
Masih dimalam harinya. Markas Black Snake.
"Kau sudah datang juga keponakanku." Ucap seseorang yang duduk dengan kakinya yang berada di atas meja. Yang di belakangnya ada 2 orang bertubuh besar.
Abi menatap pamannya dengan tatapan tajam. "Paman masih saja hidup dengan enak ya? Setelah menghancurkan semua orang yang tidak bersalah." Ucap Abi sinis.
Paman Abi bangkit dari duduknya. "Apa yang kau bicarakan keponakanku? Apa yang sudah aku lakukan?" Ucapnya.
Abi masih menatap pamannya dengan tatapan permusuhan. Dari dulu pamannya masih saja tidak berubah. Tetap licik dan menghalalkan segala cara demi keuntungannya tanpa menghiraukan berapa banyak orang yang menderita karena ulahnya.
Abi mendekat lalu berbicara kepada pamannya. "Kamu pasti tahu tentang kejadian di masa lalu bukan? Dimas Dewantara ah kamu bahkan tidak pantas menggunakan nama Dewantara." Tanya Abi.
"Ah keponakanku, kenapa kamu menyalahkan pamanmu ini? Apa ada bukti hmmm?" Tanyanya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.
Abi mengeratkan rahangnya. "Kau bersama dengan Vira, menargetkan aku untuk mendapatkan kekayaan keluarga Dewantara. Apa bagianmu masih kurang HAH?!!" Teriak Abi. Suaranya bahkan menggema ke seluruh bangunan itu.
Pamannya tertawa sinis. "Kamu akhirnya tahu ya. Kalau begitu kamu m*ti saja, temui Vira dan orang tuamu itu!" Ucap Pamannya. Lalu memberi kode dua orang berbadan besar yang berada di belakangnya.
Abi dan Roy, pun menghalang mereka. Bawahan Abi ingin membantu namun, tidak dibolehkan oleh Abi. Tapi dia menyuruh beberapa bawahannya untuk menahan pamannya. Pukulan demi pukulan mereka berempat lesatkan satu sama lainnya. Mereka sama-sama mahir dalam bela diri, bahkan setelah beberapa waktu tidak ada yang tumbang di antara mereka.
Sampai akhirnya Abi dengan cepat meraih pisau yang berada di belakang orang berbadan kekar tersebut. Lalu melukai lengannya.
"Arghhhhh!!! Sia*an!" Pekiknya menahan rasa sakit.
Setelah itu Abi menyuruh bawahannya untuk membereskan dua orang tersebut. Abi dan Roy lalu mendekati pamannya yang sudah tersungkur di lantai dengan tangan yang sudah diikat dibelakang.
__ADS_1
"Paman, apakah kamu mau memberitahu kejadian yang sebenarnya?" Tanya Abi berjongkok menatap pamannya.
"Kau!!!! Kau sama seperti ayahmu yang tidak berguna. Andai saja dulu aku membunu*mu maka semuanya akan menjadi milikku!" Ucap pamannya yang memberontak ingin membebaskan diri.
Roy maju mendekat. "Apa maksudmu? Tuan besar Dewantara sudah memberikanmu yang seorang anak angkat kekayaan keluarga Dewantara secara adil. Tapi, kamu menghabiskannya untuk berjudi. Kamu terlalu serakah, bahkan kamu masih menginginkan bagian adikmu." Ucap Roy. Lalu mendudukkannya di sebuah kursi lalu mengikatnya seperti akan menginterogasi orang.
Abi duduk di sebuah kursi berhadapan dengan pamannya. "Apa maksudmu ingin membunuhku? Apa kamu yang bertanggung jawab atas kematian orang tuaku HAH?!!" Teriak Abi.
Pamannya menggila. "Ya, aku yang menyuruh seseorang untuk menabrak mobil yang ditumpangi oleh mu dan orang tuamu. Namun, sayang kamu masih selamat sehingga kamu dapat mewariskan kekayaan ayahmu dan si Prayoga yang selalu menggagalkan rencana ku."
