Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Aku Tahu Semua!


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Thika pun duduk di depan meja rias. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Halo? Ada apa Sa?" Tanya Thika kepada Sarah. Dengan menahan suaranya yang sehabis menangis.


📞 "Kamu dimana? Datanglah ke rumah sakit, ayahmu…. Tuan Sanjaya sekarang sedang kritis. Beliau terus memanggil namamu." Ucap Sarah menahan suaranya yang bergetar.


"Baik! Aku mengerti, aku akan segera ke rumah sakit." Ucap Thika lalu berlari keluar.


Belum juga dia sampai di pintu utama dia sudah dihadang oleh dua orang bawahan Abi yang berjaga di depan pintu masuk.


"Maaf nyonya, anda tidak bisa keluar." Ucap salah satu bawahan Abi.


"Kalian bisa ikut denganku!" Ucapnya dengan sedikit khawatir dan panik.


"Maaf nyonya, tidak bisa. Rumah ini sudah dijaga dengan ketat jadi, anda tidak akan punya celah untuk pergi." Ucap salah satu bawahan Abi. Memperingati dirinya agar tidak kabur.


Thika pun kembali ke kamarnya yang ditempati tadi. Memikirkan cara agar bisa keluar dari mansion ini lalu bertemu dengan ayahnya walau hari sudah malam.


Namun, tanpa diduga rasa kantuknya lebih besar dari rasa panik dan khawatir yang dirasakannya. Mungkin tenaganya sudah terkuras habis untuk menangis, selain itu dia juga sama sekali belum menyentuh makanannya.


*


Tak beberapa lama dia pun terbangun. Dilihatnya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12.30 malam dengan cepat Thika bangkit dari tidurnya.


Tunggu? Kenapa aku bisa dikamar ini? Bukankah aku ketiduran di kamar sebelah? Batinnya bertanya-tanya.

__ADS_1


Diliriknya disamping dirinya, Abi yang sedang tertidur pulas. Dan tiba-tiba suaminya itu terbangun. "Tidurlah! Ini sudah malam! Jangan suka merepotkan orang!" Ucap Abi dengan suara dinginnya.


Sementara Thika melakukan kebalikan yang katakan Abi. "Aku ingin bertemu ayah! Ayah memanggilku ke rumah sakit!" Ucap Thika tak kalah dinginnya.


Abi terkejut dengan keadaan mertuanya namun, sebisa mungkin dia menetralkan mimik wajahnya agar tidak kentara. Jika dia bertindak gegabah maka Fani dengan tidak berperasaan akan melakukan sesuatu yang akan menyakitinya dirinya atau orang sekitar. Sementara dia sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi.


Abi menarik tangan Thika hingga dia terjatuh di ranjang. Thika pun memberontak. Dengan cepat Abi mengu**kung Thika. Melesatkan ciuman*ya di bibi* ranum istrinya. Kedua tangan Thika sudah dibawa ke atas kepala dan ditahan oleh tangan kiri Abi.


Setelah ciu*an di bibi*, Abi melanjutkannya di sekitar leher Thika, membuat beberapa tanda kemerahan disana. Bahkan sampai membuat Thika meleg*h disertai desa*an manja.


"Kau…. Ngh…." Desa* Thika.


Abi menanggalkan pakaiannya dan juga Thika. Seperti biasa menuju bukit kembar milik istrinya yang sudah dia rindukan. Tak basa-basi lagi, dia pun dengan cepat melakukan sesi bercintanya dengan Thika walau kadang Thika memberontak.


Ucap Abi ketika mencapai pelepasannya yang kesekian kalinya. Sementara Thika sudah sangat kelelahan. Bahkan lelah hatinya belum juga hilang ditambah lelah fisik, bahkan Abi sama sekali tidak meminta persetujuannya, seperti sebelumnya.


Bukankah persetujuan adalah pernyataan setuju atau menyetujui, pembenaran, pengesahan, dan perkenan. Atau kata sepakat antara kedua belah pihak akan suatu hal, yang telah disetujui oleh kedua belah pihak.


Jika Abi tidak meminta persetujuan bukankah sama saja dengan memperk*sanya? Karena walau sudah menikah persetujuan dari suami atau istri sangat diperlukan dalam hal ini. Agar sama sama enak dan menghormati hak yang dipunyai. Bukannya ini jatuhnya seperti memaksa?


Abi pun tidur tanpa dosa di sampingnya sementara Thika hanya termangu dengan lelehan bening yang mengalir di pelupuk matanya. Tak lama dia pun tertidur.


*


*

__ADS_1


Keesokan paginya. Thika yang baru bangun tidur di bangunan oleh suara gemericik air. Tak lama dari arah kamar mandi Abi datang dengan pakaian kantor yang biasa dia pakai.


Abi pun mendekati Thika. "Jangan keluar dari mansion!" Titahnya.


Sementara Thika menatap benci ke arah Abi. "Kenapa?! Kamu mau menjadikanku tawanan?! Agar balas dendammu tercapai bukan?! Mungkin sekarang kamu puas karena melihat ayah ku sekarat, bukankah ini balas dendam yang kamu cari?!" Ucap Thika dengan emosi yang meletup-letup.


"Apa maksudmu?!" Ucap Abi dengan penekanan.


Thika tertawa sinis. "Bukankah kamu menikahiku karena ingin balas dendam? Aku tahu semuanya!" Ucapnya dengan amarah yang masih belum mereda.


Abi mendekati Thika lalu menyentuh bahunya pelan. "Siapa yang memberitahumu?" Ucap Abi. Namun, tatapannya teralihkan karena kalung yang dipakai oleh Thika.


"Siapa yang memberikanmu kalung ini?" Tanya Abi menelisik lebih jauh kalung itu.


Ya, kalung itu seperti tidak asing. Kalung yang sama persis yang diberikan oleh mamanya. Lalu Abi memberikannya kepada gadis kecil di masa lalunya.


Mamanya dulu pernah berpesan. "Jika Abi sudah mempunyai orang yang istimewa, berikan kalung ini. Kalung ini ada satu didunia karena mama sendiri yang mendesainnya." Ucap mamanya kala itu.


Jadi darimana Thika mendapatkannya? Pikir Abi.


Thika menghempaskan tangan Abi dari bahunya. "Ini pemberian dari kakak baik saat aku masih kecil. Kamu tidak ada urusannya!" Kesal Thika.


Sementara Abi bangkit lalu keluar dari kamar. "Aku peringatkan! Jangan keluar dari mansion!" Titah Abi.


Bersambung……

__ADS_1


__ADS_2