
Indonesia.
Mansion Abimanyu Dewantara.
Tampak Abi sedang berada di ruang kerjanya, menandatangani beberapa dokumen yang harus diselesaikan sebelum keberangkatannya ke Kanada.
Dengan gerakan cepat dokumen demi dokumen dibaca lalu dibubuhi tanda tangan mahalnya.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu diketuk membuyarkan konsentrasi sang CEO Dewantara Enterprise.
"Masuk!" Titah Abi.
"Maaf, bos. Saya sudah mempersiapkan berkas yang akan dibutuhkan untuk kerjasama ke Kanada. Selain SI Company apakah kita juga akan bekerja sama dengan ASTA Corp?" Tanya Roy.
Abi mengernyitkan alisnya. "ASTA Corp? Aku baru dengar perusahaan ini." Ucapnya yang tidak tahu menahu tentang perusahaan ini.
"Kamu tidak tau bos? ASTA Corp merupakan perusahaan properti dan juga ekspor impor yang besar dan terkenal di Kanada. Banyak perusahaan yang berlomba-lomba untuk bekerja sama dengan perusahaan itu. Namun, mereka hanya akan bekerjasama dengan perusahaan yang benar-benar memenuhi standar mereka." Ucap Roy, menjelaskan kepada sang bos.
"Jika kamu bilang begitu, siapkan saja dokumen kerja samanya lalu ajukan permintaan kerja sama." Ujarnya.
Roy pun berbalik hendak pergi, namun tertahan karena Abi yang memanggilnya lagi.
"Tunggu Roy! Bilang kepada Pak Man agar menyiapkan baju dan barang-barangku yang akan dibawa ke Kanada. Suruh Pak Man membawa baju lebih karena kita akan berada disana selama dua Minggu." Ucapnya lagi.
Roy mengangguk lalu undur diri. Meninggalkan sang bos yang masih sibuk membubuhkan tanda tangan. Menghilangkan rasa stress yang melanda dirinya.
Selama tujuh tahun, Abi tetap saja mengalami insomnia, walau tidak parah seperti dulu. Namun, rasa sedihnya ditinggal Thika lebih mendominasinya. Sehingga terkadang dia merasa stress. Untung saja Roni berada di sisinya sehingga bisa mengurangi rasa stress yang dialaminya.
*
__ADS_1
*
*
Kanada. Beberapa hari kemudian.
Perusahaan dimana Thika bekerja sedang bekerja sangat ekstra karena acara ulang tahun perusahaan yang tinggal menghitung jam, yaitu besok.
Karena posisinya sebagai kepala bagian keuangan membuatnya ikut lembur untuk meninjau dan menyukseskan ulang tahun perusahaan. Dan bahkan dia juga harus menyesuaikan berkas untuk kerja sama.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Ranveer yang melihat Thika masih lembur, ingin memberikan Thika tumpangan.
"Sudah waktunya pulang, kemasi barangmu. Aku akan mengantarmu pulang." Ucapnya, seakan tidak boleh dibantah.
Tanpa berkata lagi, Thika pun mengikuti Ranveer yang akan mengajaknya pulang.
Di dalam mobil, Ranveer pun menatap Thika yang sedari tadi tatapannya hanya menatap kaca jendela samping. "Bagaimana tentang tawaranku sebelumnya?" Tanyanya.
Ranveer memegang tangan Thika dengan tangan kanannya. "No Problem, aku akan tetap menunggu." Ucapnya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Thika sama sekali tidak merasakan apa-apa. Perasaan seperti berdebar-debar atau gugup seperti dirinya masih bersama Abi.
Beberapa menit pun mereka sudah berada di depan rumah Thika. Namun, deheman seseorang jelas membuat mereka terperanjat kaget.
"Ekhem! Kenapa kamu baru pulang jam segini?" Tanya seorang yang tak lain adalah kakaknya Mahen.
"Ah kakak kapan datang? Maaf kak aku ada pekerjaan lembur. Ah! Perkenalkan dia adalah bosku Ranveer." Sahut Thika lalu mengenalkan bosnya.
Ranveer pun mengulurkan tangannya. "Perkenalkan nama saya Ranveer Sharma atasan Thika." Ucapnya.
Mahen pun membalas jabatan tangan Ranveer. "Mahendra Sanjaya, kakak Thika." Sahutnya.
__ADS_1
Setelah bincang-bincang santai, Ranveer pun undur diri karena hari sudah malam.
*
Di dalam rumah, Thika pun bertanya kepada Mahen. "Kak, kapan datang kenapa tidak memberitahuku?"
"Kebetulan kakak sedang cuti jadi menyempatkan datang kemari. Ah kakak akan disini selama lima hari." Sahut Mahen.
"Dimana Nisha? Aku hanya bertemu bibi pengasuh saja tadi." Ucapnya mencari keberadaan Nisha.
Thika pun mempunyai ide jahil. "Kak dia adalah dokter jadi bekerja sampai malam. Kak, kapan kakak meresmikan hubungan kakak dengan Nisha? Dia adalah dokter pintar dan berbakat ada banyak orang yang pasti menyukainya." Ucapnya memanasi kakaknya.
Mahen jelas terdiam. Perkataan adiknya itu jelas menusuk hatinya sampai yang paling dalam. Disatu sisi dia memang menyukai dan tertarik dengan Nisha namun, ada banyak pertimbangan ketika dia ingin memiliki Nisha.
Namun, dia juga tidak rela Nisha menjadi milik orang lain selain dirinya.
"Jangan ngurusin urusan orang lain." Ucap Mahen lalu menyentil kening adiknya.
Lalu berlalu menuju salah satu kamar tamu yang berada di sana. Ya jumlah kamar yang ada di rumah Thika ada empat kamar tidur.
Sementara Thika menuju kamar kedua putranya. Melihat apakah kedua putranya itu sudah tidur apa belum. Tampak ada rasa bahagia ketika dia melihat kedua putranya yang tidur dengan damainya.
Lalu dia beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri lalu tidur.
*
Keesokan harinya, Thika sudah berkutat di dapur membuat makanan untuk anak-anaknya. Karena hari ini dia akan datang ke kantor agak siang sehingga dia memiliki waktu senggang.
Deru suara mesin mobil terdengar di depan rumah Thika. Mahen yang berada di ruang tamu dengan cepat beranjak membuka pintu. Setelah itu rahangnya seketika mengeras, tangannya terkepal.
Sementara Thika berpikir apa yang sedang terjadi dengan kakaknya itu?.
__ADS_1
Bersambung…….