"Lalu aku menyusun rencana yang lebih baik. Menyuruh Vira mendekatimu agar kekayaan yang kamu miliki menjadi milikku. Tapi, dia malah berkhianat dan memilih mati."
"Dan beberapa hari yang lalu aku merencanakan pem*unuhan mu, menyuruh seseorang menemba*mu namun, masih saja tidak ada hasilnya. Dan sekarang si jal*ng Fani itu bahkan tidak lebih baik dari kakaknya." Ucapnya mengatakan semua rencananya.
Ingin rasanya Abi menghajar orang yang ada di depannya itu. Bagaimana bisa dia melakukan berbagai banyak hal licik demi kekayaan, bahkan tanpa rasa kasihan menghilangkan nyawa adiknya dan beberapa orang di masa lalu.
Apabila kita tidak bisa mengendalikannya maka kita akan terjerumus ke dalam lembah kekotoran dan juga neraka. Sebaliknya jika dikendalikan maka akan menjadi hal-hal yang positif demi tercapainya kebahagiaan dalam kehidupan ini.
Tapi sayangnya pamannya sama sekali tidak bisa mengendalikannya bahkan terjerumus semakin dalam. Karena iri akan keberhasilan ayahnya dan tamak akan kekayaan membuatnya sampai berbuat nekat.
"Satu hal lagi yang ingin aku tanyakan. Apa masalah antara Vira dengan keluarga Sanjaya?" Tanya Abi menatap Pamannya.
Pamannya menyeringai. "Ayahnya, mempunyai dendam dengan Jendral Sanjaya karena mengira dia yang menjadi dalang kematian istrinya. Padahal istrinya meninggal karena ulahnya sendiri. Karena dendam dia meminta bantuanku untuk memberi pelajaran kepada keluarga Sanjaya. Tapi sayang penyerangan itu selalu gagal. Karena tidak berdaya dia menyerahkan putrinya sendiri yang sudah dia manipulasi." Ucapnya.
Mendengar itu Abi memejamkan matanya. Dia sangat lelah menyelidiki kejadian yang terjadi masa lalu.
__ADS_1
Tiba-tiba pamannya dengan cepat melepas ikatan tali yang sebelumnya sudah diikat oleh anak buahnya. Lalu mengambil pistol yang sedari tadi disimpannya dipingga nya.
"Kamu harus mati! Temui saja orang tuamu di neraka!" Teriaknya lalu mengarahkan pistol tersebut ke arah Abi. Menarik pelatuk nya.
Dor!
Abi yang tidak bergerak karena tidak sempat menghindar, lalu dengan cepat Roy menghadang peluru tersebut sampai mengenai lengan kirinya.
Bawahan Abi dengan sigap menangkap pamannya. Abi mendekati pamannya, lalu berbisik tepat di telinganya. "Sekarang lihat dan dengar kekalahan mu sebelum aku membawamu ke neraka."
Tiba-tiba suara ledakan berbunyi. Bahkan sampai menggetarkan bangunan yang saat ini diinjak oleh Abi. Abi menyuruh bawahannya mendekati jendela besar di ruangan tersebut.
"Lihatlah paman, aku sudah memusnahkan markas mu dan sekarang giliranmu!" Ucap Abi. Lalu mengarahkan pistolnya ke arah pamannya.
Dor!
Abi melesatkan pelurunya di kepala pamannya. "Ini untuk kematian orang tuaku dan orang-orang yang sudah kau celakai."
Dor!
"Ini untuk ketamakanmu dan untuk membayar dosa-dosa mu." Ucapnya. Setelah melesatkan peluru ke bagian dada pamannya.
Setelah itu, pamannya tersungkur ke lantai. Tanpa bisa berkata-kata lagi.
"Makamkan dia dengan layak!" Titah Abi kepada bawahannya. Lalu meninggalkan jasad pamannya itu. Keluar dari bangunan itu.
__ADS_1
Selanjutnya bebannya akan bertambah karena dia akan menyatukan kepingan peristiwa menjadikannya satu agar mengetahui kebenaran yang selama ini belum terungkap.
Bersambung…..