
"Jika seperti ini terus kapan aku akan mendapatkannya?!" Teriaknya lagi.
Tak lama seorang wanita cantik datang mendekatinya. "Bukankah masih ada aku? Akan ku buat Abimanyu bertekuk lutut!" Ucap seorang wanita dengan percaya dirinya.
Pria itu hanya tersenyum tipis, senyum yang terasa meremehkan. "Kau pikir kau bisa? Bahkan kakakmu saja tidak bisa melakukannya." Ucap pria itu.
Wanita itu mencebik kesal. "Jangan samakan aku dengan kakakku itu! Dia demi menyelamatkan seseorang rela membangkang dan terbun*h." Kesal wanita itu.
"Apakah mau tahu Abimanyu saat ini sudah menikah?" Ucap pria itu lagi.
Wanita itu tampak terkejut. "APA?!!" Teriak wanita itu.
Pria itu mengukir senyum. "Bagaimana kau masih mau membuatnya bertekuk lutut hmm?" Tanya pria itu.
Wanita itu mengepalkan tangannya. Lalu beranjak keluar meninggalkan pria itu sendirian. "Dengar pak tua, Aku adalah Fani akan ku pastikan Abimanyu hanya akan menjadi milikku!" Ucap wanita yang bernama Fani dengan percaya diri.
Pria tua itu pun menyalakan sebatang rokok. Lalu menghembuskan asapnya. "Heh dua saudari itu memiliki temperamen yang sangat berbeda. Aku sedikit tidak tenang membawanya dalam masalah ini, karena dia sangat gegabah. Tapi demi kelancaran misi ku, tidak masalah bagiku mengadu domba dua orang saudari." Gumam pria tua itu.
*
*
*
Pagi menyingsing, sang Surya sudah menampakkan dirinya dari ufuk timur. Di sebuah kamar terlihat Abi dan Thika yang masih tertidur pulas.
Tak lama Thika pun membuka sedikit matanya karena terkena silaunya sinar matahari. "Ugh!" Leguhnya. Sambil mengucek pelan matanya yang masih sedikit terpejam.
__ADS_1
Kesadarannya pun sudah terkumpul. Seketika dia sedikit terkejut karena Abi yang tertidur di sampingnya, saling berhadapan. Bahkan tangan kiri laki-laki itu berada di pinggangnya memeluknya dengan erat. Dan tangan kanannya dijadikan bantal, untuk Thika tidur. Ingin sekali dia teriak sekencang-kencangnya namun, dia urungkan karena mengingat Abi yang masih tertidur.
Dengan hati-hati Thika melepas pelukan Abi dari pinggangnya agar tidak membangunkannya. "Ughh berat." gumam Thika lirih yang masih berusaha melepaskan tangan Abi yang melingkar di pinggangnya.
"Ada apa hmm? Tidurlah lagi bukankah hari ini hari Sabtu?" Tanya Abi yang sudah bangun dari tidurnya.
Thika terkejut. Karena Abi yang sudah bangun dari tidurnya.
"Ah… iya aku harus bangun lalu membuat sarapan." Ucap Thika beralasan. Ia sedikit risih karena dekat dengan Abi.
Dan yang menjadi pertanyaannya saat ini, kenapa dia bisa tidur di ranjang bukankah kemarin dia tidur di sofa panjang? Apakah dia sekarang mempunyai kebiasaan tidur sambil berjalan? Pikir Thika. Ah memikirkan semua itu membuatnya agak sedikit pusing.
Melihat wajah Thika yang sedikit memerah karena malu, membuat Abi jadi ingin sedikit menggodanya. "Bagaimana rasanya tidur denganku hmm? Enak bukan?" Goda Abi.
Thika yang digoda jelas tidak terima. "Apa maksudmu, aku tidak tahu bagaimana aku bisa ada disini. Kemarin bukannya aku tidur disofa?" Ucap Thika yang memang tidak mengetahui siapa yang membawanya ke ranjang.
Thika pun terdiam, ia mengingat-ingat perjanjian yang dibuat sebelumnya. Bukankah artinya sekarang dia sudah melanggarnya? Pikirnya.
"Aku…aku…. Aku tidak melanggar perjanjian karena aku tidak tahu kenapa aku bisa ada disini!" Sentak Thika.
Abi tersenyum tipis. "Sadar atau tidak kau sudah melanggar perjanjian. Atau kamu mempunyai penyakit berjalan saat tidur?" Lagi-lagi Abi menggoda Thika.
"Kamu…!!!" Geram Thika. Tak ingin berdebat Thika segera beranjak dari ranjang lalu masuk ke kamar mandi.
Sementara Abi sudah tertawa terbahak-bahak di atas ranjang. Dia sangat suka melihat ekspresi Thika yang sedang marah.
*
__ADS_1
*
Saat ini Thika sudah berada di dapur, membantu Bi Sri memasak seperti setiap hari dia lakukan. Hari ini Thika sedang belajar cara membuat masakan ayam lada hitam, makanan kesukaan Abi.
Dengan teliti Thika memperhatikan Bi Sri yang dengan santainya memasak karena sudah terbiasa.
Tak beberapa lama masakan sudah siap, lalu ia menyajikan makanan di atas meja makan. Dari arah tangga tampak Abi yang sudah turun menuju meja makan.
Melihat Abi mendekat bahkan tersenyum tanpa dosa, membuat Thika sedikit mencebikkan bibirnya. Karena masih kesal digoda oleh Abi.
Sementara Abi yang melihat thika mengulas senyum, karena merasa Thika sangat imut.
Abi dan Thika pun duduk untuk menyantap makanan mereka. Thika hanya mengambil makanannya sendiri dan mengabaikan Abi. "Hei bisakah kamu mengambilkan makanan untukku?" Tanya Abi dengan ekspresi memelas sambil menyodorkan piringnya.
"Bukankah kamu punya tangan? Ambil saja sendiri!" Ketus Thika.
"Sudahlah maafkan aku yang tadi pagi menggodamu ya. Kamu ingat kata-kata Roni, jangan membantah perkataan suamimu." Ucap Abi.
Bi Sri dan Pak Man yang masih berada di dapur seketika terkejut. Karena melihat sang majikan yang untuk pertama kalinya meminta maaf. Bi Sri dan Pak Man saling melempar pandang. "Ada sedikit kemajuan ya?" Ucap pak man dan Bi Sri bersamaan melalui sambungan telepati. (😅)
Thika yang mendengarnya permintaan maaf Abi sedikit luluh. Dia pun mengambil piring Abi meletakkan nasi beserta lauknya. "Terimakasih." Ucap Abi. Thika pun hanya mengangguk.
Disaat mereka sedang fokus menyantap makanannya, ponsel Thika berdering pertanda seseorang menelponnya. Thika pun sedikit menjauh untuk mengangkat ponselnya.
"Halo?" Ucap Thika dikala telepon sudah tersambung.
📞 "Halo?"
__ADS_1
Bersambung….