
Thika pun terbangun dari tidurnya. Niat ingin beristirahat sebentar malah ketiduran, bahkan hari sudah siang.
Tiba-tiba ponsel Thika bergetar pertanda pesan masuk. Dilihatnya pesan itu berasal dari Sarah.
📲 Sarah: 'Ka, lu ada di rumah kan?'
"Gue ada dirumah. Ada apa?" Tanya Thika.
📲 Sarah: 'Gue kesana ya, ada yang perlu gue omongin nih.'
"Dateng aja, gue juga gabut di mansion. Abi juga gak ada." Ucap Thika.
📲 Sarah: 👌👌
*
Beberapa saat kemudian Sarah pun datang. Thika dengan cepat mempersilahkan Sarah masuk. Lalu menuju sofa di ruang tamu untuk berbincang.
"Ada masalah apa sih?" Tanya Thika kepada temannya yang sedari tadi hanya melamun.
Sarah tampak ragu-ragu. "A-anu menurut lo Kak Roy itu gimana? Maksudku bagaimana orangnya." Tanya Sarah gelagapan.
Thika menyipitkan matanya, menatap Sarah dengan tatapan curiga diiringi senyum seringai ala ibu-ibu komplek yang sedang bergosip. "Sarah apa lo tertarik sama asisten Roy?" Tanya Thika penuh selidik.
"Em…. Itu…."
"Sudahlah, akui saja. Asisten Roy orangnya baik kok, jujur, cekatan dan bertanggung jawab. Apalagi auranya." Ucap Thika. Melebih-lebihkan.
"Tapi, gue udah bilang tertarik sama kak Roy. Cuma dia nganggep gue sebagai adiknya doang. Dan sekarang dia kayak menghindar dari gue." Ucap Sarah sendu.
Pasalnya perlakuan Roy padanya jelas membuatnya salah paham. Dia yang selalu ada dan siap dibutuhkan membuat Sarah sedikit tertarik kepadanya. Tapi, Roy selalu membangun dinding yang tinggi pada Sarah, sehingga dia kesulitan untuk mendekat.
"Sa, bentar ya. Gue mau ke dapur mengambil cemilan." Ucap Thika. Lalu pergi ke dapur meninggalkan Sarah yang duduk tertunduk di sofa.
*
__ADS_1
Tak lama seseorang menerobos pintu utama mansion. Lalu melenggang masuk dengan santainya. Ya siapa lagi kalau bukan Dokter Roni.
"Good afternoon everyone." Ucapnya dengan wajah tanpa dosanya.
Sarah pun terkejut karena melihat Roy yang berada disana. Dia lalu bangkit ingin menghampiri Roni yang dikiranya Roy.
"Kakak jahat tahu! Main ghosting aja. Kakak tau gak gimana perasaan aku!" Teriak Sarah sedikit terisak. Lalu memukul dada Roni dengan keras.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Eh ini…" Roni jelas gelagapan. Bagaimana ada seorang gadis begitu dia datang langsung memukulnya.
Thika yang baru kembali dari dapur, sangat terkejut. Mendengar teriakkan sahabatnya. Lalu melihat Sarah yang memukul Roni tanpa ampun.
"Stop Sarah! Ada apa ini?!" Lerai Thika.
Sarah pun menghentikan pukulannya. Lalu memeluk Thika, menangis menumpahkan semua sakit hatinya. "Itu kak Roy…" ucap Sarah yang masih menangis sambil menunjuk ke arah Roni.
"Asisten Roy?" Tanya Thika. Lalu mengikuti arah tangan Sarah. Bisa dia lihat Sarah menunjuk Roni yang dikiranya Roy. "Hahahah Sarah lu salah orang, dia Dokter Roni. Kembarannya Asisten Roy." Ucap Thika yang tertawa terbahak-bahak. Sementara rona merah sudah mewarnai pipi Sarah karena malu.
Roni hanya tersenyum simpul. Lalu mengulurkan tangannya. "Halo nama saya Roni Prayoga, kalo Roy itu kakak kembar saya." Ucapnya. "Lalu nona siapanya Roy?" Tanya Roni lagi dengan nada lembut.
