Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Ekstra part 10 - 5 Tahun Kemudian (End)


__ADS_3

..."Di Setiap awal pasti akan ada akhir."...


...~Me~...


Satu tahun kemudian


Di Sebuah ruangan terdapat dua insan bersama keluarganya datang untuk membicarakan masa depan dari pasangan Roni dan Ratih.


Roni dan Ratih terlihat duduk berhadapan dengan perasaan yang campur aduk.


"Silahkan diminum minumannya, tuan dan nak Roni." Ucap Ibu Ratih yang menyajikan secangkir teh.


"Ekhem, begini tuan dan nyonya maksud kedatangan saya dan putra saya kemari ingin mempersunting Ratih putri anda." Ucap Pak Prayoga memulai pembicaraan.


Kakek Ratih menatap tajam calon besannya. "Apakah kalian sudah yakin ingin meminang putri satu-satunya keluarga kami? Apa kelebihan yang dimiliki putra anda?" Tanya Kakek Ratih kepada Pak Prayoga.


"Saya memang tidak sebanding dengan keluarga anda yang merupakan keluarga terhormat dan terpandang, tapi saya yakin tidak akan membuat Ratih menangis dan akan membuatnya selalu bahagia bersama saya." Ucap Roni yang menyela ayahnya yang akan menjawab pertanyaan kakek Ratih.


Bagaimana tidak, keluarga Ratih bisa dibilang keluarga yang paling dihormati. Karena leluhurnya memiliki hubungan yang erat dengan raja yang memerintah di pulau Dewata dahulu.


Kakek Ratih menyunggingkan senyuman yang tampak penuh arti. "Bagaimana jika saya tidak merestui kalian?" Kembali Kakek Ratih bertanya.


"Kakiang?!" (Kakek?! Dalam bahasa Bali Alus) Ratih protes kepada kakeknya.


"Apapun akan saya lakukan demi membahagiakan Ratih dan mendapatkan restu anda. Jadi, tolong restui kami." Ucap Roni.


"Oh, kau pemuda yang pemberani juga. Tapi yang saya inginkan bukanlah janji yang anda ucapkan, tapi tindakan yang akan anda lakukan untuk membuktikan bahwa anda bisa membuat cucuku bahagia. Dan saya percaya kamu bisa membuat cucuku bahagia." Ucap Kakek Ratih.


"Jadi, kakek merestui kami?" Tanya Ratih dan Roni bersamaan.


Kakek Ratih tersenyum. "Tentu saja, jika kau bahagia maka kakek dan semua akan bahagia. Apapun keputusanmu kami sekeluarga akan selalu mendukungmu." Ucapnya menatap sang cucu.


"Selamat kak!" Ucap adik laki-laki Ratih.


"Selamat Gek Ayu." Ucap Kakak laki-laki Ratih.


Ibu Ratih berdiri menghampiri putrinya, lalu memeluknya erat. "Pianak biang sane jegeg sampun duur, jani suba kal nganten." (Anak ibu yang cantik sudah besar dan sekarang akan segera menikah.) Ucapnya.


Sementara Ratih hanya bisa menangis terisak di dalam pelukan sang ibu yang selama ini sudah sendirian membesarkannya dan kedua saudaranya. Karena ayah Ratih sudah meninggal disaat Ratih berumur 10 tahun.


*


*


*


Tibalah di hari pernikahan Roni dan Ratih, pagi harinya mereka sudah melaksanakan prosesi pernikahan dengan adat Bali karena permintaan dari keluarga Ratih.



...(Gambar hanya pemanis😅)...


Dan sekarang di malam harinya tengah dilangsungkan resepsi pernikahan yang sebelumnya menjadi tempat pernikahan Thika dan Abi.

__ADS_1


Banyak tamu penting yang hadir mulai dari rekan kerja Ratih dan Roni maupun dari kedua belah pihak keluarga.


"Selamat datang ke keluarga Prayoga adik ipar." Ucap Sarah seraya memeluk Ratih.


Ratih tersenyum. "Tentu saja kak, aku sangat senang mendapatkan kakak ipar yang baik dan cantik seperti kak Sarah." Ucapnya.


"Kedepannya jangan sungkan ya." Ucap Thika.


"Anggap saja kami seperti kakakmu." Ucap Nisha.


Sementara para perempuan sedang asyik berbincang di atas pelaminan lain lagi dengan para laki-laki yang duduk di tempat yang tidak lumayan ramai karena menjaga anaknya.


*


Resepsi pun telah usai, tampak Ratih yang sudah selesai membersihkan dirinya dan saat ini sedang menatap pantulan dirinya di depan cermin meja rias.


Ceklek.


Pintu kamar hotel pun terbuka, memperlihatkan Roni yang masuk. Dia pun tersenyum tatkala melihat istri yang baru dinikahi hari ini. Lalu mendekat menuju kearah Ratih.


"Kamu lelah?" Tanya Roni memegang kedua bahu Ratih.


Ratih hanya mengangguk, dengan tangan kirinya memegang tangan Roni yang bertengger di bahunya.


