang dilihat dan didengarnya sehingga mengabaikan ucapannya.
Sementara Aska hanya diam menyaksikan sang adik yang bertanding. Dan bawahannya yang lain malah ikut bersorak menyemangati kedua belah kubu.
Pukulan, tangkisan dan tendangan sudah diluncurkan oleh keduanya namun, sama sekali belum ada yang tumbang.
"Kenapa kamu keluar? Bukankah sudah Daddy katakan jangan pergi kemana-mana?" Ucapnya kepada Aska sedikit emosi.
Aska mengangkat bahunya. "Kamu tahu dad, bila menyangkut bela diri maka Agastya tidak akan tahan. Walau Aska sudah melarangnya." Sahutnya.
"Lagipula bukankah Daddy harus memberitahuku bahwa Daddy adalah ketua mafia?" Tanya Aska mendongak menatap sang Daddy.
Ingin Abi menjawabnya namun, dia keburu melihat Agastya yang sudah tergeletak. Dengan cepat dia berlari menuju area pertandingan. "Nak, apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Abi yang ingin mengangkat tubuh Agastya.
Agastya menggeleng lalu bangkit dengan senyum seringai yang sudah menghiasi wajahnya. "No dad, aku akan mengalahkannya. Jika aku tidak mengalahkannya maka jangan panggil aku Agastya." Ucapnya.
Abi hanya memegang kepalanya yang mau pusing, anaknya benar-benar keras kepala. Abi pun hanya memantaunya berharap Agastya tidak terluka.
Pertandingan pun mulai sengit dengan Agastya yang mengunci kaki lawannya sehingga membuat lawan nya tumbang. Namun, sang lawan belum juga menyerah dengan cepat memberikan Agastya pukulan, Untung saja Agastya menangkisnya tepat waktu.
Dan dalam waktu lima menit mereka pun sudah mengakhiri pertandingan dengan Agastya yang memenangkan pertandingan.
Abi dan Aska pun naik ke arena pertandingan, untuk menemui Agastya. "Are you okay?" Tanya Abi. Agastya hanya menggeleng pelan dengan nafas yang ngos-ngosan.
Sementara yang menjadi lawan Agastya mendekati Abi. "Bos, siapa anak ini. Dia sangat hebat dalam bertarung." Tanya laki-laki itu.
Abi bangkit lalu membawa Agastya ke dalam dekapannya, dengan Aska yang menggandeng tangan besar sang Daddy.
"Mulai sekarang ingat ini! Mereka berdua adalah anak-anakku! Jadi kalian harus menghormati mereka." Ucap Abi lalu berjalan keluar untuk pulang menuju mansionnya.
__ADS_1
Meninggalkan semua bawahannya yang berbisik-bisik di belakangnya. Antara kaget bosnya sudah memiliki anak dan kagum karena bakat yang dimiliki anak bosnya itu.
Bersambung…..