"Itu kak dia Sarah orang yang di ghosting asisten Roy." Sela Thika.
"Benarkah? Akhirnya kakakku yang kayak kanebo kering bisa dekat sama seorang perempuan. Eh tunggu kalo kamu dekat sama kak Roy, jadi kamu adalah Kakak ipar." Ucap Roni.
"Ah… itu… bukan…"
Roni pun melihat gelagat Sarah. Dia pun mengerti masalah apa yang terjadi antara Sarah dan juga kakaknya.
"Dengarkan ini, di zaman sekarang tidak peduli siapa yang mengungkapkan perasaan terlebih dahulu mau itu si laki-laki atau si perempuan asalkan ada cinta maka lakukanlah. Tidak ada yang melarang hal itu. Kamu tahu terkadang seorang wanita sangat mencintai seseorang tapi malu untuk melakukan langkah besar, bukankah itu buruk? Bagaimana jika orang yang kita sukai berpaling? Jadi, beranikan dirimu ungkapan perasaanmu jika ditolak maka tidak apa-apa karena itu bukan akhir dari dunia." Ucap Roni.
"Kamu tahu mencintai orang yang tidak mencintai kita sangatlah sakit. Karena itu, puncak dari mencintai seseorang adalah melepaskannya dan mengikhlaskannya. Jika dia menolakmu lepaskan dia, karena mungkin dia bukan jodohmu. Bukankah Tuhan sudah menyiapkan jodoh untuk semua orang? Namun, kapan dan dimana akan bertemu kita belum tahu." Lanjutnya lagi.
Sarah dan Thika tertegun mendengar ucapan dari Roni. Kata demi kata sangat menggambarkan situasi Sarah saat ini.
__ADS_1
"Emm anu… Thika makanan sudah siap gak? Kakak laper nih." Ucap Roni sedikit cengengesan.
"Sudah siap kak. Ayo Sarah kita makan bersama." Ajak Thika. Lalu mereka bertiga makan dengan sedikit berbincang di sela-sela makannya.
*
*
*
Sang rembulan sudah memancarkan cahayanya bersama dengan ribuan bintang yang sudah menghiasi langit malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam namun, tidak ada tanda-tanda kedatangan Abi.
Thika pun menunggu Abi di atas sofa sampai akhirnya dia lelah lalu tertidur di sofa.
Beberapa saat Abi pun sudah sampai di mansion lalu melenggang cepat menuju lantai dua tempat kamarnya berada. Dilihatnya Thika yang sudah tertidur di sofa dengan lelapnya. Tidak tega Abi membiarkan Thika tidur sebentar di sofa, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Setelah selesai mandi, Abi menuju sofa lalu mengangkat Thika membawanya ke ranjang. Thika yang merasa tidurnya terusik bangun dari tidurnya.
"Hubby, kamu sudah pulang?" Tanya Thika lalu duduk.
Abi mengusap pelan pucuk kepala Thika. "Maaf sayang, aku membangunkan mu." Ucap Abi lalu mengecup pelan bibir ranum istrinya.
"Sayang bolehkah aku…?" Tanya Abi.
Thika yang mengerti kode yang diberikan suaminya dengan cepat mencium bibir Abi. Mendapat perlakuan itu, dengan cepat Abi menahan tengkuk istrinya, meluma* bibirnya rakus.
Setelah selesai di bibir. Abi lalu menidurkan Thika, membuka baju tidur istrinya.
Abi yang sudah dibakar gairah, melepas lilitan handuk yang sedari tadi melingkar di pinggangnya. Pelan tapi pasti menuju kenikmatan yang hakiki, sampai beberapa saat kemudian suara penuh kenikmatan saling bersahutan mendominasi.
"I Love You, My Sweet Heart." Ucap Abi disaat selesai dengan kegiatan panasnya.
"I Love You Too, Hubby." Balas Thika, sambil membelai dada bidang suaminya.
Bersambung…..
__ADS_1