
Di kediaman Sanjaya, tampak di dalam rumah sedikit ada keributan. Itu karena kesehatan Jenderal Sanjaya yang menurun.
Tak lama mobil yang dikendarai oleh Mahen memasuki halaman rumah. Dia pun turun diikuti oleh Nisha yang berada di belakangnya. Mereka pun memasuki rumah.
Mayor Agatha yang melihat kedatangan Mahen, langsung memberitahu kondisi kesehatan ayahnya. Mendengar itu, Mahen berlari dan langsung menuju kamar ayahnya. Dibukanya pintu kamar Ayahnya, disana terlihat ayahnya sudah dipasang alat bantu pernapasan, disampingnya juga ada dokter yang memantau.
Mahen pun mendekat. "Bagaimana kondisi ayah saya dok?" Tanya Mahen.
"Yah, bisa dilihat sedikit memburuk. Saya sarankan agar beliau istirahat yang cukup. Jangan biarkan beliau mendengar sesuatu yang bisa membuatnya tertekan." Jawab dokter tersebut. "Kalau begitu saya pamit dulu, telepon saya kalau terjadi sesuatu." Ucap dokter itu sambil membereskan alat-alat medis nya.
Dokter pun keluar dari ruangan itu, meninggalkan Mahen berdua dengan Ayahnya. Jenderal Sanjaya terbangun karena Mahen yang menggenggam tangannya.
"Ah… Ma-mehen kamu su-sudah pulang." Ucap Jenderal Sanjaya terbata-bata
"Iya yah. Ayah jangan banyak bicara dulu ya, istirahat yang banyak." Ucap Mahen.
"Ba-bagaimana keadaan Thika? A-ayah harap dia baik-baik saja." Ucap Jenderal Sanjaya yang sedikit kesulitan berbicara.
Mahen sedikit ragu-ragu menjawabnya. Karena anjuran yang tadi diberitahu oleh dokter. "Kapten Mahendra Sanjaya, katakan yang sebenarnya!" Titah Jenderal Sanjaya tiba-tiba. Membuat Mahen terkejut, pasalnya jika sang ayah sudah memanggil nama lengkapnya berarti beliau sedang ingin serius.
Mahen menarik nafasnya. "Mahen hanya bertemu sebentar dengannya. Aku rasa Thika baik-baik saja." Ucap Mahen.
Jenderal Sanjaya mendesah pelan. "Syukurlah dia baik-baik saja. Aku serahkan keselamatan Thika kepadamu. Karena aku mungkin tidak akan lama…"
"Jangan bilang begitu ayah. Ayah harus panjang umur." Sela Mahen. Air mata yang sedari tadi ia tahan tiba-tiba luruh begitu saja mendengar kata-kata ayahnya.
Bagi seorang anak kehilangan orang tua adalah kesedihan terbesar. Bagaimana tidak, karena berkat orang tua lah seorang anak dapat melihat dunia. Orang tua yang memberi kasih sayangnya yang tulus. Selalu mendukung disaat dunia tidak mendukungnya, karena cinta orang tua terhadap anak-anaknya tidak akan pernah berkurang.
__ADS_1
Karena efek obat bius, Jenderal Sanjaya pun tertidur. Namun, Mahen masih menangis di samping ayahnya. Tiba-tiba tangan seseorang terulur menepuk pelan bahunya. Mahen pun berbalik, bisa dilihat Nisha yang berada di belakangnya.
Nisha pun mensejajarkan tubuhnya agar menyamai Mahen yang duduk di lantai. Nisha pun memeluk Mahen, memberikan sedikit dukungan lewat pelukannya. "Kak Mahen harus kuat, jika seperti ini terus Om Sanjaya akan sedih." Hibur Nisha.
Mahen mengeratkan pelukannya meluapkan tangisannya di bahu Nisha.
*
*
*
Ahh di hari Minggu yang cerah, terlihat sepasang kekasih ah bukan sepasang pasutri yang masih belum mengakui perasaannya sedang saling merengkuh tubuh masing-masing.
Keduanya saling membagi kehangatan antara satu dengan lainnya.
Disaat sinar matahari sudah menyeruak di sela-sela gorden kamar, Thika bangun dengan matanya yang masih berat, seakan masih mau melanjutkan tidurnya. Namun, apa daya dia masih harus mengerjakan beberapa pekerjaan rumah.
Thika pun berbalik, dilihatnya wajah suaminya yang terkena sinar matahari pagi. Tampan hanya itu yang dapat Thika katakan ketika melihat wajah suaminya itu. Namun, dia sadar bahwa dia sendiri hanya berstatus sebagai istri kontrak jadi Thika tidak banyak berharap dalam hubungan ini.
Tangannya terulur merapikan rambut Abi yang sedari tadi mengganggu tidurnya. Setelah itu, dia pun menuju kamar mandi.
*
Seperti biasa Thika di lagi hari selalu membantu Bi Sri memasak didapur. Setelah itu membantunya menyajikan makanan diatas meja makan.
Tak lama keributan terdengar di depan pintu masuk. Thika yang penasaran langsung menuju ke depan pintu masuk.
__ADS_1
Dilihatnya seorang wanita asing datang dengan pakaian yang minim, bahkan memperlihatkan bagian dadanya dan paha mulusnya yang terpampang nyata. Tatapan matanya angkuh tatkala menatap semua orang tak terkecuali juga Thika.
Thika pun mendekat guna meredakan keributan yang ada. "Maaf ini ada apa ya?" Tanya Thika menatap Pak Man dan wanita itu bergantian.
"Maaf nyonya, nona Fani memaksa ingin masuk. Tapi tuan tidak suka kedatangan tamu tidak diundang." Ujar Pak Man yang sekilas menyindir wanita yang dipanggil Fani.
Thika pun mengangguk. Lalu mendekati wanita yang bernama Fani. "Maaf mbak, ada urusan apa ya?" Tanya Thika sopan.
Wanita itu jelas mengernyitkan alisnya. Setua itukah dia dimata gadis ingusan di depannya? Batinnya menggerutu.
"Saya mau cari Abimanyu!" Ketusnya lalu melenggang masuk menuju ke dalam mansion tanpa izin.
Thika menyuruh Pak Man pergi mengerjakan pekerjaan yang lain karena dia sendiri yang akan menghadapi wanita ini.
Tanpa diizinkan Fani duduk dengan santainya di sofa ruang tamu. Thika hanya bengong melihatnya. Dia berpikir ternyata masih ada orang yang tidak sopan juga.
Thika pun mendekatinya. "Mbak mau minum apa? Biar aku ambilkan." Ucap Thika dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Tidak! Tapi, kamu pembantu baru disini ya?" Ucap Fani lalu bertanya dengan arogannya.
Senyum yang sedari tadi terukir di wajah cantik Thika tiba-tiba hilang, berganti dengan senyum kecut. "Maaf? Saya bukan pembantu disini." Ucap Thika dengan penuh penekanan.
"Oh aku kira pembantu karena melihat penampilanmu yang buluk." Ucap Fani tersenyum sinis melihat Thika.
Thika menahan emosinya, karena tidak ingin membuat kegaduhan di pagi hari. Jika saja ini di luar bisa dipastikan Thika akan membalas setiap perkataan yang dikatakan Fani.
"Aku…"
__ADS_1
"Dia bukan pembantu, dia istriku!"
Bersambung….