
"Tunggu!" Ucap Abi.
Roy pun membalikkan badannya. "Ada apa bos?" Tanya Roy.
"Selidiki juga siapa dalang dari masalah yang dihadapi oleh Thika beberapa hari di kantor. Aku ingin tahu siapa dalangnya!" Ucap Abi dengan sorot matanya tajam.
Sebenarnya Roy sedikit terkejut tapi, dia tidak mau banyak bertanya lagi. Lalu ia mengiyakan permintaan bosnya dan pergi.
Setelah kepergian Roy, Abi pun berniat untuk merebahkan badannya namun, dia urungkan karena mendengar pintu yang dibuka.
Dilihatnya Thika masuk dengan membawa nampan yang diatasnya ada mangkuk berisi bubur ayam dan segelas air putih. Thika pun mendekat ke arah nakas, meletakkan bubur ayam yang masih panas itu di atas nakas.
"Ini buburnya makanlah selagi masih hangat." Ucap Thika tanpa menoleh. Lalu beranjak ingin pergi dari kamar.
Dan lagi pergelangan tangannya ditarik lagi oleh Abi. "Jangan pergi, temani aku makan hmm…" Ucap Abi dengan nada yang lebih lembut.
Thika seketika merinding, baginya yang sudah biasa mendengar Abi yang berkata ketus agak sedikit aneh mendengarnya berkata dengan nada lembut.
"Em-m baik, makanlah aku tidak akan pergi." Ucap Thika. Lalu duduk di ranjang sebelah Abi. Dia pun melepaskan pergelangan tangannya.
Abi pun memakan buburnya dengan lahap. "Darimana kamu belajar menggunakan pistol?" Tanya Abi disela-sela makannya.
Thika yang sedari tadi hanya menunduk, menoleh ke arah Abi. "Kakakku yang mengajarinya. Dia bilang kakak dan ayah tidak akan selalu ada untuk menjagaku. Jadi dia melatihku menggunakan pistol dan sedikit ilmu bela diri." Jawab Thika.
Abi sedikit mengukir senyum. "Jika sekarang kamu dipertemukan dengan Kakakmu dan ayahmu bagaimana?" Tanya Abi, lalu memakan buburnya lagi.
Thika tampak sedikit menunduk. Raut wajahnya mengisyaratkan bahwa dia sedikit takut dan juga sedih. "Aku masih takut, bagaimana jika kakak dan ayah marah padaku?" Lirih Thika yang masih menunduk.
__ADS_1
Melihat itu, Abi memegang telapak tangan Thika. Memberinya sedikit semangat. "Tidak apa-apa kamu bisa menemuinya disaat kamu sudah siap." Ucap Abi. Thika yang mendengarnya menjadi agak tenang.
Entah berbicara seperti ini dengan Abi membuatnya sedikit nyaman. Dia baru menyadari bahwa pria yang berada di depannya bisa diajak bicara. Walaupun topik yang dibicarakan tidak terlalu berat. Karena nyatanya orang yang memiliki sedikit masalah lebih suka jika ada orang yang mendengarnya lalu memberinya semangat dan sedikit solusi.
Seketika Thika pun kepikiran menanyakan suatu hal kepada Abi
"Anu… apakah aku boleh bertanya?" Tanya Thika hati-hati.
Abi yang masih menggenggam tangan Thika dengan tangan kirinya, mengangkat kepalanya mensejajarkan pandangannya dengan Thika. "Katakan saja hmm." Jawab Abi lembut.
"Aku mau bertanya, selama aku disini aku tidak pernah melihat orang tuamu. Dimana mereka?" Tanya Thika sedikit takut.
Abi menatap tajam Thika, lalu melonggarkan genggaman tangannya. Thika yang melihat itu sedikit ketar-ketir. "Ka-kalau kamu tidak mau cerita gak apa kok." Ucap Thika dengan senyum kikuk yang menghiasi wajahnya.
"Ah tidak, sebenarnya Mama dan Papa sudah tiada sejak umurku 10 tahun." Ujar Abi yang sedikit menceritakan tentang orang tuanya.
"Tidak apa-apa. Masih ada Pak Prayoga yang selalu mendampingiku dan menganggapku sebagai anaknya sendiri. Ada juga Roy dan Roni." Sela Abi.
Thika pun gantian menggenggam telapak tangan Abi. "Aku mengerti rasa sakit ditinggalkan oleh orang tua, karena aku juga kehilangan ibuku di umurku yang masih 12 tahun. Mungkin aku masih sedikit beruntung karena masih memiliki ayah dan kakak." Ujar Thika tersenyum.
"Bukankah kita sama? Pernah merasa kehilangan orang yang paling kita cintai?" Tanya Abi.
"Kamu benar." Jawab Thika. Lalu mereka sedikit tertawa karena memiliki kehidupan yang sedikit mirip.
Setelah itu, Thika pun membiarkan Abi beristirahat. Thika keluar membawa mangkuk kotor yang tadi digunakan Abi ke dapur.
Thika pun menuju kamar, karena hari yang sudah malam. Thika membersihkan dirinya, dan setelah itu memakai pakaian tidurnya. Thika pun menuju sofa panjang, karena Abi yang tidur diranjang. Tidak mungkin dia membiarkan orang yang sedang sakit tidur di sofa bukan.
__ADS_1
Tak lama Thika pun terlelap dalam tidurnya. Menyelami mimpi indahnya.
Abi yang sedari tadi tidak tidur, hanya memandangi Thika yang tidur di sofa. Ia melihat wajah Thika yang tidak nyaman saat tidur di sofa. Abi pun beranjak dari tidurnya menuju sofa, bisa dia dengar dengkuran halus pertanda bahwa Thika sudah terlelap dalam tidurnya. Lalu Abi mengangkat Thika ala bridal dan menidurkannya ke ranjang.
Ia pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Thika, memandangi wajahnya. Tangan besarnya terulur merapikan anak rambut yang mengganggu tidurnya lalu mengelus pelan pucuk kepala Thika. "Terima kasih." Lirih Abi. Lalu mengecup kening Thika.
Tak lama Abi pun terlelap dalam tidurnya.
*
Entahlah Abi merasa akhir-akhir ini jantungnya berdebar-debar setiap berduaan Thika. Kebersamaannya bersama Thika bahkan membuatnya sangat nyaman. Bahkan tanpa sadar ia memiliki keinginan untuk menciu* bibir indahnya. Sulit didefinisikan. Apakah saat ini Abi sudah jatuh cinta kepada Thika?
*
*
*
Disisi lain.
"Si*l! Apa tugas mudah ini kalian tidak becus huh?!" Teriak seorang pria yang usianya tidak muda lagi kepada bawahannya yang sedang tersulut emosinya. Bahkan saking emosinya pria itu sampai membuat meja kaca di depannya pecah tak berbentuk.
"Jika seperti ini terus kapan aku akan mendapatkannya?!" Teriaknya lagi.
Tak lama seorang wanita cantik datang mendekatinya. "Bukankah masih ada aku? Akan ku buat dia bertekuk lutut!" Ucap seorang wanita dengan percaya dirinya.
Bersambung….
__ADS_1