"Baiklah, mari istirahat hmm." Ucap Roni.


Ratih terlihat murung, bukankah sekarang adalah ada hal penting yang seharusnya dilakukan oleh para pengantin baru? Pikirnya.


Melihat Ratih yang diam saja, Roni pun membalikkan badannya. "Ada apa? Kenapa masih diam di sana?" Tanyanya.


Roni menyunggingkan senyumnya, sebagai pria dewasa dia jelas tahu apa maksud perkataan dari Ratih.


"Aku mengerti maksudmu, dan aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya sekarang. Jika kamu tidak mau melakukannya sekarang maka kita bisa melakukan dihari lain. Selain itu, aku kasihan melihatmu yang kelelahan seharian." Ucapnya sembari mengelus surai Ratih.


"Ta-tapi, bagaimana jika kamu ingin segera memiliki…." Ratih berucap lirih.


"Aku menikahi mu bukan sebatas karena ingin memiliki anak. Tidak dipungkiri aku juga ingin memiliki seorang anak, tapi aku juga memikirkan mu, apakah kamu sudah siap memilikinya sekarang? Aku membebaskan mu ingin memilikinya sekarang atau nanti, karena yang nantinya akan mengandung dan melahirkan adalah dirimu." Ucap Roni membuat Ratih terharu.


Ratih merasa bahagia karena sudah memilih dan menikah dengan laki-laki yang bisa memahami dirinya.


Tak lama Ratih pun memeluk Roni. "Terimakasih, kamu selalu mementingkan diriku terlebih dahulu." Ucapnya. "Tapi, aku ingin memiliki anak segera, karena melihat suamiku yang sudah bertambah tua." Ucap Ratih tepat di depan telinga Roni.


"Heh…. Kamu mengatai ku tua? Aku tidak terima, kamu harus dihukum." Ucap Roni dengan seringai yang terlihat di wajahnya.


"Ampun!" Ucap Ratih tertawa keras.


*


*


*


5 tahun kemudian.

__ADS_1


Di mansion keluarga Dewantara.


"Daddy!!!!!!!" Teriak seorang gadis dengan suara melengking sembari berlari.


"What happen my princess?" Tanya Abi lalu menggendong putrinya.


"Daddy, Leon nakal sama Anin." Ucap Anin kecil mengadu ke ayahnya.


Abi pun menatap tajam Leon yang baru datang, membuat laki-laki kecil itu sedikit ketakutan. "Paman, Anin yang duluan mengejekku!" Ucapnya membela diri.


Bagaimana Abi tidak akan bisa memarahi anak kecil. Lalu dia pun memanggil Roy. "Roy!" Teriaknya.


"Ada apa bos?" Tanya Roy.


"Tolong jaga putramu, dia hampir membuat kesayanganku menangis." Ucap Abi.


Roy memutar bola matanya malas. "Sudahlah, mereka masih anak-anak, lagipula putrimu tidak menangis kan?" Jawabnya.


"Kau…!" 


"Sudahlah dad, jangan membesar-besarkan masalah." Ucap Aska dingin.


"Benar kata kakak, Daddy seperti anak kecil saja. Lagipula Anin hanya drama saja." Ucap Agastya.


"Huaaa…. Daddy kak Agas gak suka sama Anin." Tangis Anin akhirnya pecah juga. Dengan cepat Abi pun menenangkan putrinya yang sangat susah ditenangkan ketika menangis.


"Sudahlah, ayo kita ke ruang keluarga saja menunggu Yudha. Reno ajak juga adikmu Leon." Ucap Aska.


"Oke bos!" Ucap Reno lalu mengajak adiknya menjauh dari Anin.


Tak lama datanglah keluarga Mahen dan Roni. "Hello all, uncle tampan dan baik hati datang." Ucap Roni.


Sementara Mahen memutar bola matanya jengah karena melihat kelakuan Roni. Lalu dia pun masuk ke dalam. 


"Ohoho, keponakan aku udah datang, halo Mitha." Ucap Thika menatap putri kakaknya.


Mitha yang dalam gendongan ayahnya hanya melambaikan tangannya.


Nisha, Sarah, Thika dan Ratih sudah berada di dapur membuat beberapa hidangan sementara anak laki-laki sudah berkumpul di ruang keluarga.


Agastya pun menghampiri Roni yang sedang duduk di sofa memangku putrinya Anggita. 


"Hello uncle, hello little Anggi." Ucap Agastya lalu mengelus pipi chubby Anggita.


"Hello boy, sudah lama kita tidak bertemu ya." Ucap Roni.


"Tentu saja, karena uncle sangat sibuk." Jawab Agastya.


"Semuanya ayo ke taman belakang, mari kita makan!" Teriak Thika.


Semuanya pun berkumpul di taman belakang dan bercengkrama.


Tamat.

__ADS_1


***Terimakasih yang sudah membaca novel ini sampai tamat, karena ini novel pertama jadi banyak ada salah di dalam penulisannya.😬😬


Sampai bertemu lagi di karyaku berikutnya 🙂🙂🙂😘😘


__ADS_2