Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Siasat licik


__ADS_3

Beberapa hari pun berlalu setelah Abi dan Thika makan malam. Banyak gosip yang mulai beredar di dalam kantor bahwa Thika mulai mendekati Abi dengan cara kotor. Para karyawan berpikir bahwa Thika yang anak baru bisa langsung naik ke posisi sekretaris sedangkan mereka sudah bekerja bertahun-tahun tapi tidak dapat naik jabatan. Bahkan ada beberapa karyawan wanita yang mengatakan bahwa Thika hanya mengandalkan kecantikannya agar bisa diterima di Dewantara Enterprise.


Bahkan saat Thika pergi ke pantry perusahaan untuk membuat secangkir kopi untuk bosnya, para karyawan wanita secara terang-terangan mengatakannya di hadapan Thika.


Namun, Thika sama sekali tidak mendengarnya dan berjalan meninggalkan mereka. Thika mempunyai prinsip yaitu Jangan pernah menjalani kehidupan atas kemauan dan pandangan orang lain tapi, jalani hidup dengan kebahagiaanmu sendiri.


Namun, disaat Thika sudah selesai membuat kopi dan akan meninggalkan pantry, seorang wanita menghentikan langkahnya.


"Maaf, mbak saya buru-buru, bisa mbak berikan saya jalan?" Ucap Thika dengan tegas.


"Eh lo tuh ya gak ada sopan-sopannya sama senior?! Asal lo tau ya, gue itu suka sama Pak Abi dah lama jadi, lo jangan dekat-dekat. Kalo sampai gue liat lo bareng pak Abi, awas aja lo!" Ucap seorang perempuan yang mengancam Thika.


Perempuan yang mengancam Thika adalah seorang di bagian pemasaran, ia bernama Maya. Seluruh kantor sudah tahu bahwa Maya sangat menyukai Abi, bahkan ia akan membuat karyawan yang menyukai Abi menderita selama bekerja disini.


Melihat ada pertengkaran, para karyawan berdatangan menonton perkelahian antara Thika dengan Maya.


"Maaf nih mbak, gimana saya gak deket-deket, saya kan sekretarisnya. Kalau nanti ada kerjaan gimana? Mbak mau gantiin saya?" Jawab Thika ketus.


"Lo tuh ya dibilangin gak…." Belum selesai Maya berbicara, seorang karyawan wanita melerai Maya dan juga Thika.


"Sudah lah Thika, jangan ngelawan lagi" ucap Tiwi dengan nada khawatir. Tiwi merupakan teman dari Thika selama ia bekerja di kantor ini. Ketika ia memerlukan bantuan maka Tiwi yang selalu membantu.


Thika pun menarik nafas lalu menghela nafasnya dengan pelan. "Benar kamu Tiwi, untuk apa aku meladeni mereka. Lagipula aku sudah terlambat mengantarkan kopi suruhan bos, jadi aku akan pergi sekarang" ucapnya santai.


Mendengar perkataan Thika, Maya pun tersulut emosinya. Saat melihat Thika berjalan melaluinya Maya pun memajukan kaki kanannya, Thika yang tidak menyadari kelakuan Maya tersandung lalu terjatuh. Naas kopi yang ia buat juga ikut terjatuh sehingga tangan kanannya tersiram kopi panas dan kakinya terkena serpihan cangkir yang pecah.


"Awhhh…." Ucap Thika meringis kesakitan.


Tak lama kemudian seseorang datang dan dengan cepat membantu Thika bangun.


"Cepat ke pantry basuh tangan kamu dengan air mengalir agar gak melepuh, takutnya nanti berbekas. Kaki kamu juga kena serpihan cangkir harus segera diobati atau mau saya antar ke rumah sakit?" Tanya laki-laki itu khawatir.


"E-em tidak perlu kok ke rumah sakit kok, diobati biasa aja" jawab Thika santai.


"Ayok Ka, basuh dulu tangan kamu, aku ambilkan kotak obat dulu" ucap Tiwi yang setelah itu berlari mencari kotak obat.

__ADS_1


"Semua yang ada disini mau ngapain lagi? Bubar!!" Teriak laki-laki yang menolong Thika.


*


Thika pun bersama laki-laki tersebut pergi ke pantry, ia membasuh tangannya sampai Tiwi datang membawa kotak obat.


"Maaf Ka, aku gak bisa bantuin ngobatin kamu aku sudah dipanggil sama atasan" ucap Tiwi tidak enak hati.


"Ya udah sana gih, nanti dimarahin loh" ucap Thika santai.


Setelah itu, Tiwi pun pergi meninggalkan Thika bersama laki-laki yang menolongnya.


"Sini aku bantu pakaikan salepnya" ucap laki-laki tersebut lalu mengambil salep di kotak obat.


Melihat itu Thika pun mengambil salep dari tangan laki-laki tersebut. "Ah gak usah saya bisa sendiri, kalau boleh tahu nama anda siapa ya?" Tanya Thika.


