
Setelah itu Thika memberi Abi minum dan menyuruhnya meminum obat. Namun, Abi menolak meminum obatnya. "Abi gak mau minum obat ma! Obatnya pahit Abi gak suka!" Rengek Abi seperti anak kecil.
Thika pun mencoba membujuk Abi dengan berbagai macam cara, seperti akan membelikannya permen atau mengajaknya pergi jalan-jalan. Tapi Abi selalu menolak.
Thika menghembuskan nafasnya berat. Thika membuka obat tersebut memasukkannya ke dalam mulutnya lalu meminum air. Ia pun mendekatkan dirinya ke arah Abi. Dengan cepat Thika menci*m bibir Abi, menggigit pelan bibirnya agar memudahkan Thika memberikan obatnya.
Dengan paksa Thika terus memaksa Abi menelan obatnya. Setelah perjuangan yang melelahkan akhirnya Thika menyudahi ciumannya dengan Abi. Ia mengelap sudut bibirnya yang basah. Nafasnya bahkan masih tersengal-sengal.
Abi tampak diam. "Sekarang Abi tidur ya!" Ujar Thika lalu membaringkan Abi, menyelimutinya agar tidak masuk angin. Setelah itu, Thika beranjak akan menaruh piring kotor ke dapur.
Namun, seketika tangannya dicekal oleh Abi. "Ma, tidur dengan Abi ya?" Ucap Abi dengan mata berbinar ah lebih tepatnya terlihat seperti anak kucing yang lucu.
Thika jelas gelagapan. "Abi tidur sendiri dulu ya, mama gak pergi kok!" Ucap Thika memberi pengertian.
Dengan cepat Abi menarik tangan yang tadi dicekalnya, sehingga Thika terjatuh tepat di atas Abi.
Eeehhhh. Astaga ada apa ini? Saat ini aku sangat dekat dengannya. Batin Thika.
"Gak boleh mama gak boleh pergi!" Rengek Abi. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya. Thika tidak bisa berkutik pasalnya pelukan Abi kali ini sangatlah kuat.
Thika berpikir, dari mana pria ini mendapatkan tenaga sedangkan dia sendiri sedang demam. Ah sudahlah lebih baik biarkan dulu seperti ini.
__ADS_1
Thika pun tidur disamping Abi. Membiarkan Abi memeluknya. Tangan Thika refleks terangkat mengelus pucuk kepala Abi. Tak lama dengkuran halus terdengar, yang tandanya saat ini Abi sudah tidur.
Ada satu hal yang mengganggu pikirannya sedari tadi. Yaitu Abi yang terus terusan mengigau tentang Papa dan Mamanya. Tidak pernah Thika mendengar Abi membahas tentang Papa atau Mamanya di depannya. Bahkan selama tinggal di mansion Abi Thika sama sekali tidak mendapati foto keluarga dari Abi.
Thika larut dalam pikirannya dan secara tidak sadar terlelap dalam tidurnya. Abi dan Thika tidur dengan saling memeluk satu sama lainnya.
*
*
Disisi lain.
Saat ini Roy sudah berada di lokasi yang tadi diberitahu oleh Thika. Disana sudah ada beberapa anak buah Abi dengan salah satu dari mereka membopong tubuh seorang pria. Roy tampak serius memperhatikan tempat tersebut, lalu mendekati mobil yang sudah hangus terbakar. Tak lama pria berbaju hitam datang menghampirinya.
Roy mengangguk. Lalu mendekati pria yang pingsan karena efek obat tidur. "Apakah kau mendapat petunjuk tentang siapa yang mengirim mereka?" Tanya Roy kepada salah satu bawahannya.
"Tidak tuan." Jawab bawahan yang membopong tubuh pria yang pingsan.
Roy pun menghela nafasnya. "Bawa dia ke markas, aku yang akan menginterogasi nya! Dan ya bereskan tempat ini jangan sampai meninggalkan jejak!" Perintah Roy kepada seluruh bawahannya.
Roy pun pergi mengendarai mobilnya menuju Rumah Malam, markas yang tadi disebutkan oleh Roy. Butuh waktu 30 menit untuk sampai ke markas karena letaknya yang jauh didalam hutan.
__ADS_1
Roy pun turun dari mobilnya, berjalan santai menuju rumah yang dari luar kelihatan tua, bahkan hanya ada beberapa lampu pencahayaan.
Salah satu bawahannya menghampirinya. "Tuan seperti perintah tuan, kami mengurungkannya di kamar khusus." Ucap bawahannya.
Roy mengangguk lalu berjalan lebih dahulu. Membuka pintu ruangan dengan pencahayaan temaram. Ada tiga bawahan yang sudah berada di dalam ruangan. Roy pun duduk di kursi yang letaknya tepat di depan pria yang pingsan tersebut. Bisa Roy lihat pria itu masih tidur, kedua tangan dan kakinya sudah diikat sedemikian rupa.
Roy pun menjentikkan jarinya. Bawahannya dengan sigap menyiram pria itu dengan air dingin agar dia cepat sadar. Pria itu pun pelan-pelan bangun dari tidurnya.
Roy menyeringai. "Sudah puas tidurnya hmm?" Tanya Roy.
Pria itu jelas gelagapan, karena yang ada di depannya adalah orang yang berdarah dingin. Dibalik wajahnya yang hangat dan ceria, bila dihadapkan situasi yang berbahaya dia tak segan-segan akan melukai seseorang bila tidak sesuai dengan keinginannya.
Merasa pertanyaannya tidak mendapat jawaban, Roy memberi instruksi kepada bawahannya untuk membuka baju pria tersebut guna mencari informasi.
"Kau bekerja kepada siapa!?" Tanya Roy penuh selidik.
Pria itu hanya membisu tidak berkutik sedikitpun. Roy beranjak dari duduknya, mendekati pria itu. Seketika Roy melihat sebuah tanda ular yang berada di bahu kiri pria tersebut.
"Black Snake,, kau bekerja untuk mereka ya?! Katakan siapa bos kalian dan apa rencana kalian!" Teriak Roy tepat di telinga pria itu.
Pria itu masih tetap diam. Merasa tidak mendapatkan informasi yang dibutuhkan, Roy pergi meninggalkan pria itu lalu menghampiri bawahannya. "Lakukan seperti biasa!" Titah Roy kepada tiga bawahannya. Ketiga bawahan yang berada di ruangan tersebut pun mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
Roy berjalan keluar menuju mobilnya untuk melaporkan kejadian kepada bosnya. "Jika saja tidak ada rapat sore ini aku sendiri yang akan memaksanya membuka mulutnya itu." Gumam Roy.
Bersambung…