Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Kalau Aku Sampai Tau


__ADS_3

Sementara itu, di rumah sakit.


Seseorang masuk ke dalam ruangan yang sebelumnya sudah ada pasien yang mengalami serangan jantung. Dilihatnya pasien masih membuka matanya menatap langit-langit kamar.


"Permisi tuan, anda pasti sudah tahu mengenai saya. Ada hal yang perlu saya bicarakan dengan anda, ini mengenai Vira Anastasya." Ucapnya.


"Ka-kau? R-roy Prayoga? A-apa yang kau lakukan disini?" Ucapnya terbata-bata karena sedang memakai alat bantu pernapasan.


Dia mendekat lalu tersenyum. "Maaf sebelumnya, nama saya Roni Prayoga. Saya adalah orang yang dekat dengannya sebelum kematiannya. Saya ingin memberikan surat ini saat anda sudah baik namun, beberapa Minggu kedepan saya harus keluar negeri. Saya harap anda mendengarkan saya Jendral Sanjaya." Ucapnya.


Sedangkan Jendral Sanjaya hanya diam, lalu mengangguk membiarkan Roni mendekatinya. Suasana di ruangan itu terlihat sepi karena ruangan itu merupakan ruangan VIP. Selain itu, Mayor Agatha sedang pulang untuk membawa barang-barang yang diperlukan dan Mahen yang sedang mengurus administrasi, sehingga tidak ada penjagaan.


Roni lalu mengeluarkan kertas putih dari saku jas dokternya. "Anda baca sendiri atau saya bacakan?" Tanya Roni.


Jenderal Sanjaya hanya menunjuk ke arah Roni. Membiarkan dia untuk membaca surat itu. Roni yang mengerti kode itu, langsung membuka kertas tersebut.


"Kepada yang terhormat Jenderal Sanjaya.


Disaat anda menerima surat saya, mungkin saya sudah meninggalkan dunia ini. Maafkan saya, yang selama ini sudah salah paham terhadap anda.


Anda yang sudah merawat saya ketika ibu sudah meninggal. Mengadopsi saya memberikan saya kasih sayang yang melimpah walau saya hanya anak angkat. Memberikan saya arti keluarga yang sesungguhnya. Tapi, apa yang sudah saya torehkan kepada anda bahkan beribu bahkan berjuta kata maaf rasanya tidak akan cukup.


Maaf, karena saya terhasut omongan ayah saya yang bahkan karena dirinyalah ibu saya menderita hingga meninggal. Bahkan keluarga ayah saya, terutama ibu tiri dan adik tiri saya dengan teganya memperlakukan saya dengan buruk. Yang lebih parah Ayah kandung saya sendiri memperlakukan putrinya sendiri seperti alat pelunas hutang. Sehingga saya bisa bekerja dengan baj*ngan Dimas Dewantara.


Maaf, andai saja saat anda menjemput saya, saya mengikuti anda. Sehingga saya tidak terjerumus terlalu dalam. Setidaknya sekarang saya akan bebas, dan akan pasrah menerima hukuman yang akan diberikan oleh Tuhan kepada saya.


Sampaikan juga maaf saya kepada Mahen. Sekali lagi maafkan saya. Maaf, maaf, maaf.

__ADS_1


Vira Anastasya."


Roni pun sudah selesai membacakan surat yang ditinggalkan Vira. Sementara Jendral Sanjaya hanya menangis mendengar setiap kata yang ditulis oleh Vira.


Bagaimana tidak, ibunya Vira merupakan teman masa kecilnya. Menikah dengan laki-laki yang hanya membuatnya menderita, lebih memilih wanita lain daripada dirinya sehingga membuatnya depresi yang pada akhirnya meninggal.


Setelah meninggal, Ibu Vira memintanya mengadopsi Vira. Dengan senang hati dia mengadopsinya, membesarkannya dengan kasih sayang yang sama dengan putranya Mahen.


"Ma-maafkan aku Asih yang ti-dak bisa menjaga pu-putrimu. Ma-maafkan ba-pak Vira." Isak Jendral Sanjaya. Yang merasa gagal melindungi Vira dan mengingkari janjinya dengan mendiang Asih ibu dari Vira.


