
Ratih pun sedikit berlari memasuki rumahnya, sementara Roni masih melihat kepergiannya yang semakin menjauh.
Tak terasa tangan kanannya sudah meraba dadanya. Dia merasa hatinya sedikit bergetar karena bisa menghabiskan waktu dengan Ratih walaupun hanya beberapa saat.
*
*
*
Pagi harinya, Roni pun sudah bersiap-siap dengan pakaian rapinya. Dengan tangan kirinya membawa jas putih dokternya. Karena pagi ini dia akan melakukan seminar. Lalu menuju restoran hotel untuk sarapan.
"Uncle Roni, mau kemana?" Tanya Agastya yang melihat penampilan Roni yang sangat rapi.
Roni berjalan lalu duduk tepat di samping Agastya. "Uncle ada sedikit pekerjaan." Sahutnya.
"Yahh…. Padahal Agastya mau main sama uncle hari ini." Ujar Agastya murung.
Roy pun mencubit pipi gembul Agastya karena gemas dengan tingkah lakunya. "Lain kali ya boy. Nanti setelah uncle selesai bekerja akan uncle belikan kamu hadiah." Ucap Roni menghibur Agastya, dengan senyum yang selalu merekah di wajahnya.
Aska menangkap satu gelagat aneh dari Roni. "Apakah uncle punya pacar disini? Penampilan uncle seperti orang yang akan berkencan." Ujar Aska.
Roni yang sedang meminum kopi pun menyemburkannya, karena terkejut akan perkataan Aska. Bagaimana Aska memiliki tingkat kepekaan yang tinggi? Pikirnya. Thika dan Abi pun tak kalah terkejutnya.
"Kakak punya pacar?"
"Kamu punya pacar Ron?"
Tanya Thika dan Abi berbarengan.
Roni jelas tidak bisa berkata-kata, pacaran saja dia belum. Walau saat ini masih masa pendekatan.
Dengan cepat Roni bangkit. "Sepertinya sudah waktunya aku pergi, hahaha. Sampai jumpa." Roni melambai lalu pergi dengan secepat kilat. Meninggalkan Thika dan Abi yang masih penasaran ditempatnya.
"Aku rasa, uncle memang sedang pacaran." Gumam Aska yang masih didengar oleh saudaranya Agastya.
"Bagaimana kakak bisa tahu?" Tanya Agastya yang kebingungan.
Aska mengangkat bahunya. "Bukannya sudah jelas? Uncle terlihat menghindari pertanyaan yang kita ajukan lalu cepat-cepat pergi? Dan lagi dari kemarin aku melihat uncle yang selalu senyam-senyum sendiri." Jelas Aska.
__ADS_1
Thika dan Abi saling pandang. "Aska sangat pintar dan peka." Bisik Thika yang mendekat ke arah suaminya.
"Tentu saja karena dia adalah putraku." Ucap Abi penuh percaya diri. Membuat Thika yang mendengarnya memutar bola matanya jengah.
*
*
*
Rumah sakit XXX, ruang dokter ibu dan anak.
Ratih tampak sedang duduk di ruangannya, dia tampak sibuk menulis suatu laporan medis milik pasiennya. Sampai dia mendengar pintu ruangannya dibuka dan memperlihatkan Dokter Dyah memasuki ruangannya.
"Ada apa Dok?" Tanya Ratih menatap kedatangan Dokter Dyah.
"Begini Ratih, hari ini ada seminar di aula belakang rumah sakit. Setiap departemen mengirim satu atau dua perwakilan. Sedangkan di departemen ibu dan anak tidak ada dokter yang bisa mewakili karena sibuk. Apa kamu bisa mewakili kami Ratih?" Tanya Dokter Dyah.
"Itu kalau kamu tidak sibuk." Lanjutnya lagi.
Ratih jelas terdiam, antara mau menolak atau mengiyakan. Itu karena jika dia menolaknya, dia akan merasa tidak enak hati karena Dokter Dyah merupakan seniornya.
Dokter Dyah tersenyum. "Terimakasih Ratih. By the way, seminarnya akan dimulai jam sepuluh." Ucapnya.
*
Di aula, Ratih pun bersama beberapa dokter mencari tempat duduk untuk mereka duduk. Sampai akhirnya mereka pun memutuskan untuk duduk di bangku deretan nomor dua.
"Hey, aku dengar narasumbernya adalah dokter lulusan luar negeri. Dan aku dengar dia sangat tampan." Ucap Dokter Sri THT.
"Benarkah? Aku rasa beliau pasti pintar karena lulusan luar negeri." Sahut Ratih.
"Dan lagi, dia masih single di usia 30-an." Ujar Dokter Ima menambahkan.
Ratih pun hanya mendengarkan bisik-bisik absurd rekan-rekannya, yang mengagumi ketampanan narasumbernya.
Tak lama seminar pun dimulai, pembawa acara pun mempersilahkan sang narasumber untuk naik ke podium.
Ratih pun membulatkan matanya dikala melihat sosok yang dia kenal sedang memperkenalkan dirinya di atas panggung.
__ADS_1
"Halo semuanya, perkenalkan nama saya Roni Prayoga. Yang akan menjadi narasumber pada seminar hari ini." Ujar Roni memperkenalkan diri.
*
Dua jam berlalu, seminar pun sudah dibubarkan karena sudah selesai. Roni pun turun dari podium lalu menghampiri wanita yang beberapa waktu ini mengusik pikiran dan hatinya.
"Dokter Ratih, bisa kita makan siang bersama?" Tanya Roni mendekati Ratih.
Ratih mengangguk, dilain sisi dia merasa sedikit malu karena para menjadi pembicaraan dari rekan-rekan dokter wanita yang ada di sana.
Roni pun mengajak Ratih menuju rumah makan yang berada di samping rumah sakit. Setelah mencari tempat duduk mereka pun memesan makanan.
Mereka tampak diam, Ratih merasa sangat canggung jika berduaan. Dan Roni yang tidak tau dari mana memulai topik pembicaraan.
"Aku tidak tahu anda adalah dokter yang terkenal." Ucap Ratih memulai pembicaraan.
"Ah tidak juga, mereka selalu memujiku berlebihan." Sahut Roni.
Mereka pun kembali diam saat makanan sudah disajikan di meja.
"Bisa aku mengatakan sesuatu?" Tanya Roni di sela-sela makannya.
"Hmm?" Jawab Ratih dengan deheman.
Roni menggenggam tangan Ratih dengan lembut. "Aku tahu pertemuan antara kita hanya berlangsung singkat dan kita belum saling mengenal dengan baik. Namun, semenjak aku bertemu denganmu, aku selalu merasa hari-hariku tampak berwarna. Setiap saat yang terlintas di benakku hanya dirimu yang sedang tersenyum. Dan akhirnya aku tahu, bahwa aku sudah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Aku tidak akan berkata terlalu banyak, Ratih maukah kamu menjadi kekasihku?" Tanya Roni.
Ratih terkejut mendengarnya. Pria yang baru dia kenal kurang lebih satu hari menyatakan perasaannya. "Emm…. I-itu, beri aku waktu." Pintanya.
Roni pun mengendurkan genggaman tangannya. Hatinya berdenyut tak karuan. Apakah ini rasanya kalah sebelum berperang? Batinnya bermonolog.
"Baik, aku akan menunggumu." Ucap Roni tersenyum, menutupi rasa sakit hatinya.
Bersambung……
...**********...
...Cinta sejati tidak hanya membutuhkan perasaan yang tak terlihat tapi juga itu membutuhkan kelakuan yang dapat dilihat mata....
...~Me~...
__ADS_1
...**********...