"Loh, kamu gak inget sama aku? Ini aku Ka Vino Danendra, kita dulu sekelas loh SMP. " jawab Vino memperkenalkan dirinya.


"Astaga! Vino! Gue pangling liat lo. Sekarang lo kurusan ya" seru Thika, yang tak menyangka ia akan satu perusahaan dengan temannya. "Oh ya Vin, lo dari bagian mana? Kok gue gak pernah liat sih?" Tanyanya lagi.


"Ahh, gue sekertaris bos. Baru kerja beberapa hari ini sih" jawab Thika. Setelah mengobati lukanya, mereka pun berbincang sedikit, sebelum Thika mengingat pesanan bosnya. Ia berpamitan pada Vino dan melenggang menuju lantai dimana ruangan bosnya berada.


*


Disisi lain, Maya sedari tadi diam-diam memperhatikan Thika dan Vino yang berbincang-bincang di pantry. 'Wanita itu licik juga, udah ngerayu bos masih juga ngerayu cowok lain dasar jal*ng!' batin Maya dengan kesalnya.


'Awas aja lo Avanthika, gue akan buat hidup lo menderita!' Lanjut Maya sambil tersenyum licik. Setelah itu, Maya pun berpikir dan menyusun sebuah rencana yang akan ia gunakan untuk menjatuhkan Thika.


*


Di ruangan, Abi menunggu kopinya yang dibuatkan oleh thika. Sudah 20 menit, tapi Thika sama sekali belum datang membawakan kopinya. Dengan cepat Abi bangkit dari duduknya dan akan pergi mencari Thika. Namun, disaat Abi membuka pintu sesuatu terjadi.


Duk!


"Awhhh…" ringis seseorang sambil mengelus kepalanya yang kesakitan. Orang tersebut tak lain adalah Thika. Kepalanya agak sakit karena tanpa sengaja terbentur dada bidang Abi.

__ADS_1


"Kamu itu kalo mau masuk ketuk pintu dulu! Gak sopan banget tahu!" Ucap Abi ketus sambil memberi jarak kepada dirinya dan juga Thika.


Thika mendengar itu pun memicingkan matanya. 'Ya ampun kenapa satu hari ini sial banget sih gue, udah ketemu cewek kampret eh disini ketemu sama si bos menyebalkan. Lengkap sudah penderitaan gue' batin Thika mengomel.


"Kamu ngapain diem aja? Pasti kamu lagi ngomongin saya ya?" Tanya Abi dengan tatapan tajam, setajam silet.


"Eh… nggak kok pak" ucap Thika dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


"Sudahlah mana kopi saya?" Tanya Abi. Seketika Thika pun terkejut dan berusaha berfikir mencari alasan. Karena pertengkaran tadi ia jadi melupakan pesanan bosnya. Melihat gelagat Thika yang aneh, Abi pun menjadi curiga. Tiba-tiba Abi melihat penampilan Thika yang agak berantakan dan kakinya penuh luka.


"Itu kenapa kaki kamu luka?" Tanya Abi. Matanya pun menelisik seluruh badan Thika namun, ia begitu terkejut melihat tangan kanan Thika yang melepuh.


"Ini kenapa lagi tangan kamu?" Tanya Abi lagi, lalu menggapai tangannya. Menyentuh lembut tangan Thika yang terluka.


"Bu-bukan apa-apa pak, cuma kena air panas saat bikin kopi" jawab Thika gugup dan langsung menarik tangannya.


"Perlu saya panggilkan dokter? Atau kamu mau ke rumah sakit?" Tanya Abi khawatir.


"E-em tidak usah pak, ini sudah mendingan" ucap Thika dengan gugup karena melihat perubahan bosnya.


Abi menghela nafasnya kasar. "Kamu hari ini boleh pulang awal, semua pekerjaan kamu serahkan saja pada Roy, kamu istirahat saja dirumah" titah Abi kepada Thika.


Mendengar itu, seketika Thika tersenyum senang, dan berterima kasih kepada bosnya. Di dalam hatinya ia bersorak kegirangan, siapa sih yang tidak senang pulang awal. Bukankah pulang awal merupakan keinginan semua orang baik pelajar maupun para pekerja. Dan dengan segera Thika pun keluar dari ruangan bosnya, merapikan barang-barangnya dan melesat pulang dengan cepat.


*


Sedangkan bagi Abi, ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Ia pun duduk di kursinya dan melihat pemandangan kota dari jendela besar kantornya. 'Ngapain gue tadi khawatir dan tanya keadaannya sih? Kayak bukan gue aja' Abi membatin.


Setelah itu, Abi pun kembali membaca dokumen-dokumen.


Bersambung….


Ini adalah novel pertamaku, jadi maaf jika ada kesalahan kata maupun kesamaan nama tokoh.


Dipersilahkan memberikan masukan. (Kritik dan Saran)

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya💞💞


__ADS_2