Jenderal Sanjaya tiba-tiba kesulitan bernapas, dengan cepat Roni memberikan pertolongan. "Tuan, harap tenangkan diri anda." Ucap Roni dikala menangani Jenderal Sanjaya.


Setelah beberapa saat, Jendral Sanjaya sudah kembali tenang. Bahkan sudah lelap dalam tidurnya setelah menangis. Roni pun keluar dari ruangan itu. Guna kembali bertugas.


"Semoga ini cepat selesai, aku sudah lelah." Gumam Roni.


*


*


*


Disaat dia akan membayar administrasi, tiba-tiba dia melihat bayangan Mahen yang sedang terburu-buru mengangkat telepon. Abi lalu mendekat, ingin menepuk pundak kakak iparnya dari belakang. Namun, dia urungkan karena Mahen yang terlihat seperti tergesa-gesa.


"Maaf sus, bisa minta tolong? Saya ada urusan di kantor tolong nanti jaga ayah saya di kamar 8 di lantai 4. Nanti akan ada seseorang yang datang menggantikan saya." Ucap Mahen kepada salah satu suster.


"Baik pak." Ucap suster tersebut.

__ADS_1


Lalu Mahen dengan cepat pergi meninggalkan rumah sakit dengan sedikit berlari. Sedangkan Abi, memilih menuju ruangan yang tadi dikatakan Mahen.


Tak berapa lama Abi pun tiba di ruangan tersebut. Ruangan yang di dalamnya terdapat sang mertua yang terbaring sakit.


Abi membuka pintu lalu masuk keruangan tersebut. Bisa dilihatnya Jenderal Sanjaya yang sedang terbaring lemah di brankar rumah sakit dengan alat bantu pernapasan yang melekat di wajahnya.


Dia mendekat hingga sampai di samping Jenderal Sanjaya. Merasa ada yang menjenguknya, Jenderal Sanjaya membuka matanya. Lalu melotot tajam dikala melihat siapa yang berada di sampingnya.


"Ka-kau, apa y-yang mau kau lakukan lagi hah?" Ucapnya terbata-bata.


Abi hanya tersenyum kikuk, tidak tahu mau memulai pembicaraan dari mana. "Anu Tuan, saya kesini karena sudah mengetahui mengenai Vira. Maaf sebelumnya karena menuduh anda dan tidak mendengarkan penjelasan anda." Ujar Abi yang merasa sedikit bersalah.


Jenderal Sanjaya menghela nafasnya. "Jika sudah tidak ada yang ingin kau katakan, keluarlah!" Usir Jendral Sanjaya.


"Maaf sebelumnya, kali ini mengenai putri anda sa-"


"Jika kau ingin berpisah dengan putriku, aku akan sangat senang. Setidaknya dia tidak akan menderita." Sela Jenderal Sanjaya, dengan nada ketus.


"Itu…. Saya tidak berniat berpisah putri anda. Karena saya sangat mencintainya dan ingin terus bersamanya." Ucap Abi dengan penuh keyakinan.


Jendral Sanjaya mengerutkan keningnya. Menatap netra Abi, seolah mencari kebohongan disana. Tapi sayang dia tidak menemukannya, hanya bisa melihat kesungguhan yang terpancar.


Jenderal Sanjaya menghela nafasnya. "Aku akan membiarkanmu bersama putriku. Asalkan kamu tulus mencintainya dan tidak akan menyakitinya. Kalau aku sampai tau kau menyakiti putriku maka aku sendiri yang akan datang membawanya pulang." Ucap Jenderal Sanjaya kepada Abi.


Abi meneguk ludahnya, takut karena perkataan Jenderal Sanjaya yang tidak main-main. "Baik, saya berjanji akan mencintai putri anda dan tidak akan pernah menyakitinya." Jawab Abi dengan penuh keyakinan.


Jenderal Sanjaya sedikit mengukir senyum. "Baiklah, sekarang keluarlah aku ingin istirahat." Ucapnya.

__ADS_1


"Baik." Jawab Abi. Lalu pergi keluar dari ruangan tersebut. Pergi menuju basement untuk pulang ke mansion miliknya.


Bersambung……


__ADS_2