Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Berita Duka


__ADS_3

Didalam dirinya masih ada rasa kesal, marah, jengkel, benci ahhh semuanya bercampur menjadi satu. Satu hal yang pasti saat ini Thika harus segera bersiap lalu menemui ayahnya apapun yang terjadi.


Setelah mandi, Thika menatap dirinya di depan cermin meja rias. Wajahnya pucat dengan mata sembab karena sehabis mandi.


'Kuatkan dirimu! Kamu harus kuat! Karena pada akhirnya hanya diri sendiri yang dapat aku andalkan.' Ucapnya menyemangati dirinya.


*


Lalu dia pun turun ke ruang makan. Bisa dia lihat Abi, Roy dan beberapa bawahan sedang berdiskusi sampai akhirnya selesai setelah kedatangannya.


Thika menarik kursi untuk duduk, dia akui perutnya saat ini sangat keroncongan karena semalam dia tidak makan sama sekali.


Tak lama ponselnya berdering. Dilihatnya nomor tidak dikenal yang meneleponnya. Dia pun sedikit ragu untuk mengangkatnya. Namun, panggilan itu berulang kali berbunyi. Dengan cepat Thika pun mengangkat teleponnya.


"Halo….?" Tanyanya.


📞 "Thika…. Kakak gak punya banyak waktu. Tolong datanglah ke pemakaman, ayah…. Ayah sudah meninggal." Ucap Mahen di seberang sana dengan suara yang sedikit bergetar.


Mahen menghubungi Thika melalui telepon kantor, karena sebelumnya panggilan darinya pasti tidak akan masuk. Itu karena Abi yang sudah memblokir akses keluarga Sanjaya.


Seketika ponselnya sudah jatuh ke lantai dan pecah. Sementara Thika terjatuh ke lantai, tergolek lemah ketika mendengar berita itu. Tubuhnya bergetar mata indahnya sudah mengeluarkan air mata yang berjatuhan di lantai.


"Maaf ayah…. Hikss…. Maafkan Thika." Isaknya menangis tersedu-sedu.


Bagaimana dia bisa menjadi anak durhaka, bahkan disaat terakhir ayahnya dia tidak menemaninya di sampingnya. Bahkan dia sendiri tidak tahu apa permintaan terakhir ayahnya. Sebagai seorang anak jelas dia ingin mendengar permintaan terakhir ayahnya dan dengan segenap tenaga akan memenuhinya.


Sementara Abi yang melihat Thika seperti itu, dengan cepat mendekat lalu mensejajarkan dirinya.


"Ada apa?" Tanya Abi.

__ADS_1


Sementara Thika tidak menjawab karena masih terisak dalam tangisnya. Namun, tak lama dengan cepat dia mendongak menatap Abi dengan sorot mata sendu.


"Tolong…. Hiks…. Biarkan aku pergi menemui ayah…. Tolong…. Sekali ini saja aku meminta padamu…. Please…." Isak Thika sambil bersimpuh menangkupkan tangannya di depan dadanya.


"Tolong…. Sekali in…." Lirihnya.


Lalu tak lama Thika pun terjatuh tak sadarkan diri. Dengan cepat Abi membopong tubuh Thika membawanya ke kamarnya. Serta menyuruh Roy memanggil dokter.


*


Tak lama, dokter pun datang. "Dokter tolong cek istri saya!" Ucapnya ketika dokter memasuki kamar.


Dokter pun mengecek keadaan Thika dengan serius.


"Sepertinya nona, sedikit kelelahan dan juga stress yang berlebihan. Selain itu nona juga mengalami dehidrasi dan saya rasa nona juga belum makan dari kemarin sehingga membuat badannya lemas." Ucap dokter itu.


Sementara Abi, yang mendengar perkataan dokter hanya mengangguk mengerti. Di dalam hati dia menyalahkan dirinya sendiri karena membuat Thika menjadi seperti ini.


Setelah itu, dokter pun pamit undur diri.


Sementara Abi duduk di sisi ranjang menatap Thika yang tergolek lemas. "Apa yang kamu pikirkan hmmm? Maaf sudah membuatmu menjadi seperti ini." Gumam Abi. Tangannya bahkan mengelus pelan surai kehitaman istrinya.


Roy pun datang kembali setelah pergi mengantar dokter. "Roy, kita percepat rencana. Atur agar anak buah kita menangkap Fani saat ini juga kedua orangtuanya!" Titah Abi. Dengan kobaran api yang terpancar di matanya.


"Dan satu hal Roy, tolong cari tahu dimana Thika tinggal sebelumnya dan periksa kalung ini juga." Ucap Abi mengambil kalung yang melingkar di leher Thika.


Roy terkejut. "Ini…."


Abi mengerti apa yang dimaksud Roy. "Aku rasa disini ada sesuatu yang disembunyikan selama bertahun-tahun. Dan masih berhubungan dengan Vira." Ucap Abi dengan yakin.

__ADS_1


Abi pun bangkit lalu pergi dari kamar setelah mengecup lembut kening Thika. Dia pun menginstruksikan agar para pelayan menjaga Thika yang masih belum sadarkan diri.


*


*


*


Di pemakaman.


Setelah acara pemakaman militer, Thika sama sekali tidak menampakkan dirinya. Membuat Mahen, Mayor Agatha, Nisha dan Sarah menjadi sedikit bingung. Mereka jelas tidak bisa menunda pemakaman dengan alasan Thika yang belum datang.


Karena jabatan Jenderal Sanjaya, selama upacara pemakaman kenegaraan, pemakaman militer wajib dilakukan, didahului dengan upacara keagamaan terakhir sebelum perjalanan pemakaman dimulai. Salut tiga voli adalah norma yang dilakukan oleh pasukan tujuh tentara yang kadang-kadang campuran personel Angkatan Bersenjata atau Polisi yang bergantung pada karier mereka.


Setelah semua upacara selesai mereka semua pun berkumpul berdoa di hadapan makam. Memanjatkan doa tulus guna mengantar kepergian Tan Sanjaya.


"Kak, Thika belum juga datang. Aku khawatir." Ucap Nisha yang khawatir dengan keadaan sahabatnya.


Bisa saja dia sedang menangis atau terpuruk karena kehilangan orang yang sangat berharga baginya.


"Setelah semua selesai kita akan datang ke mansionnya. Aku merasa dia tidak baik-baik saja." Ucap Mahen.


Sementara Nisha sendiri tahu, laki-laki disampingnya itu juga tidak baik-baik saja karena kehilangan orang yang sangat dia sayangi. Apalagi itu adalah orang tua pasti sangat menyakitkan.


Nisha pun menautkan jarinya dengan jari Mahen berharap dapat menyalurkan sedikit semangat kepada laki-laki itu.


"Semua akan baik-baik saja." Ucap Nisha.


Mahen pun mengeratkan tangannya menggenggam tangan Nisha.

__ADS_1


Bersambung…..


__ADS_2