
Keesokan harinya, seorang laki-laki turun dari pesawat dengan tergesa-gesa berlari untuk menuju mansion Abi.
Kemarahan jelas terpancar di wajahnya. Dengan cepat dia menyuruh supir untuk mengendarai mobilnya dengan cepat.
"Pak jalankan mobilnya dengan cepat!" Titahnya.
30 menit kemudian dia pun sampai di mansion Abi. Lalu dengan cepat menuju ke dalam, dengan lantangnya memanggil Abi agar turun menemuinya di bawah.
"Abi!!! Keluar kamu!" Teriaknya.
Dia pun memanggil Abi beberapa kali sambil berteriak. Bahkan suaranya sudah menggema di sana, para pelayan pun sudah berdatangan karena mendengar suara teriakan.
Tak ada seorangpun yang berani memperingatinya, karena mereka tahu orang itu jelas sangat dekat dengan tuannya.
Abi pun keluar dari kamarnya disaat mendengar keributan di lantai bawah. Penampilannya bahkan sangat jauh dari penampilan sehari-hari. Baju kaos dengan celana panjang, wajah tampannya tergantikan dengan wajah sedih yang ditampilkannya. Bahkan matanya merah dengan kantung mata hitam yang menandakan dia tidak tidur semalaman karena menangis.
Ya, seorang CEO dan Ketua mafia Golden Eagle menangis karena kepergian istrinya.
Abi pun menuruni tangga dengan langkah yang sedikit malas. Saat sampai di pusat keributan baru saja dia mau bertanya tapi yang dia dapatkan adalah pukulan di wajah kanannya. Bahkan lebam di pipi kirinya saja belum sembuh dan sekarang ditambah lebam sebelah kanan.
Bugh!
"Kamu apakan Thika huh?!!!" Ucapnya emosi.
Sementara Abi yang terhuyung ke belakang, mendongakkan wajahnya menatap Roni yang menatapnya dengan tatapan permusuhan. Ya, yang memukul Abi saat ini adalah Roni.
__ADS_1
"Apa maksud lo? Kenapa lo bertanya tentang Thika hah?!!" Ucap Abi tak kalah emosi.
Sementara Roni maju mencengkram kerah baju Abi dengan kuat. "Kau….!! Gue sudah salah, memberikan Thika pada lo. Seandainya gue tahu lo menghianati Thika, sudah dari dulu gue akan menjauhkan lo darinya." Ucapnya.
Abi mengernyit. Lalu melepaskan cengkraman Roni "Apa maksud lo Ron! Gue gak menghianati Thika. Bahkan gue terpukul karena dia hilang sampai saat ini!" Ketus Abi.
"Huh…. Seharusnya sedari awal gue gak membantu Vira." Ucap Roni sinis. "Lo tahu gadis kecil yang lo temui saat masih kecil adalah Thika. Thika, gadis yang lo suka dan lo sudah berjanji padanya akan melindunginya. Tapi, apa yang lo lakuin?"
Abi jelas tidak paham apa maksud perkataan Roni. "Apa maksud lo gue gak ngerti! Dari mana lo tahu Thika itu, gadis kecil yang gue temuin?" Tanya Abi. Dengan tatapan tajam seolah menanti penjelasan yang akan diberikan oleh Roni.
Roni pun mengeluarkan sebuah buku kecil. Buku diary milik Vira. "Baca ini!" Ucapnya, lalu menyerahkan buku tersebut.
Abi pun membuka buku itu perlahan. Dan sedikit terkejut ketika membaca setiap bait kata yang tertulis di sana.
Kepada Abimanyu.
Maafkan aku sebelumnya karena berbohong soal identitasku. Kamu tahu keluargaku ditekan oleh pamanmu yang tamak akan harta yang kamu miliki. Sehingga dia menyuruhku mendekatimu. Aku tahu kamu tidak mencintaiku dan begitu juga sebaliknya aku tidak mencintaimu. Tapi beberapa waktu yang kuhabiskan denganmu membuatku menghormatimu.
Aku minta maaf karena aku memakai kalung itu untuk mengikatmu. Karena aku teringat kalung yang dibawa oleh seorang gadis ketika masih kecil dan aku tahu itu pemberianmu karena lambang kalung itu. Jadi, aku menggunakannya untuk mengelabui mu.
Selama ini kamu selalu mencari gadis kecil yang kamu sukai dulu bukan? Ya, gadis itu adalah Avanthika putri Jenderal Sanjaya. Aku tahu kamu menemuinya karena dia menceritakannya padaku dulu. Kamu tahu? Gadis itu sudah remaja sekarang, mungkin saat ini sedang kuliah. Aku harap kamu bertemu dengannya.
Sekali lagi maafkan aku. Vira.
Sementara Abi, pelupuk matanya sudah berkaca-kaca menahan tangisnya agar tidak pecah. Satu lagi kebenaran dari masa lalu membuatnya sangat terkejut dan juga sedih.
__ADS_1
Gadis dari masa lalunya yang selama ini dia cari selama ini berdiri di sampingnya sebagai istrinya.
Kenapa aku bisa begitu bodoh? Batinnya merutuki kebodohannya.
Roni menghela nafasnya berat. Nyatanya menyimpan rahasia yang Vira dan dia sembunyikan akan berakibat seperti ini.
Dia pun teringat bagaimana Vira untuk yang terakhir kalinya, sebelum kematiannya. Datang menemuinya lalu menyerahkan sebuah buku dan beberapa surat untuk diberikan kepada orang-orang yang jelas sudah dia sakiti.
"Dokter Roni, tolong bantu aku. Berikan ini disaat semuanya sudah terungkap. Karena hidupku mungkin tidak akan lama lagi." Ucapnya Vira, kala itu.
Setelah itu Roni pun mendekati Abi, menepuk pundaknya pelan. Abi pun mendongak menatap Roni.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?!" Ucap Abi, yang ingin tahu mengenai kejadian yang terjadi beberapa tahun lalu.
Roni menarik nafasnya, dikala akan mulai bercerita.
"Kamu tahu pertemuanmu dengan Avanthika sudah diatur oleh ku dan juga Vira." Ucap Roni.
Sementara Abi hanya mendengarkan apa yang diceritakan Roni.
"Dua Minggu, setelah kematian Vira aku pergi ke London. Kamu tahu betapa beratnya tugasku kala itu? Membagi waktuku untuk belajar, praktek dan juga mengawasi pergerakan Avanthika. Aku berusaha menjauhkannya dari laki-laki yang berusaha mendekatinya dan itu aku lakukan demi dirimu. Aku mengawasinya dari jauh selama kurang lebih tiga tahun."
"Beberapa tahun kemudian dia pun lulus. Aku menyuruh dosennya yang aku kenal agar merekomendasikannya ke Dewantara Enterprise. Lalu pulang ke Indonesia untuk datang melamar ke perusahanmu."
"Disaat aku tahu dia sudah diterima disana sebagai sekretaris, aku sedikit tenang. Itu karena beberapa langkah lagi aku pasti bisa menyatukan kalian. Lalu kejadian di bar, aku menyuruhmu menikahinya, bukan hanya sekedar candaan kamu tahu. Lalu disaat kalian sudah menikah aku ingin hubungan kalian layaknya sepasang pasutri yang sesungguhnya bukan karena pasangan kontrak. Aku melakukan semua ini, karena Vira menginginkan kalian bersatu." Ucap Roni. Menjelaskan rencananya yang dia buat bersama Vira.
__ADS_1
Abi pun mengepalkan tangannya.
Bersambung……