Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Tentu Saja Tampan


__ADS_3

Abi, Aska dan Agastya pun sudah sampai mansion. Seorang pelayan pun membukakan pintu lalu menyambut mereka.


"Ahh, kalian sudah pulang rupanya." Suara lembut dan menenangkan menyambut kepulangan mereka. Suara siapa lagi selain suara Thika.


Dengan cepat Abi mengecup kening istrinya itu karena rasa kangennya. 'Ahh mommy dan Daddy mulai lagi.' batin Aska yang melihat kemesraan orang tuanya. Sementara Agastya dengan tenangnya tidur di dalam gendongan sang Daddy.


Thika yang merasa tersipu langsung mengambil Agastya yang tertidur di gendongan Abi. "A-Air untuk mandi sudah aku siapkan, setelah itu kita makan." Sedikit gugup.


Lalu membawa Agastya yang tertidur sambil menggandeng Aska ke kamarnya masing-masing.


Aska sudah melesat menuju kamarnya untuk mandi sendiri karena dia adalah tipe orang yang melakukan sesuatu sendiri. Sementara Agastya sudah dibangunkan dan dimandikan oleh Thika.


*


*


Di meja makan, semua orang sudah berkumpul untuk makan kecuali Abi yang masih berada di kamarnya.


"Ini masakan terakhir nyonya." Ucap Bi Sri.


Thika tersenyum, lalu mengambil makanan yang dibawa oleh Bi Sri. "Terimakasih Bi." Ucapnya. Lalu duduk di kursinya.


Bi Sri menatap sang nyonya yang sedang menyajikan makanan. 'Akhirnya nyonya sudah kembali, rumah ini tidak sepi lagi. Semoga kedepannya tuan dan nyonya hidup dengan bahagia.' Batin Bi Sri.


Tak lama Abi turun dengan celana pendek dan kaos oblongnya, sangat berbeda ketika dia saat menggunakan jas dan barang mewah lainnya yang menempel di tubuhnya.


Abi pun duduk di kursinya, lalu menyantap makanan yang sudah diambil kan oleh sang istri. Aska dan Agastya juga makan apa yang diambilkan sang mommy dengan tenangnya.


"Sayang besok kita akan mencoba baju pengantinnya." Ucap Abi di sela-sela makannya.

__ADS_1


Agastya tampak antusias. "Baju pengantin? Apakah Daddy akan menikah dengan mommy? Apa aku juga akan memakai jas yang sama dengan Daddy?" Agastya mencecar sang Daddy dengan pertanyaannya.


Abi sedikit terkekeh mendengar perkataan Agastya. "Ya, mommy dan Daddy akan menikah dan kamu juga akan menggunakan jas mewah sama seperti Daddy." Sahutnya.


"Kak kita akan memakai jas yang sama dengan Daddy. Kita pasti akan terlihat tampan." Ucap Agastya kepada Aska yang diam.


"Tentu saja tampan. Kita kan anaknya mommy yang cantik." Sahut Agastya yang masih fokus dengan makannya.


Sementara Abi memperlihatkan senyum yang tak dapat diartikan saat mendengarkan ucapan Aska. 'Hei, aku ayahmu juga tampan, makanannya kamu juga tampan.' batinnya tak terima.


Thika menoleh menatap Abi. "Tapi, sebelum itu, kita ke makam ayah lebih dulu. Karena aku belum pernah berkunjung." Ucapnya.


Seketika Abi diam, masih jelas di ingatan nya saat kematian tuan Sanjaya dia sama sekali melarang Thika menghadirinya. "Maaf." Cicitnya


Thika yang mendengarnya suara Abi yang pelan menggenggam tangan Abi. Seolah berkata, 'Aku sudah memaafkan mu, jangan ungkit masa lalu lagi.'


*


Saat ini Abi dan Thika sudah berada di kamarnya setelah menidurkan Aska dan Agastya. Abi melihat Thika yang masih berada di luar balkon kamar tersebut, lalu berinisiatif mengambilkan sebuah baju hangat.


"Sudah malam, diluar dingin tidak baik untuk kesehatan." Ucap Abi memakaikan Thika baju hangat. Lalu memeluknya dari belakang.


Thika merasakan pelukan Abi lalu menggenggam tangan Abi yang melingkar di pinggangnya. Bisa dia rasakan deru nafas Abi yang menyapu kulit lehernya.


Tiba-tiba Thika terkejut disaat merasakan sesuatu yang menegang di bawah sana. "Sayang, bolehkah?" Tanya Abi dengan suara beratnya.


Baru saja Thika ingin berbalik, dengan cepat Abi meraup bibirnya, menyesapnya pelan. Lalu meluma*nya atas bawah sesekali mereka saling berbelit lidah. Ciuman manis mereka yang disaksikan oleh sang rembulan dan bintang-bintang.


Huft! Huft! Deru nafas Thika disaat ciumannya terlepas.

__ADS_1


Merasa tak sabar dengan cepat Abi menggendong Thika menuju ranjang mereka sambil bercium*n dengan lembut.


Dengan hati-hati Abi menidurkan Thika di atas ranjang. Tangan kekarnya sudah membelai wajah Thika dengan lembut. Abi pun mengecup kening, kedua kelopak mata, pipi kiri kanannya dan berakhir di bibirnya.


"Ah kak!" Desa* Thika disaat Abi mencium lembut bibirnya.


Abi kembali meluma* bibir Thika kali ini dengan sedikit menggebu-gebu. Lalu memperdalam ciuma*nya mengabsen setiap inci rongga mulutnya. Setelah itu ciuma*nya turun ke lehernya, menghirup dalam-dalam aroma yang sudah lama dia rindukan.


"Hmph!" Desa* Thika tertahan terkadang menger*ng nikmat.


Dengan tergesa-gesa Abi melepaskan pakaian atas Thika beserta dalam*nnya. Dengan cepat dia melesat mencium dua bukit milik istrinya yang sudah agak besar dari terakhir dilihat. "Sudah lebih besar sayang." Ucap Abi mendongak menatap Thika dengan tangannya yang mengelus kedua perbukitan tersebut.


Karena sudah tergiur dengan cepat Abi menyambarnya mengulu* pucuk bukit Thika dengan lahapnya. Bahkan tangan Abi sudah memil*n dan memainkan bukit yang lainnya. Seketika Thika merasakan sedikit sensasi aneh yang mengalir ke sekujur tubuhnya.


Erang*n dan desa*an sudah memenuhi kamar yang dihuni oleh dua pasang manusia yang sedang memadu kasih.


Baru saja Abi akan membuka celananya, tiba-tiba Thika sedikit berteriak. "Ah! Aduh! Perutku agak sakit." Ucapnya.


"Ada apa?" Ucap Abi khawatir.


Buru-buru Thika melihat ke arah bawahnya, bisa dilihat cairan merah sudah membasahi gaun tidurnya. "Sepertinya aku sedang kedatangan tamu." Ucap Thika dengan cengar-cengir kuda.


Abi yang mendengarnya menghela nafasnya yang terasa berat, lalu meraup wajahnya kasar. Otaknya sekarang terasa pusing karena suatu hasrat yang tak tersalurkan.


Thika langsung mengambil bajunya yang berserakan di lantai lalu menuju walk in closet. Sementara Abi hanya duduk di sisi ranjang.


"Ah sepertinya aku harus main solo." Gumamnya memegang pelipisnya.


Bersambung…..

__ADS_1


__ADS_2